Program Pendidikan ASN Bidang Pariwisata di Poltekpar akan Dukung Pengembangan Pariwisata NTB

RAKOR: Rakor kepariwisataan NTB sekaligus MoU untuk program pendidikan ASN bidang pariwisata yang akan segera dibuka oleh Poltekpar Lombok. (sigit setyo/radarlombok.co.id)

MATARAM-Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM), jauh hari telah mempersiapkan program pendidikan untuk aparatur sipil negara (ASN) bidang kepariwisataan di enam Perguruan Tinggi Negeri Pariwisata (PTNP) dibawah naungan Kemenparekraf.

Program pendidikan ASN bidang kepariwisataan dimaksud, yakni membuka kelas dengan para calon mahasiswa berasal dari para aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) yang diutus pemerintah daerah untuk tugas belajar bidang kepariwisataan di PTNP.

“Jauh hari pihak Kemenparekraf, dalam hal ini PPSDM telah mempersiapkan berbagai persyaratan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program ini. Mulai dari kurikulumnya, pembiayaan, dan lain sebagainya,” kata Kepala PPSDM Kemenparekraf, Dr Anggara Hayun Anupraja, pada sesi diskusi saat Rakor Kepariwisataan yang digelar Poltekpar Lombok, berkolaborasi dengan Pemprov NTB, Jumat (19/3/2021).

Dalam diskusi yang dipandu oleh Pudir I Poltekpar Lombok, Dr Farid Said, M.Pd, juga terungkap bahwa pihak PPSDM Kemenparekraf, sebelumnya juga telah melakukan pertemuan dengan seluruh (enam) pimpinan PTNP yang akan melaksanakan program pendidikan ASN bidang kepariwisataan ini.

Termasuk melakukan audiensi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). “Harapannya, tahun 2021 ini sudah ada PTNP yang menyelenggarakan program. Dalam hal ini Poltekpar Negeri Lombok yang diharapkan sudah bisa memulai,” harap Anggara.

Tentu saja Poltekpar Lombok tidak bisa sendiri, namun butuh dukungan dari pemerintah daerah, baik Pemprov NTB, maupun Pemkab dan Pemkot seluruh NTB. “Karena itu, Rakor Kepariwisataan kali ini, yang pada akhir kegiatan juga akan dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU), antara Poltekpar Lombok dengan masing-masing perwakilan dari pemerintah daerah, tentu akan mempercepat terealisasinya program ini,” harap Anggara.

“Untuk awal, paling tidak masing-masing pemerintah daerah bisa mengutus tiga ASN atau PNS-nya untuk tugas belajar di Poltekpar. Sehingga ke depan dihasilkan lulusan yang berkualifikasi di bidang kepariwisataan, yang pada akhirnya dapat mengembangkan berbagai potensi wisata di daerahnya masing-masing,” sambung Anggara.

BACA JUGA :  Syukuri Hasil Panen, Warga Batu Kumbung Gelar Tradisi Roah Gubuk

Sementara Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL Moh Faozal, menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya, Poltekpar Lombok segera membuka kelas untuk ASN bidang kepariwisataan.

Menurut Faozal, dimasa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah, dalam hal ini dinas pariwisata baik provinsi maupun kabupaten/kota di NTB. Karena itu, dibutuhkan SDM pariwisata yang berkualifikasi untuk mengembangkan sektor kepariwisataan NTB dengan paradigma baru.

“Saya pernah berdiskusi dengan orang-orang yang mengetahui persoalan Covid-19 ini. Sampai kapan pandemi ini akan berlangsung? Namun ternyata tidak ada satu pun yang bisa memberikan jawaban. Artinya, untuk pengembangan pariwisata tidak mungkin menunggu sampai pandemi selesai. Tetapi harus adaptif atau menyesuaikan, dengan berbagai syarat tertentu yang sesuai dengan protokol kesehatan atau CHSE,” jelas Faozal.

Faozal juga memaparkan berbagai program unggulan pariwisata NTB, yang salah satunya adalah telah ditetapkannya 99 desa wisata melalui surat keputusan (SK) Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, SE, M.Sc, yang akan diwujudkan selama lima tahun kepemimpinannya, hingga tahun 2023.

“Dari 99 desa wisata ini, Pemprov NTB telah melakukan intervensi kepada 58 desa wisata yang tersebar di berbagai daerah di NTB, yakni tahun 2019 ada 23 desa wisata, 2020 sebanyak 19 desa wisata, dan tahun 2021 ini ada 16 desa wisata,” jelas Faozal.

Sementara pemerintah pusat melalui dana alokasi khusus (DAK), juga turut melakukan penguatan dari sisi infrastruktur maupun kelembagaan desa wisata. “Kami fokus pada penguatan fisik dan layanan-layanan umum desa wisata. Seperti pembangunan toilet, infrastruktur Tourism Information Centre (TIC), jalan lingkungan, jalan sepeda dan lainnya,” terang mantan Kabag Humas Pemprov NTB ini.

BACA JUGA :  Perombakan Struktur BPPD NTB Murni Inisiatif Dinas Pariwisata

Disebutkan Faozal, saat ini sudah ada beberapa desa wisata di pulau Lombok yang telah berhasil, sehingga dijadikan sebagai pilot project. Diantaranya Desa Wisata Setanggor, Bilebante, dan Bonjeruk, di Kabupaten Lombok Tengah. Kemudian Desa Wisata Kembang Kuning di Kabupaten Lombok Timur, Desa Wisata Kerujuk di Kabupaten Lombok Utara, Desa Wisata Sekawan Sejati di Lombok Barat, dan lainnya.

Kesempatan itu, Faozal juga memperkenalkan Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB yang baru, Ari Garmono dan jajaran, yang nantinya akan membantu pemerintah untuk mempromosikan berbagai potensi wisata yang ada di NTB, tak terkecuali desa wisata.

“Terima kasih Pak Kadispar NTB, telah memperkenalkan kami pengurus BPPD NTB. Memang benar, ditengah pandemi Covid-19 seperti sekarang. Suka atau tidak, dibutuhkan konsep pemasaran yang adaptif, namun tetap dengan mematuhi protokol kesehatan atau CHSE,” kata Ari Garmono.

Terkait upaya promosi sambung Ari Garmono, karena masih masa pandemi, maka pihak BPPD NTB akan fokus menggarap potensi pasar wisatawan domestik, dan juga lokal. “Untuk jangka pendek, ada tiga program BPPD NTB yang akan kami gelar dalam waktu dekat, yaitu untuk brand akan kami gelar lomba desain logo tagline “NTB The Endless Journey”,” ucapnya.

Selanjutnya BPPD NTB juga akan menggelar lomba video pendek destinasi selain KEK Mandalika dan Gili Matra. Terakhir BPPD NTB akan melaksanakan even lomba foto destinasi selain KEK Mandalika dan Gili Matra.

“Mengapa lomba video dan foto destinasi yang digelar, sasarannya selain KEK Mandalika dan Gili Matra? Itu karena ke dua destinasi ini sudah sangat populer. Sehingga ada kesempatan untuk berbagai destinasi lain selain KEK Mandalika dan Gili Matra, yang muncul dan terkenal untuk dikunjungi para wisatawan,” harap Ari Garmono. (gt)