Program Desa Seribu Sapi Tersendat

Lalu Iskandar (istimewa)

PRAYA – Program pengembangan seribu sapi untuk lima desa di Kecamatan Pujut, ternyata belum bisa berjalan maksimal.

Kementerian Pertanian (Kemantan) RI belum menyalurkan sepenuhnya bantuan tersebut karena beberapa kendala. Meski tujuan awalnya, program seribu sapi ini dihajatkan untuk mendukung pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Lombok Tengah, Lalu Iskandar menyatakan, kementerian belum bisa memenuhi kewajibannya untuk menyalurkan seribu sapi di lima desa Kecamatan Pujut ini. ‘’Yang baru disalurkan cuma 199 ekor. Jumlah ini sudah dibagi per kelompok. Ada yang mendapatkan 50 ekor per kelompok dan ada yang mendapatkan 4 ekor per kelompok,’’ beber Lalu Iskandar.

Iskandar mengaku, dinas tidak tinggal diam dengan persoalan ini. Distanak sudah bersurat ke Kementan agar program seribu sapi segera teralisasi sesuai yang telah dijanjikan. “Kalau kita lihat, kendala sapi ini dari spesifikasinya. Ukuran berat badan sudah ditentukan dan umurnya harus 18-24 bulan hingga lingkar dada juga sudah ada ketentuan. Untuk mendapatkan sapi yang seperti itu tidak gampang dan inilah yang menjadi kesulitan dari pihak penyedia,” terangnya.

Iskandar menegaskan, sapi ini juga didatangkan dari luar maka tentu dibutuhkan kajian. Karena pihak dinas menilai jika sapi yang didatangkan dari luar Lombok, maka pihaknya tidak yakin sapi ini terbebas dari penyakit. “Kita khawatir dapat seribu sapi tapi sapi yang lainnya nanti akan mati. Makanya kita berpikir kalau sapi didatangkan dari luar,” terangnya.

Kemudian dalam konsep pemberdayaan masyarakat, maka akan sangat bagus jika sapi ini dibeli dari masyarakat lokal atau peternak di Lombok. Di satu sisi, nantinya sapi ini akan mampu mengatasi ketersediaan daging. “Dengan program desa seribu sapi ini kita harapkan ke depan bisa memenuhi kebutuhan daging hotel dan restoran,’’ kata dia.
Iskandar juga mengulas, program seribu sapi ini awalnya diusulkan untuk disebar di tujuh kecamatan potensial. Tapi dalam perjalanannya berubah menjadi lima kecamatan. Adapun lima kecamatan yang diusulkan, yakni Kecamatan Pujut, Praya, Praya Tengah, Praya Timur, dan Pringgarata. Setelah diajukan ke kementerian, kemudian dilakukan survei.

Nah, dari hasil survei kementerian itu menentukan bahwa penempatan program itu dilaksanakan di satu kecamatan saja, yakni Kecamatan Pujut. Dalam satu kecamatan itu kemudian dibagi untuk lima desa lagi. Yakni, Desa Bangket Parak, Desa Teruwai, Desa Pengengat, Desa Mertak, dan Desa Sukadana. ‘’Yang melakukan verifikasi itu Dirjen Pakan Kementan RI. Mereka yang menentukan apakah kecamatan yang diusulkan ini layak secara teknis dan pertimbangan secara potensial jika Pujut sangat didukung dengan ketersediaan pakan ternak. Salah satu contoh dalam pengembangan pakan mereka sudah membuat sumur bor dan ada sistem pengairan dan di samping mereka menanam rumput,” terangnya. (met)