Produksi Kebaya dan Gamis Tembus Pasar Asia

INOVASI:Nikmatus Solehah memperlihatkan pakaian rancangannya dari bahan songket belum lama ini . Hasil karyanya diminati pasar bahkan sudah merambah sejumlah negara (Lukmanul Hakim/Radar Lombok)

Kerajinan kain tenun khas lokal Provinsi Nusa Tenggara Barat mulai merambah pasar di sejumlah negara di Asia. Kain tenun produksi perajin Lombok, Sumbawa dan Bima yang menjadi bahan baku, baju, dan gamis  ini mulai dilirik oleh konsumenn baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

 

 


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


 

Baju gamis berbahan baku dari kain tenun Lombok dan Bima yang dikombinasikan menjadi pakaian dengan tampil menarik dibalut perpaduan warna, menjadi daya pikat tersendiri baju gamis karya Nikmatus Sholehah asal Rembiga, Kecamatan Selaparang Kota Mataram ini.

Sejak tahun 2016 bulan Maret, Nikmatus Solehah mulai membuat baju gamis berbahan baku tenun songket kombinasi songket lombok dan Bima. Nikmatus Solehah langsung menjadi desainer berbagai mode dan juga sebagai penjahit.

Berbekal ilmu menjahit yang pernah didapatinya ketika masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), ibu rumah tangga dengan dua orang anak ini, tidak mengalami kesulitan saat mendesain sekaligus langsung sebagai penjahit dari baju gamis yang diproduksinya.

Dengan keunikan dan tampilan elegan dan menarik bagi penggunanya dalam hal ini kaum hawa, membuat Solehah tak begitu kesulitan untuk memasarkan hasil karyanya. Permintaan dari berbagai daerah baik itu dalam Provinsi NTB, sejumlah daerah di Pulau Jawa hingga ke beberapa negara di Asia juga tertarik dengan hasil karyanya itu. "Untuk pakaian gamis tenun songket, selain dijual secara terbuka, juga banyak menerima pesanan sesuai dengan mode yang diminta," kata perempuan kelahiran 12 September 1979 ini Sabtu lalu (22/10).

Nikmatus Solehah menjual hasil karyanya dari harga Rp 400 ribu hingga Rp 1,2 juta tergantung kualitas bahan baku dan tingkat kesulitan mendesain serta menjahitnya. Meski harga relatif lebih mahal, namun penjualan tetap lancar. Karena. Konsumen melihat kualitas serta nilai seninya.  "Produk baju gamis dan lainnya yang berbahan baku tenun songket Lombok dan Bima sudah lumayan banyak terjual hingga di Singapura, Taiwan dan Malaysia," terang Nikmatus Solehah.

Keberhasilan Nikmatus Solehah mengangkat kain tenun songket Lombok dan Bima dalam bentuk pakaian jadi dilaluinya tidak begitu mudah. Jauh sebelumnya pada tahun 2013, ibu rumah tangga ini menekuni jualan pakain yang didatangkan dari Pulau Jawa.

Ia menjual berbagai macam pakaian sesuai dengan pesanan dari konsumennya yang di datangkan dari Bandung dan  Surabaya seperti seprei, bed cover dan juga pakaian. Selama menjual pakaian, Nikmatus Solehah kemudian berpikir untuk membuat sendiri pakaian yang selama ini dijual kepada pelanggannya. Terlebih lagi, dia melihat pakaian muslim berbahan baku dari tenun songket Lombok dan Bima selain memiliki khas daerah juga terdapat corak dan motif yang sangat mendukung untuk dibentuk dalam pakaian yang dikombinasikan sesuai dengan trend modern kekinian.  "Selain gamis, saya juga membuat kebaya berbahan baku tenun songket khas NTB," ucapnya.(*)