Produksi Jagung NTB Ditargetkan Tembus 2,084 Juta Ton

Ilustrasi Petani Jagung
Ilustrasi Petani Jagung

MATARAM – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) semakin optimis menjadi produksi lumbung jagung nasional. Pasalnya, petani semakin semangat dan termotivasi untuk menanam jagung, seiring harga jual yang kian membaik. Terlebih lagi dengan adanya aturan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk jagung, menjadi tanaman utama bagi petani setelah padi.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Husnul Fauzi bahkan berani menargetkan produksi jagung di NTB pada tahun 2018 ini bisa tembus diangka 2.084 juta ton jagung kering pipil. “Luas areal tanam jagung terus bertambah, sehingga akan berdampak juga peningkatan jumlah produksi,” kata Husnul, Jum’at kemarin (26/1).

BACA JUGA :  BI Dorong Pengembangan Bawang Putih Sembalun

Dalam kurun lima tahun belakangan ini, luas areal tanam dan produksi jagung di Provinsi NTB kian melambung tinggi. Jika di tahun 2015 target produksi jagung sebanyak 777.237 ton, produksi mampu terealisasi sebanyak 959 ton kering pipil. Kemudian di tahun 2016, target produksi jagung sebanyak 1.101.243 ton, produksi mampu terealisasi sebanyak 1.278.271 ton atau tumbuh sebesar 133,16 persen dari produksi tahun 2015.

Begitu juga dengan di tahun 2017. Dimana realisasi produksi  jagung sebanyak 1.511.926 ton atau tumbuh sebesar 233,66 persen dari realisasi produksi jagung di tahun 2016.

Husnul mengatakan, di Provinsi NTB potensi lahan untuk pengembangan jagung  sebanyak 404.042 hektar. Dengan rincian musim hujan lahan kering sebanyak 177.977 hektar, musim kemarau (MK) 1 lahan sawah seluas 135.279 hektar dan musim kemarau II (MKII) lahan sawah seluas 90,786 hektar yang tersebar di 9 kabupaten/kota di Provinsi NTB.

Jika melihat luas areal tanam yang begitu besar, maka pada tahun 2018, Distanbun Provinsi NTB optimis mampu merealisasikan produksi tanaman jagung mencapai 2.084.936 ton kering pipil. Dengan sasaran produktivitas 67,61 kwintal/hektar dan luas areal tanam jagung sebanyak 317.302 hektar dan luas panen sebanyak 308.396 hektar.

Terlebih lagi, Provinsi NTB telah ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai salah satu provinsi lumbung pangan nasional. Potensi sumberdaya lahan pertanian yang cukup luas, baik berupa lahan sawah dan bukan sawah yaitu seluas 256.229 hektar.

Lebih lanjut Husnul mengatakan, bahwa luas baku lahan sawah di Provinsi NTB seluas 256.229 hektar. Diasumsikan luas pemanfaatannya adalah tiga kali luas lahan sawah baku yaitu sekitar 777.687 hektar, yang dimanfaatkan untuk penanaman padi dan palawija. Sehingga lahan sawah memiliki pemanfaatan yang sudah maksimum.

Fakta tersebut memberikan makna bahwa peluang penambahan areal jagung pada  lahan sawah sudah tidak memungkinkan lagi dan sebagai alternatifnya adalah melalui peningkatan pemanfaatan lahan bukan sawah.

BACA JUGA :  Mulai 1 November, Pajak Kendaraan Bermotor Naik

Seperti pengembangan jagung tahun 2017 seluas 400.000 hektar di Provinsi NTB, dikembangkan di lahan sawah seluas 215.553 hektar dan lahan bukan sawah seluas 185.000 hektar difokuskan di Pulau Sumbawa. Penambahan lahan jagung di Pulau Sumbawa tersebut berdasarkan asumsi bahwa Pulau Sumbawa memiliki potensi lahan bukan sawah yang cukup luas bila dibandingkan dengan Pulau Lombok yang terdistribusi di 5 kabupaten/Kota di Pulau Sumbawa yaitu Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Sumbawa, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima.

“Petani semakin semangat menanam jagung, karena harga jual semakin bagus bahkan lebih menjanjikan dari komoditas lainya. Makanya kami optimis target produksi 2,08 juta ton jagung di tahun 2018 akan bisa tercapai,” tutupnya. (luk)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut