Prihatin Penangkapan Aktivis

Ilustrasi Penangkapan Aktivis

JAKARTA–Peristiwa penangkapan para tokoh aktivis oleh pihak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang dilakukan pada hari Jumat pagi (2/12), dengan dugaan tindak pidana maker membuat sejumlah pihak prihatin.

  Para aktivis yang ditangkap adalah Sri Bintang Pamungkas, Ratna Sarumpaet, Rachmawati Soekarnoputro, Ahmad Dhani, Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen dengan total keseluruhan ada 10 orang aktivis.

Penangkapan ini dilakukan jelang Aksi Bela Islam Jilid III di Monas Jakarta, Jumat (2/12). Aksi tersebut memuat pesan menuntut agar penegak hukum segera menahan tersangka kasus pidana penistaan agama Islam yang dilakukan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok.

Terkait hal ini, beberapa komponen masyarakat pun angkat bicara. Di antaranya dari Dewan Pimpinan Pusat  Keluarga Besar Marhenis, menyampaikan Aksi Bela Islam (1,2,3) merupakan gerakan umat Islam terbesar sejak Indonesia Merdeka. Gerakan ini bersifat masif dan berskala nasional.

Melalui isu penistaan agama, umat Islam berhasil dikonsilidasikan dan didisiplinkan secara masif dan sistemik. Beruntung gerakan ini belum dijadikan gerakan politik, masih berada dalam koridor gerakan sosial. Tapi tidak menutup kemungkinan gerakan sosial ini berubah menjadi gerakan politik.

Itu berpotensi bisa meruntuhkan rezim Jokowi yang terpilih secara demokratis. Apabila, ada kesalahan  menangani dan kesalahan pemahaman  dalam  gerakan ini oleh aparatur keamanan dan oleh para pemangku kebijakan negara. Gerakan umat Islam jika dipandang secara sinis oleh kalangan tertentu atau oleh organisasi kemayarakatan atau bahkan oleh tokoh tertentu.

BACA JUGA :  Nurhayati, Mantan TKW yang jadi Aktivis Perempuan

Maka itu bisa berpotensi merubah bandul gerakan ini dari posisi gerakan sosial menuju gerakan politik. Apabila sudah menjadi gerakan politik maka hal ini berpotensi membahayakan rezim demokratis Jokowi. ”Seharusnya para tokoh politik, tokoh organisasi massa, ataupun tokoh masyarakat harus menahan diri untuk berkomentar apalagi menuduh gerakan bela Islam ini sebagai gerakan yang mengancam kebhinekaan,” ujar Fahrudin ketua umum DPP Keluarga Besar Marhenis, di Jakarta, kemarin.

Apalagi mengancam NKRI karena dengan komentar atau berpendapat seperti itu akan mempercepat perubahan dari gerakan sosial menjadi gerakan politik. Akan lebih bijak, bila para tokoh-tokoh tersebut ikut menjaga gerakan Bela Itetap pada track nya sebagai gerakan sosial.

Dengan menyerukan kepada pemerintah untuk melakukan perlakuan hukum yang sama kepada orang yang disangkakan penista agama, apapun pangkat dan jabatannya. " Alhamdulillah. Presiden melakukan langkah yang baik dengan melakukan salat Jumat bersama Aksi Bela Islam sehingga menjaga gerakan ini tetap pada koridor gerakan sosial,” ungkapnya.

Saat dimintai pendapatnya tentang penangkapan aktivis jelang aksi 2/12,ia sangat menyayangkan. Karena itu menodai aksi super damai. ”Sehingga berpotensi menggeser gerakan sosial menjadi gerakan politik. Ini akan menimbulkan persoalan lain yang  akan menguras energi positif bangsa" tandas Fachrudin. (wok)