PPKM Berlanjut, Pengusaha Semakin Terpuruk

RADAR LOMBOK SEPI PEMBELI: Pengusaha semakint terpuruk jika PPKM tetap berlanjut.(DEVI HANDAYANI /)

MATARAM – Pengusaha di NTB semakin terpuruk dengan berlanjutnya penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Terlebih Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan memastikan PPKM akan tetap terus berlaku selama pandemi Covid-19. NTB, khususnya Kota Mataram PPKM masih diperpanjang.

Jika melihat adanya kelonggaran diberikan meskipun ada PPKM, hal tersebut belum menggerakkan bisnis dan ekonomi. Karena melihat masyarakat masih enggan untuk datang ke satu tempat usaha lebih dari jam yang ditetapkan selama PPKM dilonggarkan.

“Kalau PPKM kita lihat terus diperpanjang apakah pemerintah tahu PPKM ini akan mematikan semuanya dan memang itu terjadi. Sampai dengan hari ini geliat perekonomian belum lancar-lancar sekali,” kata Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Provinsi NTB Hj Baiq Diah Ratu Ganefi, Selasa (24/8).

BACA JUGA :  Penjualan Rumah Komersil Mulai Meningkat

Banyak sekali pengusaha yang tertatih-tatih. Seharusnya pemerintah tidak perlu khawatir dengan PPKM diperpanjang terus. Jikapun diperpanjang, maka harus ada solusinya, sementara ini tidak ada solusinya. Sehingga masyarakat berjuang sendiri-sendiri untuk hidup.

“Negara itu belum hadir ketika PPKM itu diperpanjang, perpanjang terus,” katanya.

Menurutnya, PPKM semakin berlanjut para pengusaha sudah pelan-pelan sudah tidak berusaha lagi. Kalaupun masih bertahan karena masih ada dana simpanan, tetapi jika lama-lama terus seperti ini akan susah bertahan. Padahal, vaksin sudah mulai banyak dimana-mana, bahkan masyarakat sudah menyadari harus vaksin untuk menekan Covid.

“Mau PPKM dihapus atau tidak, kita ini kan sudah bersahabat dengan corona. Kita menaati protokol kesehatan, saya rasa PPKM ini sudah tidak menarik lagi. PPKM ini sudahlah jangan diperpanjang,” jelasnya.

BACA JUGA :  Pengusaha Mulai Kibarkan Bendera Putih

Terpisah, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) kota Mataram, Ricky Hartono mengatakan, PPKM berlanjut tentu masih menjadi dampak bagi pelaku usaha. Terutama pada sektor pariwisata, tetapi sektor lainnya terdampak untuk offline sedangkan online tetap jalan. Hal tersebut menjadi harapan bagi pengusaha di luar sektor pariwisata.

“Sekarang kesehatan dan ekonomi berdampingan, jadi mau tidak mau harus tetap jalan. Seperti di Australia itu mereka sudah hidup berdampingan dengan covid-19,” ujarnya.

PPKM meskipun dilonggarkan oleh pemerintah namun kondisi tersebut masih banyak masyarakat belum memahami. Bahkan sebagian diantaranya takut untuk berakitivitas di malam hari di atas jam 8 malam.

“Mau PPKM level 4 atau 3, usaha masih tetap sepi. Ya sebaiknya dicabut saja PPKM, lebih baik perketat protokol kesehatan,” terangnya. (dev)