Positif Covid-19 NTB Bertambah Empat Lagi

Positif Covid-19 NTB Bertambah Empat Lagi

DATA UPDATE CORONA (GUGUS TUGAS FOR RADAR LOMBOK)
DATA UPDATE CORONA (GUGUS TUGAS FOR RADAR LOMBOK)

MATARAM—Masyarakat NTB sangat mengharapkan tidak ada lagi tambahan kasus positif Covid-19. Pasalnya, sejak NTB bisa melakukan tes corona sendiri, nyrais setiap hari jumlah pasien yang dinyatakan positif, terus bertambah.

Harapan tersebut terjawab mulai sejak hari Senin lalu (13/4), Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Provinsi mengumumkan tidak ada tambahan kasus positif covid-19 di NTB. Namun pada hari Selasa kemarin (14/4), kasus positif Covid-19 di NTB bertambah empat lagi, sehingga jumlahnya kini menjadi 41 orang.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr Nurhandini Eka Dewi, tidak adanya penambahan kasus positif covid-19 pada hari Senin lalu, bukan berarti NTB sudah mulai lebih aman. Namun hal itu disebabkan karena memang tidak ada swab yang diperiksa atau di tes hari itu. “RSUP kemarin maintenance (pemeliharaan, red) alat,” jelasnya kepada Radar Lombok, Selasa sore (14/4).

Saat ini, tes swab pasien dalam pengawasan (PDP) hanya dilakukan di laboratorium RSUP NTB saja. Artinya, tidak ada swab yang dikirim ke luar daerah seperti sebelum-sebelumnya.

Adanya kegiatan maintenance alat di RSUP NTB, membuat tes corona diistirahatkan untuk sementara waktu. Sementara laboratorium rumah sakit Universitas Mataram (Unram) yang juga sudah mendapatkan izin tes swab oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga saat ini belum bisa dimanfaatkan.

Diungkapkan Eka, rumah sakit Unram memang pernah menyampaikan akan mulai beroperasi hari Senin (13/4). Namun, sejauh ini belum dilakukan untuk pasien yang diduga Covid-19. “Rumah sakit Unram baru uji coba internal,” ungkap Nurhandini Eka Dewi.

Namun ketika RSUP NTB telah kembali melakukan tes swab pasien, Selasa kemarin (14/4). Hasilnya ada sebanyak 4 orang yang kembali dinyatakan positif Covid-19. Semuanya terkait dengan warga yang pernah pergi ke Gowa, Sulawesi Selatan, atau kluster Gowa.

Ke empat warga yang positif Covid-19, yakni pasien nomor 38 berinisal H, dari Lingkungan Kebon Roek,
Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Pasien tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah
terjangkit Covid-19, namun sempat kontak erat dengan salah seorang warga yang pernah ke Gowa.

Selanjutnya pasien nomor 39, seorang perempuan inisial SM, dari Desa Dasan Griya, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. SM juga tidak pernah melakukan perjalanan ke daerah terjangkit Covid-19. Namun pernah kontak erat dengan pasien positif Covid-19 nomor 19.

Kemudian pasien nomor 40 inisial AS dari Desa Dasan Tereng, Narmada, Lombok Barat. AS juga memiliki riwayat ke luar daerah. Berikutnya pasien nomor 41, seorang perempuan inisial Z, dari Kecamatan Mpunda, Kota Bima. Pasien Z merupakan orang pertama yang dinyatakan positif covid-19 dari Kota Bima.

Penyebab utama Z positif corona, karena pernah kontak erat dengan salah seorang warga yang pernah ke luar daerah, meskipun hingga kini belum positif. Namun hasil rapid test teman kontak Z ini menunjukkan kalau hasilnya reaktif.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Pemprov saat ini, melakukan pengawas terhadap warga yang datang dari daerah atau negara terjangkit Covid-19. Pasalnya, jumlah orang NTB yang pulang kampung cukup banyak. Apalagi sebentar lagi memasuki bulan suci Ramadhan dan Lebaran.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi NTB, H Lalu Bayu Windia mengungkapkan, jumlah orang yang masuk ke wilayah NTB dari luar daerah maupun luar negeri cukup banyak. Dalam seminggu saja, angkanya bisa mencapai ribuan orang.

Data yang dimiliki Bayu untuk kedatangan tanggal 1 hingga 8 April saja, jumlahnya mencapai 4.471 orang. “Itu dari jumlah orang datang yang mengisi HAC (Health Alert Card, red) saja,” ucapnya.

Pada bulan April di tengah ancaman corona ini, mayoritas orang yang datang ke NTB melalui Bandara Internasional Lombok (BIL), Pelabuhan Lembar, dan lain-lain. “Ternyata yang datang ke NTB di musim pandemi ini warga NTB yang nota bene santri, pelajar, mahasiswa, dan pekerja migran. Ini soal kemanusiaan, di rantau mereka terbatas. Pilihan mereka mending pulang,” katanya.

Sementara itu, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, akan menuntaskan tracking (penelusuran) lanjutan seluruh klaster di tiap kecamatan di Kota Mataram. Sebagai awal, pemerintah akan fokus menangani klaster Gowa yang pulang ke Mataram, setelah sebelumnya warga mengikuti ijtima’ ulama dunia di Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Gugus tugas akan turun melaksanakan rapid tes dimasing-masing kecamatan. “Kita sudah putuskan untuk dilakukan tracking dimulai besok (hari ini). Kita mulai dengan klaster Gowa,” ujar Asisten I Setda Kota Mataram, Lalu Martawang, usai rapat Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Ruang Kenari Kantor Wali Kota Mataram, Selasa kemarin (14/4).

Jadwal rapid tes dimasing-masing kecamatan untuk klaster Gowa sudah disiapkan. Mulai hari Rabu di Kecamatan Ampenan, kemudian hari Kamis di Kecamatan Sekarbela, selanjutnya hari Jumat di Kecamatan Mataram. Berlanjut hari Sabtu di Kecamatan Selaparang, lalu hari Senin di Kecamatan Cakranegara, dan terakhir hari Selasa di Kecamatan Sandubaya. “Itu jadwal yang sudah kita tetapkan,” ungkapnya.

Meski jadwalnya sudah terdata, bukan berarti di kecamatan belum melakukan aksi secara mandiri. “Tapi kami punya jadwal yang terpadu. Di luar jadwal yang kami tetapkan, tracking berjalan terus,” imbuhnya.

Kemudian jika rapid tes hasilnya reaktif, maka petugas melanjutkan dengan melaksanakan swab. Gugus tugas juga menyiapkan kendaraan untuk mengangkut warga yang hasil tesnya reaktif. “Nanti dibawa ke Wisma Nusantara sambil menunggu hasil swab keluar. Kemudian mereka juga akan diberikan surat keterangan. Itu hanya diberikan oleh dua tandatangan, yakni dari Direktur RSUD dan Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram. Kapasitasnya sebagai gugus tugas covid-19,” terangnya.

Dari pendataan yang sudah dilakukan, warga yang terdata ikut kegiatan ijtima’ ulama dunia di Gowa berjumlah 60 orang. Mereka nantinya akan ditunggu di masing-masing Puskesmas setempat. Warga diminta untuk datang ke Puskesmas. Jika tidak, maka petugas akan menjemput dirumah masing-masing.

“Kan sudah ada petugas dari Kodim dan Polresta Mataram. Tentu tidak perlu saya ceritakan caranya seperti apa. Tapi saya pastikan semuanya harus akomodatif. Karena ini bukan diri kita, tapi tentang keberlangsunggan hidup kita. Janganlah menjadi carier yang dapat menularkan. Mungkin dia tidak ada gejala. Kita ingin kehidupan ini terus berlanjut. Caranya adalah dengan akomodatif melalui skema yang dibuat pemerintah,” pintanya.

Sementara itu, Direktur RSUD Kota Mataram, dr HL Herman Mahaputra mengatakan, rapid tes untuk klaster Gowa dilaksanakan dimasing-masing Puskesmas. “Ini rapid tes yang khusus Gowa. Ada 60 orang yang ada di Kota Mataram. Kita mulai dari Ampenan dulu. Karena Ampenan yang terbanyak,” jelasnya.

Jika memang tidak dating, maka tracking dan rapid tes bisa dilakukan di kemudian hari. “Kalau tidak ada tetap kita tunggu. Kan nanti Kepala Lingkungan yang akan mengabarkan. Tetap ada koordinasi antara kelurahan, rumah sakit dan dinas kesehatan,” pungkasnya. (zwr/gal)