Porter dan Pemandu Keluhkan Pembatasan Kuota Pendakian

MASIH SEPI : Para porter dan guide Sembalun ketika mengantar wisatawan yang melakukan pendakian Rinjani beberapa waktu lalu. Mereka mengelukan pembatasan kuota pendakian oleh TNGR. (Ist for Radar Lombok)

SELONG – Para porter dan pemandu (guide) di Sembalun mengeluhkan pembatasan kuota wisatawan yang akan mendaki Gunung Rinjani. Pasca gempa 2018 yang kemdian dilanjutkan dengan bencana non alam Covid-19, penghasilan para porter dan guide turun drastis. Banyak yang terpaksa menganggur karena aktivitas pendakian ditutup dalam waktu yang cukup lama.

Meski aktivitas pendakian telah mulai dibuka, namun penghasilan yang mereka dapat  masih jauh dari yang diharapkan. Di sisi lain mereka sangat menggantungkan hidup dari profesi ini.”Sejak gempa sampai sekarang  masih jarang ada yang gunakan jasa kami. Bahkan saya sendiri baru sekarang kembali bisa naik ke Rinjani,” kata Aziz, pemandu pendakian Rinjani, kemarin (11/10).

Dengan diberlakukannya kouta 45 per hari khusus di pintu masuk jalur Sembalun, bagi mereka tidak memberikan dampak yang signifikan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Sembalun khususnya yang bergerak di bidang jasa pariwisata.” Kalau begini terus, tiga bulan kedepan dapur kami bisa-bisa tidak mengepul lagi. Apa lagi pada saat pandemi ini, sementara tidak ada pekerjaan lain yang kami andalan,”  keluhnya. 

Hal yang sama disampaikan, Musliadi, yang berprofesi sebagai porter. Dia menyampaikan sejak di-launchingnya kembali pendakian Rinjani tiga bulan lalu , baru tiga kali ia mengantar wisatawan. Dimana sebelumnya dalam seminggu empat hingga enam kali ia maupun porter lainnya mengantar wisatawan, bahkan ada beberapa Tour Organizer (TO) di Sembalaun yang mengontrak jasa mereka.” Kalau dulu tidak kurang 6 kali saya naik, ya tergantung fisik kita kalau kuat itu baru sehari kita di rumah naik lagi” katanya.

Di masa pandemi ini, lanjutnya, banyak porter yang tidak pernah naik sama sekali. Karena wisatawan mancanegara jarang yang naik ke Rinjani terlebih koutanya dibatasi oleh pihak TNGR.” Meskipun kelihatannya tiap hari ada wisatawan yang naik ke Rinjani namun itu semua wisatawan lokal yang jarang menggunakan jasa porter,” ungkapnya. 

Untuk itu ia bersama rekan-rekannya meminta agar kuota pendakian Rinjani ditambah supaya bisa menambah penghasilan mereka. Meski pendapatan porter naik menjadi Rp 250 ribu perhari dari sebelumnya Rp 200 ribu, tapi itu tidak ada artinya jika jasa mereka jarang dipakai.” Mana cukup kita bisa untuk memenuhi kebutuhan,” imbuhnya.

Untuk memulihkan kembali perekonomian mereka, tentunya dibutuhkan kebijakan yang tepat dari pemangku kebijakan dalam hal ini TNGTR. Paling tidak mereka bisa sama seperti sebelumnya. “Paling tidak kouta yang 45 orang per hari saat ini naik menjadi 100 atau 200 orang per hari, tentunya itu semua dikondisikan dengan masa pandemi ini,” pintanya.(lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid
Berita sebelumyaAnggota Asita 71 Terancam Dipecat
Berita berikutnyaPuluhan Miliar Proyek Nontender Nganggur