Portal Parkir RSUD Tripat Halangi Ambulans Masuk

RSUD Tripat
RSUD : Antrean parkir di pintu keluar RSUD Tripat. (ZUL/RADARLOMBOK)

GIRI MENANG – RSUD Patut Patuh Patju mulai bekerja sama dengan perusaan pengelola parkir Sigma. Di pintu masuk terpasang dua mesin parkir yang mengeluarkan tiket. Satu untuk sepeda motor dan satu lagi untuk mobil.

Untuk masuk tinggal pencet tombol dan keluarlah tiket, baru kemudian portal terbuka. Nanti saat akan keluar melalui pintu keluar baru membayar Rp 2.000,- untuk motor dan Rp 5000,- untuk mobil. Direktur RSUD Tripat, drg. Arbain Ishak mengatakan, parkir kerja sama dengan Sigma ini baru dimulai Rabu (3/2) dan kini masih diujicobakan.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana nanti ambulans bakal masuk, karena pintu masuk portal? Apakah pengemudi ambulans harus menekan tombol dahulu baru lewat. Sementara ambulans yang hendak menuju IGD butuh waktu cepat?

Terkait hal tersebut kata Arbain, memang waktu beberapa detik itu sangat penting bagi ambulans yang membawa pasien ke IGD. Sehingga waktu tidak boleh disia-siakan. Oleh karenanya apabila ada ambulans, petugas parkir harus bersiap-siap membuka portal. “Dari jauh misalnya ada bunyi ambulans, itu petugasnya harus siap-siap membuka portal,” terangnya.

Pantauan koran ini saat masuk, tampak tidak ada petugas di sekitar mesin. Petugas tampak ada di mesin keluar. Selain itu ada beberapa petugas parkir tak berseragam di tempat parkir. Petugas parkir ini merupakan petugas parkir lama yang direkrut Sigma. “Memang rencananya ke depan akan dibuatkan seragam oleh Sigma, biar ditahu mana petugas dan tidak,” terangnya.

RSUD Kota Mataram sendiri bekerja sama dengan pihak ketiga mengelola parkir. Sama, ada mesin portalnya. Tetapi mesin portal tersebut dipasang di pintu masuk parkir. Sementara jalan menuju IGD tak terpasang sehingga memudahkan ambulans untuk keluar masuk dalam kondisi darurat.

Diakui Arbain, dalam uji coba ini, masih ada beberapa kendala. Di antaranya parkir karyawan RSUD yang seharusnya tidak dipungut. Saat uji coba pertama, terpaksa sekuriti yang berdiri di mesin keluar. Sekuriti bertugas mengidentifikasi mana karyawan RSUD dan tidak. Tetapi mungkin ke depan akan didata pelat nomor kendaraan karyawan. Sehingga begitu keluar tidak perlu membayar.

Lebih lanjut dikatakan, sebenarnya dia ingin menunda kerja sama ini. Karena tepat di sebelah timur RSUD dekat mesin keluar akan dibangun IGD baru dengan pagu Rp 25 miliar. Karena apabila ada pembangunan, karyawan yang biasanya parkir di belakang tidak bisa lagi, dan terpaksa ke depan, di tempat pengunjung. Namun pihak Sigma tidak mempermasalahkan dan tetap melanjutkan kerja sama. “Ya kita terima, dengan catatan tidak membuat kita terganggu dan kita tidak mengeluarkan apa-apa. Kemudian kalau ada kendaraan hilang, mereka yang tanggung jawab. Selama ini kan kalau ada kendaraan hilang, kita diminta tanggung jawab. Sementara uangnya tidak ada ke kita (RSUD). Semua dikelola Dinas Perhubungan,” jelasnya.

Berkaitan dengan berapa pembagian untung parkir antara Sigma dan Pemkab Lobar sendiri, Arbain mengaku tidak tahu. Karena dirinya hanya bekerja sama terkait penggunaan lahan. Mungkin bisa ditanyakan di Dinas Perhubungan. “Kita hanya soal penggunaan lahan,” jelasnya.

Kepala Dinas Perhubungan Lobar, H. Akhmad Saikhu sendiri mengaku tidak tahu teknis pembagiannya. Karena itu termasuk pajak parkir yang disetor langsung ke Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lobar. “Mulai Januari 2018, Dishub sudah tidak kelola,” terangnya. (zul)