Pondasi RTG Bermasalah, Aplikator Diprotes

RTG
PROTES: Satriadi menunjukkan rumahnya yang tak kunjung dituntaskan. (HERY MAHARDIKA/RADAR LOMBOK)

TANJUNG — Satriadi Warga Dusun Batu Ampar, Desa Sokong, Kecamatan Tanjung memprotes aplikator yang mengerjakan rumahnya. Pasalnya, pembangunan pondasi rumah konvensional tahan gempa itu bermasalah.

“Pengerjaan (rumah saya) dua hari sebelum Idul Fitri tapi hari Kamis sebelum Lebaran Topat, ada lubang di bawah tiang, karena tiang (goyang) mau roboh ke arah bangunan makanya sekalian saya robohkan,” ungkap Anggota Kelompok Masyarakat (Pokmas) Rinjani ini, Minggu (16/6) kemarin.

Pihaknya kata dia bukan satu-satunya orang yang merasakan bahwa bangunan yang dikerjakan oleh aplikator asal Jawa itu diduga tidak sesuai spesifikasi. Kejadian ini sudah dilaporkan ke Ketua Pokmas. Kemudian ke pihak desa dan kecamatan. Tim pengawas pembangunan rumah tahan gempa (RTG) desa lalu meninjau.

BACA JUGA: Korban Gempa Lotim Masih Banyak Tinggal di Huntara

Tim kemudian merekomendasikan lima sampai enam titik pondasi rumah mesti dibongkar dan dibangun ulang. “Saya juga sudah komunikasi dengan aplikator katanya semua ini akan diganti tapi sampai sekarang belum dikerjakan. Ya kalau menurut saya pribadi setelah (pondasi) sudah jadi, saya akan putus kontrak,” bebernya.

Sementara itu, Kepala Dusun Batu Ampar Roni Paslah menjelaskan, pihak aplikator sebelum setuju dengan pokmas, sudah menjanjikan bahwa warga akan menerima kunci per 2 Juni. Artinya rumah sudah jadi dan bisa ditempati. Namun nyatanya, progres pembangunan justru jauh dari harapan.

Pihak aplikator sendiri telah dapat mencairkan uang kurang lebih senilai Rp 450 juta. “Kemarin dijanjikan kalau material yang dibeli dari Surabaya sudah datang dan sekarang ada di Lembar. Tapi sampai detik ini belum juga dikirim ke Sokong. Pokmas Rinjani anggotanya 18 orang tapi yang dikerjakan aplikator ini hanya 16. Karena dua rumah lain memilih pakai tukang lokal. Saya sudah curiga pada saat aplikator ini malah memihakketigakan lagi pengerjaan rumah warga. Tapi harapan saya semoga ada tanggung jawab,” imbuhnya.

BACA JUGA: 35.782 KK Korban Gempa belum Terima Dana

Secara terpisah, Korwil Fasilitator KLU, Ziyad yang dikonfirmasi mengatakan belum mengetahui pasti perkara yang terjadi di Dusun Batu Ampar. Namun dirinya mengakui bahwa persoalan serupa juga terjadi di sejumlah lokasi lainnya. Khusus persoalan di Batu Ampar, dalam waktu dekat pihaknya akan turun ke lokasi mengecek persoalan. “Kita juga tanda tanya kenapa pokmas tidak putus kontrak kalau sudah begitu. Kami akan cek TKP dan harus dikumpulkan pokmas serta anggota,” ucapnya. (flo)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid