Polres Minta Keterangan Dirut RSUD Tanjung

IDENTIFIKASI: Anggota Polres Lombok Barat saat melakukan identifikasi limbah medis RSUD Tanjung, yang dibuang sembarangan ZUL/RADARLOMBOK

TANJUNG-Polres Lombok Barat (Lobar) mengagendakan permintaan keterangan sejumlah pejabat dan pegawai RSUD Tanjung, berkaitan dengan penemuan sejumlah limbah medis yang dibuang sembarangan di sekitaran RSUD Tanjung oleh Polres Lobar, Selasa (30/8). “Kemarin (31/8) sudah dipanggil juga Kepala Seksi Penunjang, dan pada hari ini (1/9) dipanggil pula koordinator (sarana dan prasarana), tukang kebun, cs (cleaning service) dan orang yang biasa di bagian insenerator (pembakar limbah medis), ikut dipanggil, untuk dimintai keterangan,” ungkap Direktur RSUD Tanjung, dr. Lalu Bahrudin saat ditemui RSUD Tanjung, Kamis (1/9).

Sementara dirinya sendiri lanjut Bahrudin diagendakan untuk dimintai keterangan pada hari ini (1/9). “Kalau saya besok, ni suratnya,” ujarnya sembari menunjukkan amplop surat pemanggilan dari Polres Lobar.

Berdasarkan konfirmasi yang ada dari Polres Lobar kata Bahrudin, limbah yang ditemukan dan diamankan tergolong limbah medis, atau bahan medis yang sudah terpakai dan pernah bersentuhan dengan manusia atau pasien. Namun dirinya sendiri mengaku belum mengecek temuan tersebut. Karena perlu diketahui juga kata Bahrudin, limbah itu bisa saja Bahan Medis Habis Pakai (BMHP).

BMHP sendiri merupakan bahan medis yang belum pernah bersentuhan dengan manusia. Jika BMHP, tentu perlakuannya tidak sama dengan limbah medis. Limbah medis harus dibakar di insenerator, sementara BMHP bisa dibuang di tempat pembuangan sampah biasa. “Konfirmasinya sih memang limbah medis, tapi saya belum cek, karena kemarin pas penemuan itu, saya tidak di sini,” terangnya.

Menurut Bahrudin, jika nanti itu merupakan limbah medis. Itu tentu merupakan kelalaian pihaknya. Sebenarnya kata dia, Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk pengelolaan limbah sudah jelas. Di setiap ruang pelayanan medis ditempatkan dua tempat sampah. Tempat sampah yang satu menggunakan plastik warna hitam untuk limbah non medis dan plastik warna kuning untuk limbah medis. Limbah medis ini dikumpulkan dalam ruang penyimpanan untuk menunggu giliran dilakukan pembakaran dalam insenerator. “Kalau yang ditemukan kemarin itu limbah medis, jelas ada kelalaian, artinya kontrol dan pengawasan masih lemah. Padahal SOP sudah jelas, tinggal dijalankan,” terangnya.

Seperti halnya saja kata Bahrudin, pasca didapatinya limbah medis oleh Polres Lobar, pihaknya memberikan arahan kepada semua petugas agar tidak lalai dan menaati SOP yang ada. Limbah medis dibuang ke plastik kuning dan limbah non medis dibuang ke plastik hitam. “Tetapi baru kemarin kita kasih pengarahan, eh hari ini ditemukan ada tusuk sate dan bekas makanan di plastik kuning,” terangnya.

Biasanya kata Bahrudin, pengawasan agak lemah saat sore dan malam. Kemungkinan oknum petugas, malas untuk membuang sampah makanannya ke plastik hitam. Begitu juga dengan limbah medis, tidak memperhatikan di plastik mana dibuang. “Tetapi dalam SOP-nya itu, pengumpul ini terlebih dahulu harus mengecek, ada tidak limbah medis di plastik hitam, kalau ada, pindahkan ke plastik kuning, baru diikat dan diangkat. Jangan asal ikat dan angkat, siapa tahu di plastik hitam ada limbah medis,” jelasnya.

Selain itu lanjutnya, jika pun yang ditemukan Polres Lobar tersebut adalah limbah medis, belum tentu juga milik RSUD Tanjung, karena bagaimanapun, delapan puskesmas di KLU juga melakukan pembakaran limbah medis di RSUD Tanjung. “Karena hanya kita yang punya insenerator, saya khawatir, limbah medis yang ditemukan itu bukan milik kita,” terangnya.

Akan tetapi yang jelas kata Bahrudin, berkaitan dengan penemuan limbah medis oleh Polres Lobar tersebut, pihaknya akan meningkatkan kontrol dan pengawasan setiap harinya agar tidak ada lagi kelalaian. Bagi yang lalai, akan diberikan sanksi. “Kita malu juga, kemarin kita juara II lomba kebersihan, eeh malah ditemukan limbah medis,” tandasnya. (zul)