Politisi Nasional Bekerja Lebih Keras

MATARAM—Tenar di tanggung politik tanah air tak selamanya menjadi ukuran kesuksesan politisi mendulang suara. Para politisi yang berkarir di tingkat nasional dipastikan harus bekerja lebih keras andai terjun di gelanggang Pilkada.

Pengamat politik IAIN Mataram, Agus MSi mengatakan, kemunculan nama-nama politisi nasional asal NTB yang akan bertarung di Pilkada 2018 akan menyemarakkan perhelatan gawe politik lima tahunan tersebut. "Saya membaca semakin banyak politisi nasional turun gunung ke NTB. Ini menandakan NTB tidak miskin SDM," kata mantan komisioner KPU NTB ini, Rabu (14/8).

Beberapa politisi nasional yang dikabarkan siap terjun di Pilkada NTB yakni, Dr Kurtubi, Dr Zulkiflimansyah, Lalu Rudi Srigede, Syafruddin, dan sejumlah nama lainnya. Bahkan, menurutnya nama- nama politisi nasional asal NTB akan terus bermunculan dalam waktu dekat seiring dengan geliat dinamika politik menuju suksesi pilkada.

Munculnya banyak nama politisi Senayan, jelasnya, menandakan NTB memiliki banyak orang berkualitas dan mumpuni melanjutkan estafet kepemimpinan di Bumi Gora. Namun, persoalannya adalah pilkada langsung dengan sistem suara terbanyak menempatkan posisi masyarakat akar rumput sangat dominan sebagai penentu kemenangan.

Di lain sisi, politisi nasional NTB baru dikenal pada masyarakat kelas menengah yang jumlahnya relatif kecil dan berada di wilayah perkotaan. Sedangkan pemilih terbesar di NTB berada di wilayah pedesaan.

"Untuk itu jika target mereka adalah memenangkan pemilu, mereka harus kerja keras untuk sosialisasikan diri dan programnya ke masyarakat," ucapnya.

Apalagi mengingat, masyarakat pedesaan di wilayah NTB masih sangat terbatas medianya untuk mendapatkan informasi maupun sosialisasi terkait figur yang bakal bersaing memperebutkan kursi orang nomor satu dan nomor dua di NTB. Maka tidak  heran jika yang melekat dalan memori mereka hanya politisi-politisi lokal yang sering berinteraksi dengan mereka.

Tokoh agama atau tuan guru sebagai aktor yang sering membimbing warga dalam urusan agama disebutnya lebih melekat di hati masyarakat pedesaan dibanding pengusaha dan politisi nasional. Untuk merubah memori masyarakat ini, politisi nasional maupun pengusaha perlu kerja sangat keras dan membutuhkan banyak media.

Pengamat politik lainnya, Satriawan Sahak mengatakan, dengan banyak politisi asal NTB turun ke gelanggang pilkada NTB makin membuat konstalasi dan persaingan bakal kiat ketat dan kompetitif. Menurutnya, politisi nasional turun ke gelanggang pilkada membekali diri dengan jejaring di tingkat nasional. “Mereka memiliki jejaring dan didukung dengan kekuatan finansial memadai,” ujarnya.

Dia menilai, dengan kekuatan finansial yang dimiliki itu bakal bisa mengimbangi, bahkan memberikan perlawanan sengit kepada politisi local. Dengan kekuatan finansial dan jejaring yang dimiliki, politisi nasional bakal melakukan berbagai upaya mensosialisasikan diri meraih simpati pemilih. Baik di wilayah perkotaan maupun  pedesaan.

Meski begitu, politisi nasional yang maju di pilkada disebutnya harus menjadikan pemilih di pedesaan prioritas untuk disambangi atau dikunjungi. Pasalnya, mereka kurang populer di kalangan pemilih di pedesaan ketimbang di perkotaan. (yan)