Polisi Minta Keterangan Sabar Nababan

rumah Sabar Nababan
SEPI: Begilah suasana rumah Sabar Nababan terlihat sepi tanpa ada aktivitas Senin pagi kemarin (20/3). (ZULFAHMI/Radar Lombok)

MATARAM—Kepolisian   bergerak cepat dalam melakukan penelusuran paska  deklarasi agama baru yaitu Agama Angkasa Nauli (AAN) yang dideklarasikan oleh Sabar Nababan yang diketahui sebagai seorang dosen perguruan tinggi di Mataram.

Kepolisian telah turun langsung meminta klarifikasi pihak terkait. ‘’ Yang bersangkutan memang sudah dimintai klarifikasinya Minggu siang (19/3). Ini baru pemeriksaan awal terhadap yang bersangkutan,’’ ujar Kabid Humas Polda NTB AKBP Tribudi Pangastuti Senin kemarin (20/3).

Selain itu, kepolisian juga disebutnya sudah meminta keterangan dari orang terdekat atau keluarga Sabar Nababan. Dari hasil keterangan yang diperoleh menyatakan, Sabar Nababan pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ). ‘’ Itu keterangan dari istrinya,’’ katanya.

Polisi kata Tribudi,  saat ini akan melakukan pendalaman.  Polisi akan mengecek  kapan dan berapa lama Sabar di rawat di rumah sakit jiwa sesuai dengan keterangan yang disampiakan oleh istrinya.  Nababan sendiri disebutnya sudah mengakui memposting ajakan AAN di media sosial. ‘’ Dia sudah mengakui memposting ajakan tersebut. Tapi kita belum sampai kepada menanyakan pernah dirawat di RSJ kepada yang bersangkutan,’’ imbuhnya.  

[postingan number=3 tag=”nababan”]

Penelusuran kasus tersebut menurutnya ditangani oleh Polres Mataram. Hasil permintaan keterangan ini juga nantinya akan dikoordinasikan dengan pihak kampus tempat Sabar Nababan mengajar.

Tribudi juga mengakui bahwa sudah ada laporan masyarakat yang masuk ke kepolisian terkait dengan AAN ini. Laporan tersebut kemudian dijadikan acuan untuk menelusuri kasus tersebut. ‘’ Sudah dilaporkan oleh masyarakat. Sekarang segala aktivitas di media sosial yang bersangkutan dalam pantauan kepolisian,’’ tandasnya.

Terpisah  Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik Dalam Negeri (Bakesbangpoldagri) Kota  Mataram Rudi Suryawan mengatakan  pihaknya sudah bertemu dengan    Sabar Nabab dan dilakukan diskusi. Saat  terjadi dialog di rumah Sabar di Jalan Suna Ampel II Blok B nomor 12 Bumi Kodya Asri Kelurahan Jempong Baru,  jajaran Pemkot Mataram menyarankan agar Sabar  tidak lagi melanjutkan aktivitasnya. “ Sejak Sabtu malam dua hari yang lalu kita sudah pantau  keberadaan saudara Sabar Nababan,” kata Rudi.

Setelah  pertemuan  pada malam itu, selanjutnya pihaknya  langsung ber koordinasi dengan  Kepolisian dan TNI. pada hari Minggu (19/3)  yang bersangkutan   dimintai keterangan oleh  aparat kepolisian dan TNI.  ” Kasus SN sekarang sudah  ditangani sama aparat keamanan dan diharuskan untuk wajib lapor serta menghentikan seluruh aktivitasnya,”  tegas Rudi.

Sabar Nababan masih aktif mengajar sebagai dosen Teknik Elektro di Fakultas Teknik   Universitas Mataram(Unmram).Dekan Fakultas Teknik Yusron Saadi  menyampaikan hingga kini Sabar Nababan masih aktif mengajar seperti biasanya. Namun pihak kampus hanya membatasi untuk bimbingan skripsi.” Sabar Nababan memang benar dosen sini dan saat ini juga ia lagi mengajar mahasiswa di kelas karena kalau dia ngajar tidak nampak ada kelainan,”ungkapnya.

Menurut Yusron, selama ini Sabar Nababan disiplin dan tepat waktu melaksanakan tugas-tugasnya. Namun belakangan ini Sabar Nababan  diakui sangat aktif bersosialisasi lewat media sosial.”Dia sama denga dosen yang lain namun kita membatasi untuk bimbingan skripsi karena biasanya penyakitnya sering kumat,”ujarnya.

Namun pihak kampus sendiri tidak mengetahui penyakit apa yang diderita oleh Sabar Nababan. Biasanya jika  ia tidak masuk, isterinya yang menginformasikan ke  kampus kalau penyakitnya sedang kumat. ”Kami tidak mengetahui penyakit yang diderita. Kalau masalah ada obat dari rumah sakit kami tahu  tapi kami tidak mengetahui kalau dia pernah di rawat  di RSJ,”ucapnya.

Pihak kampus saat ini ungkpanya sedang mengumpulkan informasi. Dari informasi yang mereka dapatkan bahwa Sabar Nababan mengidap penyakit skizofrenia  yang cendrung melakukan halusinasi. ”Hari ini (kemarin) kami memanggil isterinya untuk kami mintai keterangan terkait penyakit yang diderita tersebut,”ujarnya.

Pihak kampus sendiri belum bisa mengambil sikap tegas karena selama ini  Sabar Nababan dinilai sama dengan dosen-dosen  lain. Namun adanya pertemuan dengan isteri dan orang terdekatnya nanti, maka kampus akan bisa mengambil kesimpulan apakah  Nababan diminta untuk cuti atau lainnya. ”Mohon ma’af hanya sedikit keterangan yang bisa kami sampaikan namun untuk tindak lanjutnya, kami harus laporkan juga kepada pimpinan setelah memanggil isteri dan orang dekatnya dan hasilnya nanti apakah ia kita suruh untuk cuti dan lain sebagainya,”ungkapnya.

Sementara itu pantauan di lokasi tempat tinggal Sabar, Senin pagi kemarin (20/3) terlihat sepi. Rumah dibiarkan kosong tanpa pintu gerbang  tidak terkunci. Pengakuan dari warga setempat, Sabar  dikenal jarang bergaul. Seperti yang dituturkan ibu Made,  sejak   ia tinggal  di komplek perumahan ini dirinya jarang melihat Sabar Nababan beraktivitas diluar rumah. Selama ini  hanya istrinya saja yang aktif di kegiatan lingkungan.

” Kalau istrinya saya sering bergaul, kalau bapaknya (Sabar Nababan)  saya kurang tahu,” tutur Made.

Tetangga lainnya Riadi   mengaku kalau dirinya juga tidak terlalu kenal  dengan keluarga tersebut. Selama ini yang ia  tahu setiap harinya keluarga Sabar Nababan sibuk dengan kegiatan sehari-hari .” Kalau sudah keluar antar anaknya sekolah  setelah itu masuk tidak bergaul seperti tetangga yang lain,” tuturnya.

Ia menambahkan, beberapa malam  lalu beberapa aparat mendatangi beberapa rumah Sabar.

Namun pihaknya tidak tahu  masalah yang terjadi sehingga aparat kepolisian datang. “ Kami justru baru tahu kalau ada kejadian ini dari media,” tuturnya sambil menunjukan rumah Sabar. (gal/ami/cr-met)