Polisi Diminta Segera Cek CCTV Al-Aziziyah

PEMERIKSAAN: Satreskrim Polresta Mataram turun ke Ponpes Al-Aziziyah untuk menelusuri penyebab kematian Nurul Izzati (13), santriwati kelas 7 yang diduga menjadi korban penganiayaan.(ROSYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Satreskrim Polresta Mataram sudah melayangkan surat pemanggilan terhadap 11 saksi dari pihak Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Aziziyah.

Mereka akan diperiksa hari ini (8/7) atas kasus dugaan penganiayaan terhadap Nurul Izzati (13), santriwati setempat yang kini telah tiada. “Surat pemanggilan sudah kami layangkan kemarin Jumat (5/7). Dan akan diperiksa hari Senin ini (8/7),” kata Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama kepada Radar Lombok, Minggu (7/7).

Pemeriksaan itu tidak terlepas dari tindak lanjut hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) yang dilakukan Jumat (5/7) lalu di Ponpes Al-Aziziyah. Pemeriksaan TKP mulai dilakukan sekitar pukul 15.20 WITA.

Sejumlah ruangan diperiksa penyidik dari Satreskrim Polresta Mataram. Tak terkecuali ruang belajar dan asrama yang pernah ditempati Nurul Izzati waktu itu.
Hasil pemeriksaan TKP yang dilakukan hingga malam itu masih enggan dipublis. Ia memastikan, pemeriksan itu bagian dari proses penyidikan yang masih berjalan.

Satreskrim Polresta Mataram turun ke Ponpes Al-Aziziyah usai memeriksa sedikitnya 4 saksi dari kalangan ponpes, Kamis (4/7). Yakni dua santriwati, wali kelas dan pengurus asrama putri. Mereka diperiksa sekitar pukul 11.30 WITA hingga malam.
Sebelumnya, penyidik juga telah memeriksa 10 saksi di Lotim.

Rinciannya, 7 saksi dari tenaga kesehatan (nakes) yang pernah menangani Nurul Izzati saat berobat dan 3 orang keluarga teman korban, yang membawa korban berobat.
Pemeriksan masih terus berlanjut untuk menelusuri penyebab kematian Nurul Izzati. Termasuk akan memeriksa saksi yang diketahui berada di Pulau Sumbawa.

“Ada saksi di wilayah Pulau Sumbawa, nanti mungkin kita akan ke Sumbawa (pemeriksaan),” tandasnya.
Nurul Izzati menghembuskan napas terakhir di Ruang ICU RSUD dr Raden Soedjono Selong, Lotim pada Sabtu (29/6) lalu usai koma beberapa hari. Sebelum menjalani perawatan di RSUD dr Raden Soedjono, korban pernah dirawat di salah satu klinik dan puskesmas di wilayah Lotim.

Hasil pemeriksaan dokter di rumah sakit, ditemukan mata kiri korban dalam kondisi bengkak dan di bagian kepala santriwati kelas 7 asal Desa Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende, NTT ini terdapat sebuah benjolan yang diduga akibat benda tumpul.

Herman Surenggana selaku kuasa hukum Ponpes Al-Aziziyah menegaskan tidak pernah terjadi tindakan kekerasan terhadap korban. Ia mengaku korban dijemput oleh salah seorang yang mengaku sebagai walinya pada Jumat (14/6) dan dibawa ke Lotim.

Saat pulang itu, dari rekaman CCTV Nurul Izzati terlihat sehat. Namun selang beberapa hari, pihak ponpes mendapatkan kabar jika Nurul Izzati masuk rumah sakit.

Namun pernyataan Herman yang menyebut korban dalam kondisi sehat saat dijemput pada Jumat sore (14/6) itu dibantah kuasa hukum keluarga korban, Yan Mangandar Putra.
“Baiknya pihak pengurus ponpes berulang kali, bila perlu ratusan kali nonton rekaman CCTV tersebut baru akan melihat kebenaran. Bahwa korban dengan hidung luka dan mata bengkak keluar dari pondok menuju ke arah mobil,” kata Yan Mangandar, Minggu (7/7).

Menuju ke arah mobil itu korban berjalan sendiri, dengan kondisi badan membungkuk karena dia menahan rasa sakit sambil membawa tas yang berisi pakaian. “Itu tanpa didampingi pengurus ponpes satu pun,” tegasnya.
Pihaknya meminta agar kepolisian membuka dan memeriksa rekaman CCTV lantai dasar hingga lantai 3 asrama putri mulai Rabu (12/6) lalu. Rekaman CCTV itu memperlihatkan keadaan korban yang tengah diurus oleh sesama santriwati.

“Kelihatan bagaimana sibuknya teman-teman santriwati mengurus, memberitahu mudabbiroh dan bahkan memapah korban ke kamar kecil. Biar pengurus ponpes sadar kalau mereka abai dengan santriwati yang semestinya jadi tanggung jawab mereka dalam kondisi sakit parah tanpa dibantu sama sekali. Kami yakin, seandainya pihak ponpes peduli dan tidak abai tanggung jawabnya, maka tidak akan terjadi hal buruk ini,” sesalnya.

Dikatakan, keterangan dokter RSUD mengungkap adanya benturan benda tumpul di kepala bagian kiri korban. Hal ini mengindikasikan kuat bahwa terjadi kekerasan terhadap korban yang kesehariannya hidup di asrama. Sehingga proses hukum kasus ini ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan oleh Kepolisian.

“Ini sekaligus membantah keterangan awal pengurus ponpes, yang bilang apa yang dialami Nurul Izzati bukan karena kekerasan, tapi karena mencongkel jerawat di hidungnya menggunakan jarum pentol. Dengan fakta-fakta tersebut, kami meminta jangan sampai ada pihak tertentu mengarahkan kasus kekerasan ini terjadi luar ponpes, apalagi menuduh jarum pentol sebagai pelaku kekerasannya. Rusak logika kita dibuat hanya demi menjaga nama baik lembaga tertentu,” tutupnya. (sid)

Komentar Anda