Polisi Buru Rampok Sadis Komplotan Astam

POLISI BURU RAMPOK SADIS KOMPLOTAN ASTAM

PRAYA – Upaya aparat kepolisian memburu rampok sadis komplotan Astam dan Muliadi, belum membuahkan hasil. Para perampok sadis ini diperkirakan bersembunyi di dalam hutan bagian wilayah utara pulau Lombok. Sehingga keberadaan mereka sulit terdeteksi meski meninggalkan jejak.

Bahkan, polisi semakin girang memburu tujuh kawanan rampok yang masih menghirup udara bebas ini karena sudah mengantongi identitas dan ciri-ciri pelaku. Semua ini berkat hasil kerja sama kawanan mereka Astam dan Muliadi yang berhasil disergap terlebih dulu pada malam kejadian, Kamis lalu (5/10).

Dari mulut keduanya, ketujuh kawanan rampok yang sudah ditetapkan masuk daftar pencarian orang (DPO) alias buronan itu, terungkap. Astam yang belakangan diketahui sebagai otak perampokan itu sudah mengakui dan menyebutkan identitas kawanannya di depan polisi. ‘’Untuk tujuh pelaku sudah kita ketahui ciri dan peranya. Bahkan, fotonya sudah kita sebar karena sudah kita tetapkan sebagai DPO,” beber Kasatreskrim Polres Lombok Tengah AKP Rafles P Girsang kepada Radar Lombok, Selasa kemarin (10/10).

Rafles menambahkan, ketujuh pelaku ini diperkirakan sudah lari ke bagian utara. Mereka masuk ke hutan dan ke atas gunung. Untuk itu, pihaknya saat ini sudah berkoordinasi dengan Polres Lombok Utara dan Polres Lombok Timur untuk membantu mengejar pelaku. “Semua data pelaku sudah lengkap. Karena mereka ke luar wilayah Lombok Tengah sehingga kita berkoordinasi. Dan sampai saat ini petugas kami masih melakukan penyisiran terhadap lokasi yang kemungkinan dijadikan sebagai tempat persembunyian para pelaku ini,” ungkapnya.

Perwira balok ini tiga menambahkan, anak buahnya juga masih mendalami kepemilikan senjata api (senpi) yang digunakan pelaku. Karena kuat dugaan, kawanan rampok sadis ini mempersenjatai diri dengan senpi dalam melancarkan aksinya. Mereka juga tidak segan-segan melukai korbanya jika melawan. ‘’Memang sadis mereka ini, otak pelakunya Astam ini dan kawanan ini sudah ada yang residivis juga,” sebutnya.

Rafles juga menegaskan, polisi sudah mengantongi cukup bukti untuk Astam dan Muliadi. Pernyataan ini ditegaskan Rafles, seiring berkembangnya isu yang menyatakan bahwa Astam dan Muliadi tidak terlibat dalam perampokan di Dusun Emboan Desa Mangkung Kecamatan Mangkung itu. ‘’Kita punya bukti yang kuat untuk menjerat para perampok ini. Untuk itu, kami terus mengejar pelaku lainnya,’’ pungkasnya.

Diketahui, perampokan sadis telah terjadi di empat tempat kejadian perkara (TKP) di Dusun Emboan Desa Mangkung Kecamatan Praya Barat, sekitar pukul 00.30 Wita, Kamis lalu (5/10). Korbannya, yakni Amaq Ismail, Inaq Iwan, Rumenim, dan Inaq Nur. Keempat korban ini merupakan tetangga.

Awalnya, komplotan rampok yang diperkirakan berjumlah sembilan orang ini menyasar rumah Amaq Ismail. Dua dari kawanan ini menodongkan senjata tajam (sajam) ke leher Amaq Ismail, ketika sedang tidur di luar rumahnya.

Setelah itu, tiga orang lainnya merangsek masuk ke dalam rumah Amaq Ismail dan menemukan istrinya Inaq Ase. Wanita ini juga diancam menggunakan sajam dan sempat dipukul dengan ranting kayu jati hingga kepalanya benjol. Dari rumah ini, kawanan rampok ini berhasil menggondol uang Rp 500 ribu serta kalung emas.

Kemudian tiga pelaku lainnya masuk ke rumah Inaq Iwan yang merupakan tetangga Amaq Ismail. Pelaku berhasil mengambil 1 buah handphone, sepasang anting emas seberat 1,5 gram, kain songket dan sarung sebanyak 18 lembar. Tiga komplotan ini kembali masuk ke rumah Rumenim dan berhasil mengambil anting emas seberat 1,5 gram. Pelaku kemudian masuk ke rumah Inaq Nur yang juga tetangga ketiga korban sebelumnya. Di TKP 4 ini, pelaku berhasil mengambil 1 unit handphone warna biru.

Setelah itu, para perampok ini menggondol 6 ekor sapi milik Amaq Ismail. Namun, 3 ekor sapi tersebut ditinggal di luar, tidak jauh dari rumah korban. Sedangkan dua pelaku lainnya berjaga di luar sambil menembakkan senpi dua kali.

Atas kejadian itu, polisi kemudian mengejar pelaku setelah menerima laporan warga. Alhasil, polisi berhasil menyergap Muliadi alias Amaq Ani, 42 tahun, warga Dusun Kelambi Desa Pandan Indah dan Astam alias Amaq Athar, 41 tahun, warga Dusun Dasan Tengak Desa Bonder Kecamatan Praya Barat. Nah, dari mulut keduanya tujuh pelaku lainnya diketahui dan saat menjadi buruan polisi. (cr-met)