Polisi Bakal Selidiki Penyebab Longsornya Jalan di Senggigi

LONGSOR: Beginilah kondisi tebing di atas tanjakan kafe Alberto yang longsor dan merusak proyek penataan kawasan Senggigi Lombok Barat. (ZULFAHMI/RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG – Tebing pinggir jalan tanjakan atas kafe Alberto Batu Bolong Dusun Loco Desa Batulayar Barat Kecamatan Batulayar Kabupatan Lobar, longsor lagi pada Jumat sore (5/2) lalu.

Longsoran tebing ini sekaligus merusak proyek penataan kawasan Senggigi Lombok Barat. Trotoar yang sudah dibangun ikut terbawa longsoran dengan kedalaman sekitar 10 meter ke bawah dan panjang sekitar 40 meter. Kerusakan tercatat masuk dalam fasilitas publik penataan kawasan Senggigi yang sudah dibangun Dinas Pariwisata Lombok Barat dengan memakan anggaran sekitar Rp 1,6 miliar.

Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid bersama rombongan langsung mengecek titik longsor pada Sabtu (6/2) lalu. Polres Lombok Barat juga sudah memasang garis polisi di titik longsor. Sekaligus, polisi memasang imbauan agar masyarakat tidak mendekat ke titik longsor karena sangat berbahaya.

Persitiwa longsor ini menjadi perhatian dari pihak Polres Lombok Barat. Karena dalam satu pekan ini, ada dua titik longsor di sepanjang jalur Senggigi. Yakni, di Senggigi View dan Tanjakan kafe Alberto.

Kasatreskrim Polres Lombok Barat, AKP Dhafid Sidiq mengaku sudah mulai menurunkan anggotanya untuk menyelidiki proyek tebing itu. Mengingat, tebing ini longsor tak setelah ditata instansi terkait. ‘’Kita belum tahu apa penyebab amblesnya proyek yang ada di Senggigi ini, butuh penyelidikan lebih lanjut,” kata Dhafid saat dikonfirmasi, Minggu (7/2).

Menurutnya, banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Bisa jadi ini musibah atau bencana alam karena cuaca ekstrem akhir-akhir ini. Ditambah lagi tingginya intensitas curah hujan disertai dengan angin kencang. Penyelidikan juga dilakukan untuk mencari penyebab apakah ada unsur pidana atau tidak di balik rusaknya proyek penataan kawasan Senggigi ini. ‘’Kita turun dulu dalami penyebabnya, apakah kerusakan ini murni akibat bencana alam. Atau, memang ada unsur lainnya yang menyebabkan kerusakan ini,’’ jelas Dhafid.

Untuk kepentingan penyelidikan,  pihaknya pun tidak hanya sebatas mengumpulkan bukti di lapangan. Namun juga akan segera berkoorinasi dengan Inspektorat Lombok Barat serta Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Karena kerusakan proyek ini sudah menjadi perhatian publik. Jadi, tanpa ada laporan masuk dari masyarakat, pihak kepolisian bisa terjun langsung untuk melakukan penyelidikan. “Ini sudah menjadi sorotan publik, proyek yang di tanjakan Sheraton juga kita akan lakukan penyelidikan,” tegasnya.

Dijabarkan Dhafid, longsoran bisa juga karena kelalaian. Karena setiap proyek memiliki konstruksi perencanaan pembangunan yang salah satunya disebut perhitungan beban desain. Beban desain itu misalnya kekuatan kostruksi bangunan menanggung curah hujan. Terkadang perhitungan beban desain yang sudah direncanakan tidak terealisasi dengan baik di lapangan. “Misalnya spesifikasi teknik beban desain beton disepakati berkekuatan tekan silinde 35 mega paskal, tapi saat proses pengecoran mendadak hujan sehingga beton yang belum mengeras tercampur air dan membuat perhitungan teknik melenceng,” jelasnya.

Selain aspek desain konstruksi, proyek juga memiliki perhitungan kriteria material bangunan yang dibutuhkan. Kriteria itu ditentukan berdasarkan disiplin ilmu yang digunakan oleh masing-masing pemegang proyek. “Jadi untuk mengetahui penyebab ambles atau longsornya proyek tersebut, kita akan gandeng tim teknis untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut,” ujarnya.

Dari informasi yang diterima kepolisian, kata Dhafid, proyek tersebut masih dalam proses pemeliharaan. “Jadi ya kita tunggu saja perkembangan selanjut,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, H Saeful Ahkam yang dikonfirmasi tak bisa memberikan keterangan banyak terkait longsor dan dan rusaknya penataan kawasan Senggigi ini. Mengingat, secara teknis pembangunan dilakukan di bawah pengawasan Dinas PUPR Lombok Barat. “Karena ini soal teknis, konfirmasi silakan disampaikan ke Dinas PUPR. Yang jelas proyek tersebut masih dalam masa pemeliharaan,” kata Ahkam.

Kepala Dinas PUTR Lombok Barat, I Made Arthadana yang dikonfirmasi juga belum bisa memberikan keterangan terkait longsornya proyek penatan kawasan Senggigi ini. Made mengaku akan menggelar rapat koordinasi dulu bersama pihak terkait sebelum menyampaikan ke publik. Mengingat, proyek itu tak hanya melibatkan Dinas PUPR, tapi juga Dinas Pariwisata Lombok Barat, kontraktor, dan Balai Jalan Nasional (BJN). “Besok sehabis rapat, kita akan sampaikan hasil pengecekan dugaan penyebab longsor di Senggigi,” ujar Made singkat. (ami)