Polda Tunggu Laporan Jamaah Umrah First Travel

First Travel
First Travel

MATARAM—Kepolisian Daerah (Polda) NTB sampai saat ini  belum menerima laporan dari  calon jamaah umrah asal NTB yang dirugikan PT First  Anugerah Karya Wisata (First Travel).

Wakil Direktur (Wadirreskrimum) Polda NTB AKBP Nurodin mengatakan,  sampai  saat ini belum ada jamaah umrah First Travel yang datang melaporkan kasus yang menimpanya. Praktis, pihaknya belum bisa menindaklanjuti masalah ini. Untuk itu, ia menyarankan kepada jamaah asal NTB ke kepolisian. ‘’ Kita belum mengetahui apakah memang ada jamaahnya dari NTB. Berapa jumlah jamaahnya juga belum kita tahu. Kalau melapor kan kita bisa tahu dan kita pasti menindak lanjutinya,’’ katanya Selasa kemarin (22/8).

Masyarakat juga menurutnya jangan ragu untuk melapor ke kepolisian. Karena laporan tersebut akan menjadi acuan kepolisian melakukan pengusutan.  Namun, ia menyadari bahwa para jamaah ini masih ragu untuk membuat laporan. ‘’ Kemungkinan masih ragu-ragu antara melapor apa tidak. Karena mungkin masih berharap untuk berangkat umrah. Tapi kami menyarankan, jika memang ada. Silahkan melapor ke kepolisian. Kita tindak lanjuti,’’ ungkapnya.

Kasus penipuan ribuan jamaah umrah ini ditangani oleh  Bareskrim Mabes Polri. Kepolisian juga telah menetapkan tiga orang tersangka. Nurodin mengatakan, Mabes Polri belum memberikan arahan kepada Polda di daerah mengenai adanya jamaah umrah First Travel ini. Jumlah jamaah umrah dari masing-masing daerah juga belum diketahui oleh Mabes Polri. ‘’ Belum ada data dari Mabes. Sekarang kan datanya disana ada puluhan ribu jamaah. Bagaimana mau dipisah-pisah itu dari mana saja. Intinya kita menunggu laporan di NTB. Baru kita bisa mengetahui apakah memang benar ada atau tidak. Perekrutannya bagaimana juga kita belum tahu,’’ tandas mantan Kapolres Lombok Tengah ini.

Dari data dan informasi yang diserap koran ini di lapangan, banyak calon jamaah umrah   First Travel  dari NTB. Jumlahnya  mencapai ratusan. Mereka terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama, n menurut rencana akan diberangkatkan bulan November 2017. ‘’ Yang berangkat November ini bayarnya Rp 14,8 juta. Jumlahnya itu mungkin sudah ratusan. Kalau yang berangkat itu tahun 2018 itu setorannya Rp 16,5 juta. Jumlahnya juga banyak,’’ ujar salah satu jamaah umrah   yang tidak ingin disebutkan identitasnya.  

Awalnya, ia mendaftar dan menyerahkan uang sebesar Rp 14,8 juta. uang tersebut diserahkan rentan waktu Desember 2015 sampai bulan Mei 2016. Ia pun dijanjikan dan dijadwalkan berangkat umrah pada bulan November mendatang. Namun, karena munculnya kasus ini dan dua orang pemilik First Travel ditangkap kepolisian, ia lebih memilih uang yang telah disetorkan untuk dikembalikan oleh First Travel. ‘’ Sebelum kasus ini ada saya sudah mengajukan untuk refund saja,’’ katanya.

Ia juga tidak mengetahui First Travel mempunyai cabang di NTB. Biaya umrah tersebut kata dia disetorkan langsung ke rekening Firts Travel. Selanjutnya, pengurusan administrasi dan kelengkapan umrah di dilakukan oleh agen. ‘’ Setahu saya agennya itu perorangan saja. Tidak ada nama perusahaan. Dia yang membantu merngirim bukti setoran ke Jakarta,’’ jelasnya.

Ia juga mengatakan, bersama dengan jamaah yang lain belum berencana untuk membuat laporan ke pihak kepolisian. ‘’ Agen belum menganjurkan untuk lapor karena proses hukum sekarang sedang berjalan di Mabes Polri. Jadi kita hanya bisa menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa,’’ ungkapnya.(gal)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid