Polda NTB Usut Pembangunan Pasar Pancor

PASAR PANCOR
DISELIDIKI: Penyidik Ditreskrimsus Polda NTB menyelidiki dugaan kejanggalan pembangunan pasar tradisional Pancor yang dibangun tahun 2017. (DERY HARJAN/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Penyidik Ditreskkrimsus Polda NTB mulai mengusut dugaan penyimpangan pembangunan pasar Pancor Kelurahan Pancor Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur.

Belum lama ini, penyidik bersama dengan tim ahli kontruksi dari Fakultas Teknik Universitas Mataram telah turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan fisik. Di samping itu, petugas juga melakukan pengumpulan beberapa dokumen serta meminta keterangan dari beberapa pihak terkait yang terlibat dalam pembanguan pasar tersebut.

Dirreskrimsus Polda NTB Kombes Pol Syamsudin Baharudin yang dikonfiirmasi membenarkan hal tersebut. Menurut Syamsudin, penyelidikan masih tahap awal. Anggotanya masih mengumpulkan bukti dan keterangan dulu dari sejumlah pihak terkait. Termasuk mengumpulkan bukti-bukti berupa dokumen pembangunan pasar tersebut. ‘’Kita juga sudah turun cek fisiknya bersama tim ahli dari Unram,’’ beber Syamsudin, Sabtu (5/1).

BACA JUGA: Pengangkatan Tenaga Honda Lotim Banyak Kejanggalan

Berapa saksi yang sudah dimintai keterangan? Syamsudin mengaku masih mengumpulkan bukti dak dokumen pembangunan pasar ini. Pihaknya belum secara detail meminta keterangan saksi-saksi dalam penyelidikan ini. Namun, ia memastikan akan segera meminta keterangan saksi-saksi orang dan pihak-pihak yang bersangkutan dalam kasus ini. ‘’Kita masih kumpulkan bukti-bukti dulu,’’ pungkasnya.

Informasi yang dikumpulkan Radar Lombok, Dinas Perindustrain dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Timur melaksanakan pembangunan pasar tradisional Pancor ini tahun 2017 silam. Pagu anggarannya mencapai Rp 11.000.000.000 sesuai dengan DPA Disperindag Lombok Timur Nomor 3.07 01 00 00 51, tanggal 19 Januari 2017. Pembangunan ini dimaksudkan untuk menjadikan pasar tradisional Pancor bersih dan nyaman bagi para pedagang.

Dalam proyek itu, Disperindag telah menetapkan CV Nirmana selaku konsultan perencana pembangunan pasar tersebut. Anggaran perencanaan ini sebesar Rp 150.000.000, sesuai DPA nomor 3.07 01 00 00 51, tanggal 19 Januari 2017. Selanjutnya diterbitkan dokumen surat perjanjian kerja sama (kontrak) dengan nomor 03/07/Perindag/PSR.PCR/2017, tanggal 20 Maret 2017 dengan nilai kontrak Rp 125.785.0000.

 Adapun waktu pelaksanaan pekerjaan perencanaan tersebut sesuai dengan kontrak selama 30 hari yakni dari tanggal 20 Maret 2017 sampai dengan 21 April 2017.

Spesifikasi teknis perencanaan pekerjaan tersebut adalah bangunan berupa 1 unit los pasar 2 lantai, 10 lokal kios, rangka baja, atapnya menggunakan spandek dan lantai menggunakan keramik. Pemenang lelang terkait pekerjaan pembangunan pasar tersebut adalah PT Akbar Sinar Abadi (ASA).

Proses penetapan PT ASA sebagai pelaksana pekerjaan pembangunan pasar tradisional Pancor ini setelah proses lelang dilaksanakan kelompok kerja Unit Layanan Pengadaan(ULP) Lombok Timur tahun 2017. Lelang ini sesuai surat Kabag Administrasi Pembangunan dan Layanan Pengadaan Barang/Jasa Setda Kabupaten Lombok Timur nomor 130.04.28/ADPEM-ULP/2017 perihal hasil pelelangan pengadaan barang/jasa, tanggal 29 Mei 2017. Surat ini ditujukan PPK Disperindag Lombok Timur atas nama Akhdiyat Furqo.

Pekerjaan pembangunan pasar tradisional Pancor Lombok Timur tahun 2017 telah diterbitkan surat perjanjian kontrak nomor 03/Perindag/PEMB.PSR.PCR/IV/2017, tanggal 31 Mei 2017. Perjanjian ini ditandatangani Akhdiyat Furqo selaku PPK dengan Sahabudin Direktur PT ASA selaku rekanan dengan nilai kontrak sebesar Rp 10.354.670.000.

PT ASA kemudian mulai melaksanakan pekerjaannya tanggal 31 Mei 2017 dengan waktu pelaksanaan selama seratus delapan puluh puluh hari kerja. Yakni dari tanggal 31 Mei 2017 sampai dengan tanggal 26 Nopember 2017. Ditambah masa pemeliharaan selama seratus delapan puluh puluh hari.

BACA JUGA: Kontrak Berakhir, Pengerukan Kolam Labuh Belum Tuntas

Hanya saja, dalam pelaksanaannya PT ASA diduga tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan perencanaan. Salah satunya jenis besi yang digunakan dalam pembangunan atap pasar tersebut. PT ASA melampirkan perencanaan untuk mengadakan besi dari distributor PT Sarana Putra Metal di Jawa Timur. Tapi pada faktanya, PT ASA memesan besi jenis WF tersebut dari CV Baja Raya.

Begitu juga berupa material spandek dan paving blok. PT ASA tidak memperolehnya dari perusahaan pendukung dalam hal ini PT Yaska. Tapi dari tempat lain yang kualitasnya tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang dipersyaratkan dalam kontrak.

Atas sejumlah kejanggalan itu, polisi kemudian turun tangan menyelidiki pembangunan pasar itu. Diindikasikan ada dugaan pekerjaan yang tidak sesuai teknis sebagaimana yang tercantum dalam kontrak kerja.

Sementara itu, Kepala Disperindag Lombok Timur, H Teguh Sutrisman yang konfirmasi belum bisa memberikan keterangan. Teguh memilih mengalihkan panggilan ketika dihubungi via telepon. Begitu juga ketika dimintai tanggapan via pesan singkat tidak digubris. (cr-der)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut