Polda NTB Klarifikasi Dugaan Intimidasi Posko Tim Prabowo

Kombes Pol Komang Suartana
Kombes Pol Komang Suartana. (Dery Harjan/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Polda NTB memberikan klarifikasi terkait dugaan intimadi oknum aparat terhadap anggota tim Prabowo-Sandi di Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi depan Islamic Center saat malam pergantian tahun sebagaimana yang sempat diviralkan di media sosial. Polda NTB menegaskan hanya soal kesalahpahaman saja.

Ini berawal dari postingan pemilik akun “Aurell Rangkuty” di Facebook yang kemudian di viral.  Postingannya tertulis:


Assalamualaikum Wr Wb

Info Terkini : Kami Relawan Garuda Emas NTB & Seluruh Relawan Prabowo Sandi NTB yang bergabung Di Rumah Aspirasi Prabowo Sandi Prov NTB tadi sore kedatangan oleh Aparat Kepolisian.

7 Anggota Kepolisian ingin mengecek Rumah Aspirasi Prabowo Sandi yang kami dirikan tepat didepan Islamic Centre NTB tadi sore (31/12/2018).

Kami tidak permasalahkan kedatangan pihak kepolisian, tetapi kami tidak menerima sikap intimidasi dari oknum kepolisian ini.Buku Tamu Rumah Aspirasi yang ada di meja Receptionist di Sobek oleh salah satu oknum kepolisian yang datang.

Kami Relawan yang berada di Rumah Aspirasi ini hanyalah masyarakat biasa,dan kami tidak pernah menggangu kenyamanan masyarakat lainnya.

Kami menghargai pihak kepolisian dan menginginkan pemilu damai tercipta, tetapi kami mohon kepada pihak kepolisian berfungsi lah sesuai dengan fungsinya sebagai kepolisian yaitu mengayomi masyarakat, baik masyarakat yang mendukung Bpk Prabowo ataupun masyarakat yang mendukung Pak Jokowi.

Semoga di tahun 2019 tidak ada lagi intimidasi kepada masyarakat.

#Maribagikan
#TolongViralkan
#GarudaEmasKamiAda
#StopIntimidasi
#StopPersekusi
#StopStopStop
 .


Postingan ini menimbulkan berbagai tanggapan.

Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Komang Suartana menegaskan, patroli yang dilakukan jajarannya merupakan bentuk pengamanan yang dilakukan polisi dalam rangka melindungi dan mengayomi masyarakat.”Ada kesalahpahaman, tidak benar apa yang tersebar di media sosial tersebut. Personel polisi saat itu hanya melakukan patroli,” ungkap Suartana, Rabu (2/1).

Menurut Suartana,  para personel kepolisian yang tergabung dalam Satuan Tugas Operasi Mantap Brata (Satgas OMB) memang bertugas dalam rangka pengamanan situasi jelang Pemilu 2019.

Namun, patroli dilakukan bukan hanya di Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi saja, melainkan juga ditempat lain.” Patroli bukan hanya di sana saja tetapi semua tempat baik itu kantor KPU, Bawaslu, markas Projo, dan kantor-kantor partai politik yang ada di wilayah hukum Polda NTB lainnya” tegas Suartana.

Ia mengatakan sebelumnya personel Satgas OMB tersebut sudah pernah mengunjungi Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi itu dan tidak ada persoalan. Karena merasa akrab sebelumnya dengan pengurus, pada saat apel pengamanan malam tahun baru pada 31 Desember 2018 lalu di halaman Islamic Center, personel menaruh kendaraan di tempat ini. “Kebetulan kan Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi tepat di depan Masjid Islamic Center” ungkapnya.

Lebih lanjut Suartana mengungkapkan bahwa kesalahpahaman itu sudah selesai. Anggota sudah bertemu dengan pihak Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi dan tidak ada masalah. Ia memastikan tidak ada intimidasi atau kepentingan apapun yang dilakukan polisi di tempat itu kecuali dalam rangka perlindungan dan pengamanan.

Mengenai kasus perobekan buku tamu di meja resepsionis, Suartana  juga menjelaskan itu tidak ada unsur kesengajaan. Anggotanya sudah meminta izin terlebih dahulu.“Anggota mencatat catatan penting karena menerima telpon lalu karena tidak ada kertas, digunakanlah buku yang ada di meja. Itupun sudah minta izin,” terangnya.

BACA JUGA: SBY Siapkan Kejutan untuk Menangkan Prabowo-Sandi

Ia berharap kasus ini tidak dibesar-besarkan. “Apa yang dilakukan polisi dalam upaya pengamanan mohon tidak ditarik-tarik dalam kepentingan politik karena netralitas Polri dalam Pemilu 2019 merupakan harga mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi,” tutupnya.

Sementara itu Randi Bugis Deningai dari Garuda Emas NTB sebagai pengurus di Rumah Aspirasi Prabowo-Sandi membenarkan kalau cekcok yang sempat terjadi antara dirinya dan personel Polda NTB adalah  kesalahpahaman saja. “Saya tegaskan kejadian yang sudah viral di Facebook dan Twitter murni itu kesalahpahaman kami berdua, karena  tidak adanya komunikasi yang benar yang terjadi tangggal 31 Desember 2018,” kata Randi.

Randi menegaskan, persoalan tersebut sudah diselesaikan dengan baik dan pihaknya siap bersinergi dengan kepolisian untuk kebaikan semua.(cr-der/yan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut