Polda NTB Bongkar Pelaku Perdagangan Anak ke Arab Saudi

KASUS TPPO: Ketiga pelaku kasus tindak pidana perdagangan orang (TPPO) terlihat berjalan digiring petugas untuk dibawa ke Rumah Tahanan (Rutan) Mapolda NTB, Selasa (13/12). (ROSYID/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda NTB menangkap pelaku perdagangan anak ke Arab Saudi, berinisial IS, asal Jakarta. Dalam kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) ini, korbannya adalah seorang perempuan yang baru menginjak usia 14 tahun, asal Dompu.

“Korbannya ini sudah dikirim ke Arab Saudi sekitar bulan Januari 2022 lalu oleh pelaku, dan sudah mulai bekerja sekitar 5 bulan,” terang Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Artanto, Selasa (13/12).

Modusnya, korban diiming-imingi bekerja sebagai asisten rumah tangga dan akan mendapatkan gaji sebesar Rp 15 juta perbulannya. “Korban pun tertarik dan berangkat,” sebutnya.

Pelaku sendiri mengenal korban dari NS asal Dompu dan SL dari Bima, yang saat ini berada di Arab Saudi sebagai Pegawai Migran Indonesia (PMI). “Tersangka menghubungi dua orang itu, untuk mencari atau merekrut orang tenaga kerja yang akan diberangkatkan ke Arab Saudi,” katanya.

Selama bekerja, korban tidak pernah diberikan gajinya. Yang ada, korban malah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan dari majikannya. Tidak hanya kekerasan fisik yang didapatkan, korban juga nyaris menjadi korban kekerasan seksual dari majikannya.

“Korban mengalami kekerasan fisik dengan cara disiram air panas, dan dipukul. Bahkan korban hampir terkena kekerasan seksual,” sebutnya.

Sementara Direktur Reskrimum Polda NTB, Kombes Pol Teddy Ristiawan mengatakan, korban bisa lolos ke Arab Saudi dengan cara identitasnya dipalsukan oleh tersangka, pada saat pembuatan paspor di Jakarta. “Korban berusia 14 tahun, namun terdaftar di paspor dengan identitas palsu, tahun kelahiran 1997,” sebutnya.

Korban pulang ke Indonesia sekitar bulan Agustus atau September 2022 lalu, dan pada awal November lalu, korban membuat laporan melalui BP3MI. “Bersama BP3MI kami melakukan penyelidikan dan penyidikan, dan kami juga bekerjasama dengan BP2MI Pusat dan Kementerian Luar Negeri. Kemudian kami berhasil mendapatkan informasi,” imbuhnya.

Kasus perdagangan orang ini terbongkar berawal dari korban yang mengeluh kepada orang tuanya, tentang apa yang dialaminya. Lalu orang tua korban yang berada di Dompu, menghubungi BP3MI Provinsi NTB untuk dilakukan penelusuran.

Baca Juga :  Usut Tuntas Temuan Invoice Fiktif Anggota DPRD NTB dan Program Beasiswa

“Kementerian Luar Negeri akhirnya menghubungi kedutaan besar perwakilan Indonesia di Arab Saudi untuk menelusuri korban. Bersama pihak kepolisian di sana, akhirnya korban berhasil ditemukan dan dipulangkan,” ujarnya.

Setelah tiba di Indonesia, korban secara resmi melapor ke Polda NTB. Pihak Polda pun langsung melakukan penelusuran lebih jauh. Dan pada tanggal 9 Desember kemarin, pelaku berhasil ditangkap di Jakarta Timur.

“Kami mencari tersangka ini selama dua minggu, karena tersangka kerap berpindah-pindah tempat untuk bersembunyi,” kata Teddy.

Pada saat dilakukan penelusuran, polisi juga berhasil menemukan sebanyak 32 paspor. “Paspor itu, didominasi oleh warga yang beralamatkan di daerah Sukabumi, Sulawesi dan Sumatera,” tuturnya.

Dari hasil pemeriksaan, tersangka mendapatkan order pesanan dari orang berinisial MDM asal Arab Saudi, dengan imbalan sebesar RP 55 juta.

“Jadi yang memesan tenaga kerja ini orang Arab Saudi, dengan memberikan imbalan sebesar Rp 55 juta per orang. Pelaku ini juga mengirimkan ke beberapa agennya yang lain di beberapa kota lainnya,” ungkapnya.

Uang Rp 55 juta itu dipergunakan pelaku untuk biaya operasional, pembuatan paspor dan lainnya. Per kepala, korban bisa meraup untung sebesar Rp 25 juta. “Untung bersih yang didapatkan oleh tersangka tersebut sebesar Rp 25 juta,” katanya.

Berdasarkan pengakuan IS, korban dibawa temannya berinisial SL dan NS. Yang saat ini masih bekerja di Arab Saudi. Untuk dua orang itu, polisi masih melakukan proses pengembangan dan berkoordinasi dengan pihak terkait. “Masih kami kembangkan untuk dua orang itu,” ujarnya.

Tersangka tersebut, memiliki jaringan dengan orang Arab Saudi. Dengan begitu, ketika ada permintaan tenaga kerja, tersangka langsung dihubungi oleh calo yang ada di Arab Saudi tersebut.

“Tersangka ini juga memiliki jaringan yang tersebar di beberapa kota atau daerah di Indonesia, yang membantunya dalam proses perekrutan,” katanya.

Dengan memiliki jaringan bersama orang Arab Saudi, tersangka tidak perlu menyiapkan tempat penampungan. Melainkan langsung mengirim tenaga kerja ke Arab Saudi atas permintaan jaringannya yang berada di Arab Saudi.  “Untuk jaringannya yang ada di Arab Saudi ini, masih kami telusuri,” cetusnya.

Baca Juga :  Dana BOS Jadi Temuan BPK, Kerugian Negara Rp 1,18 Miliar

Untuk meloloskan korban ini, tersangka awalnya mulai memalsukan identitas pribadi korban. Mulai dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK) korban. Dan pembuatan paspor dilakukan di Jakarta. “Jadi pada saat korban berangkat ke luar negeri, menggunakan data-data identitas yang sudah dipalsukan, terutama soal usia korban,” sebutnya.

Perihal asal korban di KTP dan KK tersebut, masih menggunakan kelahiran wilayah NTB. Persoalan pemalsuan identitas ini, pihaknya masih mempelajarinya lebih dalam. “Apakah memang ada kesalahan administrasi atau ada unsur kesengajaan dari pihak-pihak yang bersangkutan,” jelasnya.

Kepada tersangka, disangkakan dengan Pasal 6, Pasal 10, Pasal 11 Jo. Pasal 4 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman hukuman pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp120 juta dan paling banyak Rp600 juta.

Sisi lain, pada 7 November 2022 lalu, Polda NTB juga berhasil mengamankan dua orang pelaku yang memberangkatkan PMI secara ilegal tujuan Arab Saudi. Keduanya inisial SN perempuan 31 tahun asal Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah dan HM laki-laki 27 tahun asal Sandik, Kecamatan Batu Layar, Lombok Barat. “Ada 16 orang korbannya dan yang berhasil terselamatkan sebanyak 9 orang,” kata Artanto.

Untuk memuluskan aksinya, pelaku memintai para korban uang sebesar Rp 22 juta per orangnya. Uang itu, nanti akan digunakan untuk biaya mengurus paspor, pemeriksaan kesehatan dan visa bekerja di Arab Saudi. Pelaku juga mengimingi para korbannya akan mendapatkan gaji dengan jumlah besar.

“Pelaku menjanjikan para korban akan berangkat bekerja menjadi PMI ke Arab Saudi dengan biaya Rp 22 juta per orang,” katanya.

Namun setelah uang disetorkan, korban tak kunjung diberangkatkan. Sehingga salah satu dari korban melapor ke Mapolda NTB. “Kepada kedua orang ini, disangkakan Pasal 81 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda paling banyak Rp 15 miliar,” pungkasnya. (cr-sid)

Komentar Anda