Pokdarwis Keluhkan Pengaplingan Sempadan Pantai Sekotong

PANTAI-SEKOTONG
PANTAI SEKOTONG: Kawasan Wisata pantai Sekotong, Lombok Barat yang sangat indah dan selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. (DOK/RADAR LOMBOK)

GIRI MENANG — Para pelaku pariwisata di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lomok Barat (Lobar), yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sekotong Barat, mengeluhkan adanya praktik kapling garis sempadan pantai di daerahnya. Pengaplingan garis sempadan pantai itu dilakukan oleh para pemodal dan pemilik hotel, sehingga akses publik pengunjung (wisatawan) menjadi terbatas.

Ketua Pokdarwis Sekotong Barat, Sahnil menjelaskan saat ini di kawasan Sekotong, banyak hotel yang mengkapling garis sempadan, dengan cara membangun tembok tinggi. Kondisi ini tak ayal dikeluhkan orang masyarakat, khususnya pengunjung. Karena membuat akses masyarakat di pinggir pantai menjadi terbatas. “Kita minta pantai yang di kapling ini bisa ditertibkan,” harap Sahnil, Minggu (16/6).

BACA JUGA: Catat, Dilarang Pacaran di Bukit Pergasingan

Tamu lokal yang datang, banyak mengeluhkan sulitnya mengakses pinggiran pantai. Karena kebanyakan pinggir partai sudah di tembok dan di kapling oleh pemodal. Sebagai pelaku usaha pariwisata di daerah tersebut, tentu pihaknya merasakan juga. Hal itu tidak bisa dilakukan, karena melanggar aturan. “Garis sempadan tidak boleh dimiliki secara pribadi, karena itu merupakan akses dan fasilitas publik. Kita  berharap penataan pantai-pantai yang di kapling ini bisa di buka, biar bisa jedi area publik,” harapnya.

Kawasan wisata Sekotong Barat, lanjut Sahnil, memiliki garis pantai sepanjang 15 kilometer. Tetapi tidak semua garis pantai itu bisa diakses oleh masyarakat umum, apalagi tamu luar. “Cuma beberapa garis pantai saja yang bisa di akses. Semoga tahun ini ada penataan tata ruang tentang sempadan pantai,” ujarnya.

Disebutkan, sepanjang garis pantai mulai dari kawasan Batu Kijuk sampai Tembowong, hampir semua ada bangunan tembok yang membatasi atau menutup akses jalan masyarakat untuk mengakses jalan ini. Bahkan jika dihitung, mungkin lebih banyak jumlah pantai yang di kapling daripada yang tidak. “Hampir semua  garis sempadan pantai sudah di kapling,” keluhnya.

BACA JUGA: Rinjani Dibuka Kembali untuk Pendaki

Wakil Ketua DPRD Lobar, H Sulhan Mukhlis, juga angkat bicara soal penataan ruang kawasan garis sempadan pantai tersebut. Menurutnya, Pemkab Lobar seharusnya bisa bersikap adil terhadap pemanfaatan garis sempadan pantai.

Kalau ada yang sifatnya melanggar tata ruang garis sempadan pantai, seharusnya Pemda Lobar segera melakukan penertiban, dan jangan malah membiarkan. Pasalnya, ada pelanggaran yang sudah lama terjadi, namun Pemda Lobar seakan melakukan pembiaran. Sementara di satu sisi, ketika ada masyakarat yang hendak memanfaatkan sempadan pantai dengan meminta rekomendasi, justeru Pemda mempersulit dan tidak mengizinkan. “Pemda harusnya adil. Kalau ada pelanggaran segera ditertibkan,” tandas Sulhan. (ami)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid