PKS Masih Terbuka Usung Calon Alternatif untuk Bertarung di Pilpres 2024

Ahmad Syaikhu

MATARAM—Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu menghadiri acara konsolidasi pengurus DPTW dan DPTD PKS se-NTB, bertempat di Kantor DPW PKS NTB pada Selasa siang (22/3).

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua DPW PKS NTB Yek Agil bersama jajaran anggota DPRD Fraksi PKS. “Silaturahmi ini saya kira, kita ingin memberikan kesamaan semangat dari DPP sampai DPW, DPC hingga ke DPRA PKS. Sehingga seluruh frekuensi semua kader akan sama, dalam upaya untuk menyongsong Pemilu 2024,” kata  Ahmad Syaikhu, kepada wartawan usia acara.

Dengan semangat frekuensi yang sama, Ahmad Syaikhu meyakini kalau PKS bisa menjadi pemenang dalam Pemilu 2024. “Makanya kita tetap berusaha, berikhtiar, dan bekerja, agar kita bisa menang di Pemilu 2024,” ujarnya.

Mengenai strategi yang akan dilakukan, pihaknya mengaku telah mempersiapkan secara matang. Namun secara detail apa yang menjadi strategi yang akan dilakukan, tentu tidak dapat disampaikan, karena itu menjadi rahasia internal.

“Tetapi politik kami di PKS adalah upaya untuk mewujudkan politik silaturrahim. Sehingga saya minta seluruh struktur dan kader untuk membangun terus jalinan silaturrahim ke berbagai elemen masyarakat dan stakeholder terkait,” ucap Ahmad Syaikhu.

Ia juga berharap perolehan suara PKS, khususnya di NTB bisa menjadi lumbung suara pada Pemilu 2024 mendatang. Bahkan harus melebihi dari apa yang sudah ditergetkan di daerah lain. “Kalau saya ditargetkan 15 persen untuk Pemilu 2024. Maka kalau seandainya sama di NTB dengan daerah yang lain hanya mencapai 15 persen, tentu berat. Bagi kami bisa sampai 15 persen secara nasional,” terangnya.

BACA JUGA :  Opsi Duet Syamsul Luthfi-Abdul Hadi Muncul

Disinggung soal Capres-Cawapres PKS di 2024, Ahmad Syaikhu menyatakan posisi PKS di konstelasi Pilpres 2024, berdasarkan hasil putusan Majelis Syuro PKS ke-6, memberikan amanah untuk mengusung Salim Segaf Al Jufri di Pilpres 2024.

Salim Segaf Al Jufri sambungnya, bukan nama baru di kancah perpolitikan tanah air. “Kita sepakat melakukan penokohan bagi Habib (Salim Segaf Al Jufri), untuk kepentingan partai,” ucapnya.

Tetapi hal tersebut, kata Anggota DPR RI itu tidak serta merta harus menjadi Capres-Cawapres. Pihaknya secara berkala akan melakukan evaluasi, hingga nanti terbentuk koalisi permanen dalam mengusung pasangan Capres-Cawapres di 2024.

Untuk itu, PKS masih memungkinkan munculnya calon alternatif yang akan diusung. Hal ini akan menjadi bahan kajian Majelis Syuro PKS yang ke-7. “Setelah 6 bulan, ini akan dikaji oleh Majelis Syuro. Kalau nanti hasilnya harus memunculkan tokoh lain, ya kita akan munculkan,” ucapnya.

Sejumlah nama kader PKS yang bisa diusulkan sebagai calon alternatif, diantaranyaadalah  nama Gubernur NTB, H. Zulkieflimansyah, mantan Gubernur Jawa Barat,  Ahmad Heryawan, dan beberapa nama lainnya.

“Seperti misalnya Bang Zul (sapaan akrab Gubernur NTB), atau juga Kang Aher (mantan Gubernur Jawa Barat), atau Dr Iwan Paryitno (mantan Gubernur Sumatera Barat). Mereka ini yang sudah teruji menjadi kepala daerah,” ungkapnya.

Secara khusus, ia juga membeberkan figur Gubernur NTB itu sebagai sosok yang memiliki banyak prestasi. Khususnya melakukan lobi-lobi politik yang beririsan langsung dengan proyek-proyek nasional. “Saya salut dan apresiasi atas prestasi yang sudah dicapai oleh beliau (Zulkieflimansyah). Termasuk dalam konteks membangun komunikasi yang baik dengan seluruh stakeholder yang ada di negeri ini,” pujinya.

BACA JUGA :  Pencalonan Dr Zul Diserahkan ke PKS dan Demokrat

Salah satu faktanya, kata Ahamd Syaikhu, proyek skala nasional dan internasional banyak dibangun di NTB. Khusus soal keberadaan Sirkuit Mandalika, saat menjadi kebanggaan bagi masyarakat Indonesia. Hal ini bagian dari bukti kinerja dari Bung Zul. “Itu keberhasilan yang membuat Indonesia terkenal di tataran internasional,” ucapnya.

Namun ia juga memberi penekanan, bahwa siapapun nantinya yang akan diusung PKS, akan sengat bergantung pada peta koalisi. Karena tanpa koalisi tentu PKS tidak bisa mengusung pasangan calon sendiri jika mengacu pada aturan.

“Kalau Capresnya dari Jawa, tentu Cawapresnya enggak mungkin juga dari Jawa. Bisa jadi dari NTB, maupun daerah lain. Itu yang akan kita bicarakan dengan partai koalisi,” terangnya.

Namun yang pasti, pihaknya terus membangun komunikasi dengan partai lain, guna menjajaki koalisi. Terlebih peta koalisi menuju Pilpres 2024 masih sangat dinamis hingga sekarang. Dimana partai politik belum ada yang menentukan sikap, lantaran mayoritas partai politik masih terikat koalisi. “Mereka belum leluasa untuk mengeluarkan uneg-uneg atau sikap yang jelas,” ulasnya.

Sementara Ketua DPW PKS NTB, Yek Agil sangat optimis PKS bisa menjadi pertai pememang di NTB, sesuai amanah musyawarah wilayah PKS pada 2020 lalu, meski tidak mudah.

“PKS menargetkan untuk menjadi partai pemenang di Pileg NTB 2024. Itu tentu tidak mudah. Maka Tentu seluruh pengurus, kader, Caleg dan sumber daya PKS lainnya harus bekerja super keras untuk mewujudkan,” tegasnya. (sal)