PKS Jajaki Johan Digandeng Ahyar dan Suhaili

Abdul Hadi
Abdul Hadi (Azwar/Radar Lombok)

MATARAM — Belakangan komunikasi politik dibangun dan dijajaki Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan Partai Demokrat untuk menduetkan Zulkiflimansyah-Siti Rohmi meredup.

Ini karena Partai Demokrat pun lebih intens membangun dan menjajaki koalisi dengan Partai Golkar untuk mengusung duet Suhaili-Rohmi. Meskipun belakangan muncul aspirasi  Siti Rohmi Djalilah digadang-gadang sebagai bakal calon gubernur (Bacagub) bukan bakal calon wakil gubernur (Bacawagub).

Ketua DPW PKS Provinsi NTB, Abdul Hadi mengakui,  partai menyerahkan sepenuhnya  keputusan maju atau tidak di kontestasi di pilkada NTB kepada pribadi Zulkieflimansyah. Pasalnya, PKS sudah memiliki opsi lain dengan menjagokan Johan Rosihan sebagai bakal calon wakil gubernur, andai memang peluang posisi bacawagub lebih memungkinkan bagi PKS.

“Peluang Pak Johan sebagai bacawagub dari PKS kita jajaki juga,” kata Wakil Ketua DPRD Provinsi NTB, kepada Radar Lombok, Jumat kemarin (16/6).

Ia mengatakan, PKS sudah membangun komunikasi politik dan menjajaki kemungkinan duet kader PKS Johan Rosihan dengan bacagub yang ada. Adapun bacagub dimaksud adalah Ahyar Abduh dan Suhaili. Bahkan, pihaknya pun sudah menyodorkan Johan Rosihan kepada dua bacagub tersebut sebagai pendamping dalam kontestasi perebutan kursi NTB 1 dan NTB 2.

Bukan tanpa alasan dan pertimbangan pihaknya menyodorkan Johan Rosihan kepada kedua bacagub tersebut. Yakni, pertama, baik Ahyar Abduh dan Suhaili sudah memiliki parpol pengusung sebagai kendaraan untuk maju di Pilkada NTB. Ahyar Abduh dengan Partai Gerindra dan Suhaili dengan Partai Golkar.

“Baik dengan Partai Gerindra maupun Partai Golkar kita berkoalisi sudah memenuhi persyaratan dukungan kursi di DPRD NTB,” ujar bakal calon Bupati Lombok Timur tersebut.

Kedua, kedua bacagub tersebut yakni Ahyar Abduh dan Suhaili relatif memiliki elektabilitas tinggi dibandingkan dengan kandidat calon lainnya.

BACA JUGA :  Rohmi Langsung Turun Gunung

Ketiga, pihaknya pun berharap ada koalisi permanen terbangun paralel baik di Pilkada NTB dan Pilkada kabupaten kota. Dengan koalisi terbangun paralel tersebut bakal lebih memudahkan koordinasi, konsolidasi dan optimalisasi mesin parpol dalam rangka memenangkan pasangan calon diusung di suksesi pilkada serentak 2018.

Selain itu, dengan koalisi terbangun paralel cost politik pun bisa ditekan. Meskipun komunikasi politik dibangun dan dijajaki tersebut belum final atau belum menemukan titik temu. Namun pihaknya terus menjajaki ada kemungkinan koalisi tersebut.

“Namun penjajakan dengan pak Ahyar maupun pak Suhaili terus kita upayakan,” imbuhnya.

Bakal calon gubernur, Ahyar Abduh mengatakan, dirinya sedang menimang-menimang sejumlah figur punya kans mendampingi dirinya di Pilkada NTB. Misalnya, Morry Hanafi, Johan Rosihan, Nurdin Ranggabarani, Aris Muhammad, Muhammad Amin, Qurais Abidin, Jamaluddin Malik dan sejumlah figur lainnya.

Ahyar pun mensyaratkan beberapa hal yang wajib dimiliki calon wakil yang akan digandengnya nanti. Di antaranya harus mampu meningkatkan perolehan suara dan harus memenuhi kriteria kecocokan dalam menjalankan pemerintahan nantinya.

“Seorang wakil harus bisa menaikkan perolehan suara, kita semua mau menang kan. Serta sudah pasti ada kecocokan tentunya” ujar Walikota Mataram dua periode tersebut.

Namun ia masih belum menetapkan siapa yang akan digandengnya dalam kontestasi Pilkada NTB 2018 mendatang. Meskipun beberapa nama telah santer terdengar akan mendampinginya, Ahyar mengaku belum membuat keputusan final terkait hal ini.

“Kalau sudah ada partai yang sebut nama, tentu itu akan dibicarakan ditingkat partai koalisi nanti. Kepada saya secara pribadi belum bicara, apa sudah final atau tidak,” pungkasnya.(yan)