PKL Lama Tersisih dengan Kehadiran Pedagang Baru di Taman Wisata Loang Balok

Taman Wisata Loang Balok
PEDAGANG LAMA SEPI : Perebedaan fasilitas yang didapat pedagang baru dengan PKL lama di Taman Wisata Loang Balok, Sekarbela. Tampak tidak ada pengunjung yang mendatangi lapak milik PKL yang lama.

MATARAM – Pembangunan sentra kuliner di kawasan Taman Wisata Loang Balok (TWLB) Sekarbela, menyisakan pilu bagi para pedagang kaki lima (PKL) lama yang berjualan di lokasi tersebut. Pasalnya, adanya revitalisasi sentra kuliner tersebut menggeser lokasi dagang bagi para PKL ke tempat yang sepi pembeli.

“Rakyat jelata ditaruh dibelakang, sementara rakyat kaya di taruh di depan (Sentra Kuliner). Harusnya kita (PKL) yang ditempatkan di sana, karena kami ini pedagang lama  sepi pembeli,” tutur salah satu PKL di Taman Wisata Loang Balok, Mumun, kepada Radar Lomok, Ahad (6/3).

Pedagang yang sudah 7 tahun berjualan di TWLB ini merasa tidak adil. Ia bersama pedagang lainnya harus putar otak bagaimana agar jualan mereka bisa laku, karena penataan lokasi yang kurang strategis. Berada di sudut belakang bangunan sentra kuliner, menjadi salah satu alasan pengunjung enggan datang ke lapak PKL.

Meski telah mengeluh dan menyampaikan aspirasinya terkait kondisi yang mereka rasakan ke dinas terkait, namun belum ada tindak lanjut dari Pemkot Mataram. Sementara untuk mengakali agar dagangannya bisa laku, para pedagang ini harus turun langsung dan keliling menawarkan jualannya pada setiap pengunjung yang datang.

“Kalau tidak didatengin satu satu pengunjung, tidak ada yang mau datang ke lapak kami, soalnya tidak kelihatan,” ungkapnya.

Senada, pedagang lain Jumrah, mengakui rela mengajak anaknya untuk ikut berjualan, lantaran sepinya pembeli yang datang ke lapaknya. Anaknya bertugas menawarkan menu dagangannya, sementara ia dan suami menjaga lapak dan memasak. Kondisi ini sudah berlangsung sejak beroperasinya sentra kuliner di Taman Wisata  Loang Balok.

“Katanya Sentra Kuliner akan diperuntukkan bagi PKL yang telah lama berjualan di sini. Namun nyatanya orang luar yang ditempatkan di sana,” jelasnya.

Jumrah menyesalkan perlakuan tidak adil pemerintah kepada para pedagang lama. Menurutnya cara pemerintah yang tidak melakukan musyawarah terlebih dahulu dinilai telah mengesampingkan nasib para PKL. Apalagi fasilitas yang diberikan pada pedagang baru, yakni alat dapur yang lengkap, kulkas, toilet dan lainnya. Jauh berbeda dengan pedagang lama yang bahkan listrik untuk penerangan pun tidak ada disediakan alias bayar sendiri.

“Kayak perang gitu, diem diem mereka dikasi kunci tidak ada musyawarah dulu. Tidak ada bantuan pemerintah atau pengelola, semua lapak pedagang sini dibuat sendiri, modal gadai BPKB motor, urusan toilet pun kita tidak dikasih,” ungkapnya.

Hal berbeda justru dirasakan Nani pedagang baru asal Sweta. Ia mengaku nyaman dengan lokasi yang disediakan Pemkot Mataram di TWLB. Disebutnya seperti mendapat durian runtuh, lantaran diberi ruang untuk berjualan makanan di sentra kuliner di kawasan Taman Wisata Loang Balok. Bahkan, sejumlah fasilitas yang diberikan gratis alias tidak bayar. Sebelumnya ia mengaku telah mendapat tawaran dari pihak pengelola untuk berjualan makanan.

“Sangat senang dengan adanya sentra kuliner ini. Harapannya semoga bisa membantu perekonomian, rame didatangi pengunjung,” ujarnya.

Sementara, Haris pedagang baru asal Cakranegara mengatakan bersyukur telah diberi kesempatan berjualan di sentra kuliner. Ia pun mengucapkan rasa terima kasihnya kepada pemerintah setempat dengan adanya revitalisasi sentra kuliner ini.

“Sangat bermanfaat, jadi saya juga tidak terlalu banyak membutuhkan pekerja, ” tandasnya.

Sebelumnya Pemerintah Kota Mataram telah membangun lapak sentra kuliner khusus bagi pedagang yang sudah ada. Sekaligus mengakomodasi para pedagang ikan bakar atau makanan hasil laut lainnya yang berjualan disepanjang jalan Loang Balok. Lapak yang menghabiskan dana Rp 2,4 miliar itu dibangun untuk menggantikan lapak pedagang kaki lima yang kondisinya kurang representatif. (cr-rat)