Pintu Masuk Ditutup, Dalam Kota Disekat

Masih Banyak yang Belum Tahu PPKM

DITUTUP : Selain menutup akses pintu masuk kota selama pemberlakuan PPKM darurat, penyekatan juga dilakukan di tengah Kota Mataram untuk mengurangi aktivitas masyarakat. (ALI MA’SHUM/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Pemerintah harus lebih mensosialisasikan lagi tentang pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Kendati pelaksanaannya sudah memasuki hari kedua. Ternyata cukup banyak warga masyarakat yang belum mengetahui PPKM darurat diberlakukan di Kota Mataram.

Banyak yang kaget ketika disetop petugas gabungan di titik penyekatan PPKM darurat. ‘’Belum tahu ada PPKM darurat. Tahunya sudah disetop saja di sini,’’ ujar Akmal salah satu warga luar Kota Mataram yang disetop di posko penyekatan Bundaran Mentaram Metro, Jempong Kota Mataram, kemarin (13/7).

Akmal pun kaget dengan persyaratan yang diminta petugas saat diperiksa di pos penyekatan. Seperti pemeriksaan KTP, kartu vaksin dan lainnya. Sementara Akmal mengaku belum divaksin.

Karenanya, dia diarahkan untuk mengikuti swab tes oleh tim medis Puskesmas Ampenan yang saat itu bertugas. ‘’Ya sudah saya ikut prosedur saja. Tidak apa-apa di-swab,’’ katanya.

Kondisi di pos penyekatan Bundaran Mentaram Metro ditinjau langsung oleh Dandim 1606 Mataram, Kolonel Arm Gunawan. Dandim juga menyetop kendaraan yang melintas dan memeriksa kelengkapan pengendara. Dia menilai, kesadaran warga masyarakat masih sangat kurang. Karena masih banyak warga yang memasuki Kota Mataram saat PPKM darurat diberlakukan. ‘’Mereka ini tidak paham apa maksudnya PPKM darurat. Mungkin di lingkungan mereka dilihat tidak ada yang sakit. Atau yang menderita karena Covid-19 mungkin dia ndak lihat. Tapi dia harus yakin salah satu penyebab penyebaran covid ini salah satunya mobilitas warga,’’ katanya.

Karena jika warga masyarakat memahami kondisi. Tentu dengan sendirinya akan mempertimbangkan keluar rumah. Apalagi ke Kota Mataram dengan tujuan yang memang urgen dan perlu. ‘’Kalau keluar rumah itu ya seperti untuk keperluan esensial yang dibutuhkan. Kalau tidak terlalu penting bisa ditunda. Seharusnya mereka tidak bepergian. Ini saya lihat masih kurang kesadaran masyarakat. Mereka masih berpikir gak apa-apa dan tidak ada apa-apa,’’ ungkapnya.

Dandim juga melihat langsung jalannya swab tes warga yang dicegat di pos penyekatan. Dari puluhan warga yang disetop. Satu diantaranya dengan hasil reaktif. ‘’Satu yang reaktif. Sekarang dirujuk ke Puskesmas Bengkel. Mereka itu tiga orang disatu kendaraan bawa truk,’’ terangnya.

Pelaksanaan pemeriksaan di pos penyekatan juga disebutnya perlu dievaluasi. Karena yang terjadi di hari kedua. Terhadap warga yang tidak memiliki persyaratan lengkap. Langsung diarahkan melaksanakan swab tes. ‘’Nanti kita coba evaluasi lagi. Terutama tentang keperluan dia bepergian. Meskipun sudah divaksin, dia juga tidak perlu pergi kalau tidak penting sekali. Nanti ini lebih kita tekankan lagi di masyarakat,’’ jelasnya.

BACA JUGA :  Sirkuit Mandalika Dites Motocross Dunia

Dandim menyarankan, untuk warga yang tidak punya persyaratan lengkap dan keperluannya tidak terlalu mendesak, disarankan untuk balik arah meninggalkan Kota Mataram ketimbang harus melaksanakan swab tes. Karena alat swab yang dimiliki pemerintah juga terbatas. ‘’Betul begitu, karena alat kita juga terbatas untuk swab antigen. Jangan sampai kita hanya menghabiskan swab antigen tapi tidak mengurangi aktivitas warga. Ya alat swab-nya habis. Bukan itu maksudnya yang di-swab nanti yang benar-benar urgen dan dia belum divaksin,’’ terangnya.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kota Mataram, I Nyoman Suwandiasa mengatakan, hari kedua pelaksanaan PPKM darurat. Masih ada warga masyarakat yang tidak taat protokol kesehatan. Seperti tidak menggunakan masker. Lalu juga ditemukan bergejala. ‘’Kalau seperti ini langsung swab di tempat. Termasuk juga kalau yang bersangkutan belum divaksin. Kita juga nanti pasti evaluasi lagi. Yang kepentingannya tidak terlalu penting. Jangan dulu datang ke Mataram,’’ katanya.

Di sisi lain, tambah Nyoman, jumlah warga Kota Mataram yang terpapar Covid-19 terus bertambah. Dalam sehari kemarin, tercatat 68 warga ibu kota terkonfirmasi positif Covid-19. Hingga saat ini, total kasus Covid-19 di Kota Mataram mencapai 4.303 kasus.

Jumlah tersebut akumulasi sejak awal pandemi tahun lalu. Rinciannya, pasien meninggal dunia 167 orang. Pasien sembuh 4.067 orang dan masih menjalani isolasi mandiri 69 orang. ‘’Untuk tanggal 12 kemarin kita memang ada tambahan kasus sesuai data Dinas Kesehatan Provinsi NTB. Kota Mataram ada tambahan 68 kasus Covid-19,’’ sebutnya.

Kasus baru ini masih lebih tinggi dibandingkan jumlah pasien yang sembuh. Untuk pasien sembuh di Mataram tercatat 38 orang. Sedangkan yang melaksanakan kontak erat 75 orang. Lalu yang suspek dan masih menunggu hasil tes PCR 2 orang. ‘’Jumlah yang sembuh banyak tapi masih lebih sedikit dari kasus baru. Itu yang tanggal 12 kemarin,’’ katanya.

Dia mengatakan, Kota Mataram memang mengalami penambahan cukup signifikan di dua hari terakhir. Karena sehari sebelumnya, 73 warga Mataram terkonfirmasi positif Covid-19. Kendati penambahannya cukup banyak. Didapati karena kontak tracing dilakukan Kota Mataram cukup masif. ‘’Jadi mohon difahami ini karena kita meningkatkan kontak tracing. Karena tingkat kesembuhannya juga sangat signifikan jumlahnya,’’ katanya.

BACA JUGA :  Aset Tersangka Kasus Benih Jagung Ditelusuri

Dia mengatakan, penambahan yang cukup banyak ini wajar terjadi di tengah tracing kontak masif petugas. Hasilnya pun banyak didapati positif Covid-19. ‘’Ini ibaratnya obat, kita pahit dulu dengan kenyataan ini. Tapi diharapkan dengan tracing yang masif nanti kita bisa mendapatkan positif rate lebih baik,’’ ungkapnya.

Dengan angka Covid-19 di Mataram ini. Tak pelak pemerintah pusat memutuskan untuk pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Kota Mataram. ‘’Ini sedang kita perbaiki dan tangani semua supaya bisa lepas dari zona PPKM darurat,’’ terangnya.

Dari banyaknya kasus baru di Kota Mataram, Nyoman mengatakan, pihaknya belum menerima informasi tentang adanya penambahan varian baru Covid-19 atau Delta di Kota Mataram. Jumlahnya masih lima orang asal Kota Mataran yang terkonfirmasi varian Delta. ‘’Belum ada informasi penambahan itu. Masih lima orang. Tapi kondisinya sudah membaik walaupun masih satu yang dirawat. Kita belum ada informasi dari sekian banyak ini ada yang Delta,’’ jelasnya.

Sementara 68 kasus baru yang ditemukan di Kota Mataram, tidak semuanya dirawat di rumah sakit. Tapi sebagian besar melaksanakan isolasi mandiri karena tidak bergejala. ‘’Karena secara psikologis masyarakat kita lebih nyaman melaksanakan isolasi mandiri,’’ terangnya.

Hanya saja untuk isolasi mandiri harus dengan pengawasan ketat. Untuk itu, warga yang isolasi mandiri harus lolos asesmen terlebih dahulu dari petugas. ‘’Itu prosedurnya. Kalau memang surat rujukan yang dikeluarkan puskesmas mengizinkan yang bersangkutan isolasi mandiri. Baru diizinkan, kalau tidak layak maka tidak dibolehkan. Konsekuensinya kalau dia memaksa tidak dibiayai pemerintah,’’ jelasnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr H Usman Hadi mengakui ada penambahan yang cukup banyak di Kota Mataram. Hal ini karena pemerintah yang semakin masif melaksanakan kontak tracing. ‘’ Memang sekarang trend penambahannya sedang naik. Jadi kita jangan abai lagi tentang protokol kesehatan,’’ katanya. (gal)