Pilgub Berpotensi Digelar 2022, Kandidat Diprediksi Figur Lama

Saipul Hamdi (DOK/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu terbaru sedang dalam pembahasan oleh pemerintah dan DPR RI. Salah satu opsi dipertimbangkan yakni Pilkada serentak 2023 yang akan dimajukan setahun. Jika opsi itu disetujui oleh pemerintah dan DPR RI, maka Pilgub NTB 2023 dimajukan jadi 2022.

Perbincangan publik pun sudah mulai hangat terkait siapa figur atau tokoh yang berpeluang maju dalam perebutan kursi Gubernur dan Wakil Gubernur NTB tersebut.

Pengamat Politik Universitas Mataram Dr. Saipul Hamdi memperkirakan bahwa Pilgub NTB ke depan masih akan didominasi pertarungan para tokoh lama. Misalnya, Zulkieflimansyah, Sitti Rohmi Djalilah, Ahyar Abduh, M Suhaili FT, dan Ali Bin Dahlan. “Masih akan didominasi figur lama,” kata Alumnus Fisipol UGM Yogyakarta tersebut, Rabu (20/1).

Pasalnya, mereka masih punya pengaruh kuat dan akses dukungan ke parpol. Sebagai petahana, Zulkieflimansyah sudah digadang-gadang oleh PKS untuk melanjutkan periode kedua. Kemudian dukungan NW Pancor dan posisi sebagai Wakil Gubernur NTB membuat Sitti Rohmi tetap punya magnet kuat untuk kembali berlaga di Pilgub NTB. Kendati, sejauh ini Sitti Rohmi memilih tak bergabung ke salah satu partai pasca-keluar dari Demokrat.

Ahyar Abduh sendiri berpotensi tetap didukung Gerindra. Mengingat, Ridwan Hidayat kakak kandung Ahyar Abduh tetap memegang kendali Gerindra NTB. Ambisi Ahyar merebut kursi Ketua Golkar NTB juga tak terlepas dari strategi meraih tiket dukungan Golkar di Pilgub.

Namun jika kursi Ketua Golkar NTB tetap mampu dipertahankan Suhaili, maka tiket dukungan Golkar tetap dikantongi. Jikapun kursi Ketua Golkar NTB lepas, maka dengan dukungan Ormas Bodak, Suhaili tetap potensial meraih dukungan parpol lain misalnya PKB.

Begitu juga aktivitas mantan Bupati Lotim Moh Ali BD. Manuver politiknya sudah menjurus maju Pilgub NTB. Ali BD belakangan kembali intens dan aktif silaturahmi ke ponpes. Kemudian bedah buku dan sejumlah kegiatan lain. Ali BD pun diperkirakan akan tetap konsisten pada jalur independen. “Nama-nama tetap akan kembali bertarung di Pilgub ke depan,” terangnya.

Dia juga memperkirakan para Bupati yang sudah dua periode juga akan berminat maju. Jabatan dua periode itu, memaksa para Bupati itu harus naik tingkat. Misalnya Bupati Lotim Sukisman Azmi, Bupati Lobar Fauzan Khalid, Bupati KSB Musyafirin, dan Bupati Bima Indah Dhamayanti Putri. Terlepas mereka nanti mengincar posisi orang nomor satu atau dua, yang pasti ada kalkulasi dan pertimbangan politik tersendiri.

Misalnya, jika Zul-Rohmi pecah kongsi di Pilgub 2023, maka sangat terbuka kemungkinan Zul menggandeng Bupati Lotim Sukiman Azmi, dengan kalkulasi dan pertimbangan mengamankan suara Lotim sebagai kabupaten dengan jumlah pemilih terbesar di Pulau Lombok. “Pak Sukiman pun sangat mungkin mau jadi orang nomor dua,” terangnya.

Terkait kemungkinan pecah kongsi Zul-Rohmi di Pilgub NTB mendatang. Saipul memprediksi masih 50:50. Apalagi hubungan Zul dan NW Pancor acap kali mengalami pasang surut. Tetapi yang jelas TGB Zainul Majdi akan tetap jadi penentu apakah pasangan Zul-Rohmi akan berlanjut periode kedua atau pecah kongsi. “Penentu tetap di TGB (Zul-Rohmi) tetap atau pecah kongsi,” paparnya.

Sementara itu, Ketua KPU NTB Suhardi Soud menyatakan pada prinsipnya, pihaknya akan melaksanakan apapun jadi keputusan pemerintah dan DPR RI terkait Pilkada 2023. Sebagaimana saat ini tengah dibahas oleh pemerintah dan DPR RI terkait RUU Pemilu yang baru. Apakah Pilkada 2023 dimajukan 2022 atau Pilkada 2023 dimundurkan mengikuti Pilkada Serentak 2024. “KPU hanya sebagai pelaksana. Apapun keputusan pemerintah dan DPR terkait RUU Pemilu itu KPU harus siap,” pungkasnya. (yan)