Petani Tiga Desa di Bayan Sambut Baik Irigasi Tetes

Petani Bisa Menanam Tiga Kali dalam Setahun Berkat Irigasi Tetes

MEMERIKSA : Kepala Distanbun NTB Muhammad Riadi bersama Koordinator Agrindo Acep saat memastikan selang irigasi tetes beroperasi secara optimal dengan arus air yang deras mengalir mengairi tanaman. (IST/ RADAR LOMBOK )

TANJUNG – Kementerian Pertanian (Kementan) RI pada tahun 2019 silam telah membangun irigasi tetes, sebagai solusi bagi petani yang berada di wilayah lahan kering, seperti di wilayah Akar-Akar Kecamatan Bayan, Lombok Utara. Program irigasi tetes yang ditangani Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB tersebut mendapat respon positif dari petani yang menjadi penerima manfaat keberadaan dari irigasi tetes tersebut.

Program irigasi tetes yang masuk dalam tiga desa di Kecamatan Bayan tersebut menjadi harapan baru bagi para petani di wilayah tersebut. Karena irigasi tetes tersebut mampu meningkatkan produktivitas lahan petani seluas 200 hektar, khususnya di musim kemarau (MK) 1 dan MK2, yang biasanya dimulai musim tanam pada April – Mei setiap tahunnya.

Ketua Kelompok Sumur Pompa Bor (SPB) 212 Marjuni mengaku jika para petani yang mendapatkan manfaat dari keberadaan irigasi tetes dari pemerintah tersebut sangat bersyukur. Petani mulai merasakan mafaat dari keberadaan irigasi tetes pada MK 1 dan MK 2 tahun 2020 lalu.

“Kalau sebelumnya dibawah tahun 2019, kami di wilayah Desa Gunjan Sari (pemekaran dari desa Akar – Akar) hanya menanam sekali setahun ketika musim hujan saja. Tapi setelah adanya mesin irigasi tetes ini, kami sangat bersyukur sudah menanam tiga kali dalam setahun,” ungkap Marjuni yang dibenarkan juga oleh Kepala Dusun Temuansari Desan Gunjansari Sudirman dan sejumlah para petani yang tergabung dalam gabunngan kelompok tani (Gapoktan) SPB 212, Minggu (4/4).

Marjuni menuturkan, mesin irigasi tetes bantuan dari Kementerian Pertanian melalui Pemprov NTB tersebut telah membuat harapan petani menjadi kenyataan. Karena jika selama ini petani hanya mengandalkan air hujan dan menanam jagung sekali setahun, kini sudah bisa tiga kali setahun dengan memanfaatkan irigasi tetes pada musim kemarau (MK) 1 dan MK 2. Sementara itu, untuk musim hujan, petani tidak menggunakan mesin irigasi tetes, karena sudah ada ari hujan yang mengairi tanaman jagung petani.

“Alhamdulillah kami merasakan dan sangat terbantu dengan keberadaan irigasi tetes ini. Bahkan, semakin banyak petani yang mau bergabung memanfaatkan irigasi tetes ini diluar lahan 200 hektar yang sudah ada,” ungkap Marjuni.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dusun Temuansari Desan Gunjansari Sudirman, bahwa dengan adanya irigasi tetes, petani juga sangat terbantu dalam memenuhi kebutuhan pakan ternak sapi. Karena setiap petani di Dusun Temuansari selain menanam jagung juga beternak sapi. Jika pada musim kemarau, petani kesulitan mendapatkan rumput, bahkan harus membeli kebutuhan rumput hingga ke Gerung dan Narmada Lombok Barat.

“Tapi kini alhamdulillah petani tidak perlu lagi pergi jauh-jauh membeli rumput untuk pakan ternak ke Lombok Barat, ketika musim kering di tahun 2020. Karena irigasi tetes ini juga mampu menumbukan dan menyuburkan rumput sebagai pakan ternak. Jadi betul – betul nyata membantu petani jagung beserta ternak sapinya,” terang Sudirman.

Sudirman juga membantah adanya fitnah sejumlah pihak yang menuding irigasi tetes tersebut mangkrak atau tidak bermanfaat bagi petani di tiga desa di Kecamatan Bayan Lombok Utara. Justru sebaliknya, petani sangat terbantu dengan keberadaan irigasi tetes yang berdampak pada perekonomian petani di Bayan. Karena, petani sudah bisa menanam tiga kali setahun dari sebelumnya hanya sekali setahun.

“Masyarakat petani Bayan sangat ‘culuk’ (bersukur) dengan kehadiran irigasi tetes ini. Kami tinggal hanya butuh pendampingan dan penyuluhan dari petugas untuk tata cara bercocok tanam dengan memanfaatkan teknologi,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Agrindo Acep menerangkan pemasangan infrastruktur irigasi tetes dilaksanakan pada akhir Desember 2019. Kemudian mulai dimanfaatkan irigasi tetes tersebut pada MK 2 tahun 2020. Terdapat lima mesin pompa yang tersebar di luas lahan 200 hektar. Setiap satu mesin pompa mengairi 40 hektar lahan.

“Petani mulai memanfaatkan mesin irigasi  tetes ini pada MK 1 dan MK 2 dan petani sudah merasakan manfaatnya,” katanya.

Sementara itu, dalam operasional mesin irigasi tetes tersebut yang menjadi kendala adalah pada operasional terkait ketersediaan solar sebagai bahan bakar untuk menghidupkan mesin pompa. Bahan bakar minyak (BBM) jenis solar selama ini sangat sulit didapatkan petani ketika pemanfaatan mesin pompa irigasi tetes.

“Yang menjadi kendala itu hanya di BBM solar industri. Kami kesulitan mendapatkannya. Kami harus membeli menggunakan jerigen ke Mataram itu pun terbatas kami diberikan,” ungkapnya.

Hal tersebut diakui juga Ketua Kelompok SPB 212 Marjuni, jika ketika musim kemarau untuk memanfaatkan mesin pompa irigasi tetes kesulitan mendapatkan solar dalam jumlah banyak. Karena, untuk kebutuhan satu musim tanam di musim kemarau itu di satu mesin pompa irigasi tetes membutuhkan sedikitnya 480 liter per hektar atau per jam membutuhkan 1 liter solar. Sementara dalam sehari mesin pompa irigasi tetes harus  hidup 10 jam hingga 16 jam per hari untuk membagi air ke tanaman. Dengan demikian dalam 1 hektar sejak mulai tanam hingga panen itu membutuhkan sedikitnya 480 liter solar.

“Kendala kami sekarang ini adalah bagaimana mendapatkan solar untuk menghidupkan mesin pompa irigasi tetes. Kami berharap di MK 1 dan MK 2 pada Mei mendatang, pemerintah bisa memfasilitasi untuk memudahkan mendapatkan rekomendasi membeli BBM jenis solar,” harapnya.

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB Muhammad Riadi berjanji akan memfasilitasi petani yang memanfaatkan irigasi tetes di Kecamatan Bayan untuk bisa mendapatkan BBM jenis solar. Pihaknya, akan melakukan komunikasi dengan Asisten II Setda NTB dan juga pihak Dinas ESDM Provinsi NTB bersama pihak Pertamina agar bisa memberikan kemudahan kepada petani jagung di Bayan mendapatkan BBM jenis solar industri.

“Petani jagung merasakan manfaat irigasi tetes ini. Kami juga akan mengoptimalkan petugas penyuluh dan termasuk memfasilitasi kemudahan mendapatkan BBM solar. Kami optimis ini bisa terlaksana dengan baik, untuk kemajuan petani dan perekonomian masyarakat,” pungkasnya. (luk)

BACA JUGA :  Dinas Pertanian akan Bangun Proyek Irigasi