Petani Tembakau Risau, Dinas Klaim Aman

TERGENANG: Tampak tembakau petani di Desa Kidang Kecamatan Praya Timur yang tergenang akibat hujan lebat, kemarin. (ISTIMEWA/RADAR LOMBOK)

PRAYA – Kerisauan petani tembakau di Lombok Tengah untuk gagal panen karena menemui hujan ternyata tak sama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan setempat.

Distanak menegaskan bahwa kondisi tanaman tembakau petani masih aman. Pasalnya dari 8000-an hektare tanaman tembakau tahun ini, yang sudah terdampak baru lima hektare. Itu pun dianggap tidak terlalu rusak parah.

Sementara di satu sisi, para petani tembakau mengaku sudah berada di ambang kebingungan. Soalnya, pada awal musim tanam tahun 2021 ini petani tembakau tembakau memiliki kendala akut, yaitu awalnya kekeringan. “Karena kekeringan yang melanda sebagian besar sawah petani tembakau, tidak membuat mereka lantas menyerah begitu saja. Petani memiliki beberapa inovasi ataupun ide yaitu membeli air untuk menanam tembakaunya. Ada juga yang memilih menanam tembakau dengan metode membeli es batu untuk mengairi tembakau yang akan ditanam,” ungkap Ketua Assosiasi Petani Tembakau Swadaya Lombok (APETAL), Jopi Hendrayani kepada Radar Lombok, Minggu (27/6).

Namun di tengah perjuangan awal para petani tembakau yang begitu berat, tidaklah lantas membuat para petani tembakau menyerah, karena dengan menyerah berarti mereka kalah. Di saat tembakau para petani sudah mulai tumbuh sesuai dengan harapan dan perhitungann, para petani tembakau kemudian dihadapkan dengan datangnya musim hujan. “Di samping hujan yang terus menerus dari hulu ke hilir, lantas membuat beberapa irigasi yang kurang memadai membuat luapan di sawah petani tidak mampu dielakkan,” terangnya.

Tak pelak, kata Jopi, petani tembakau harus berjuang berjibaku melawan alam. Selain berjuang di awal musim tanam, mereka juga harus berjuang di pertengahan jalan. Karenanya, petani tembakau kini dihadapkan pada kebimbangan.

BACA JUGA :  Kades Pemepek Ditetapkan Jadi Tersangka Pungli

Tak hanya itu, petani tembakau juga harus tak tahu harus berbuat apa. Apakah mereka harus menyerah karena modal sudah habis atau mereka harus berutang kembali dan bangkit menanam tembakau di tengah cuaca yang kurang memadai. “Belum juga cobaan ini selesai kami hadapi, kini muncul beberapa isu dan fakta yang disampaikan sama pihak industri dan pemerintah yang mengatakan untuk tahun ini penyerapan tembakau petani tembakau Lombok berkurang, karena stok di gudang masih banyak. Padahal menurut beberapa data dari kementerian dan penelitian, Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhannya. Sehingga perlu untuk melakukan impor yang luar biasa banyak,” tegasnya.

Sementara itu, Kabid Perkebunan Distanak Lombok Tengah, Zaenal Arifin menyatakan, kalaupun saat ini banyak isu terkait petani tembakau yang gagal panen ataupun gagal tanam. Sebenarnya masyarakat masih bisa melakukan penyulaman dan itupun hanya di beberapa tempat atau tidak tersebar di semua wilayah yang kini menjadi pusat tanaman tembakau. “Saya sudah konsultasi di wilayah Janapria, petani tembakau bilang masih aman saja. Begitu juga di Desa Bilalando juga aman, apalagi di Desa Kidang. Kalaupun ada, tidak banyak, cuma sporadis tempatnya dan sebenarnya yang terkena imbas ini ada di Kecamatan Pujut dan Praya Barat,” ungkap Zaenal Arifin.

Di wilayah Pujut dan Praya Barat ini, tembakau warga sebelum hujan pertama memang sudah mulai layu, kemudian disusul hujan lagi. Tapi pihaknya menegaskan layunya tembakau petani tidak di satu tempat, dan tidak dalam jumlah yang luasan yang sangat luas. “Karena luasan tanaman tembakau kita yang paling luas menanam tembakau itu ada di dua kecamatan, yakni di Janapria sama Praya Timur. Kalau Kecamatan Kopang hanya sekitar 100 hektare dan di wilayah selatan hanya beberapa desa saja. Di satu sisi kalau di Pujut petani tembakau kita kadang tidak punya open, tapi petani budidaya yang hasilnya mereka jual ke pengepul,” terangnya.

BACA JUGA :  Loteng Masuk Zona Kekeringan Terparah

Zaenal menegaskan, saat ini hanya sekitar lima hektare yang terdampak akibat hujan ini, itupun bagi mereka belum dianggap tanaman tersebut mati. Karena jika tidak terjadi hujan terus menerus maka tembakau tersebut masih bisa mereka selamatkan. “Itu yang lima hektar dari 8000-an hektare dan tidak di satu lokasi,” terangnya.

Disampaikan, sebenarnya kalau mau menanam tembakau, maka harus membuatkan saluran drainase. Tapi faktanya para petani yang berada di wilayah selatan tidak melakukan hal seperti itu. Mereka menanam tembakau dengan biasa dan tidak ada perlakuan lain-lain. Sehingga ketika hujan datang, membuat air menjadi tergenang. “Kalau kita bandingkan dengan petani di wilayah utara yakni di Kopang, sekalipun Kopang daerahnya irigasi dan terjadi hujan. Tapi air bisa tetap keluar masuk dan tidak mengendap. Karena kalau air menggenang, maka itu yang membuat tembakau tidak kuat menahan air, karena dia layu. Apalagi tanah di wilayah selatan adalah tanah liat,” tambahnya. (met)