Petani Tembakau Keluhkan Kelangkaan Pupuk

TEMBAKAU
PUPUK LANGKA: Lahan pertanian tembaku rajang di Lotim yang membutuhkan pupuk. Namun para petani sangat kesulitan untuk bisa mendapatkan pupuk. (M GAZALI/RADAR LOMBOK)

SELONG – Petani tembakau rajang di Lombok Timur mengeluhkan ketersedian pupuk subsidi jenis urea. Kalau ada, itu pun harus dibeli dengan harga yang mahal dari distributor luar Lombok Timur.

Keluhan itu salah satunya datang dari petani tembakau rajang di Kecamatan Labuhan Haji, Sudirman. Dia mengaku, sudah hampir dua minggu kesulitan untuk membeli pupuk subsidi jenis urea. Kelangkaan pupuk ini menyebabkan dia pun terpaksa harus menunda pemupukan tembakaunya untuk yang terakhir. ‘’Sekarang ini sudah mulai mau kita mupuk. Tapi mau gimana pupuknya yang mau kita beli tidak ada,‘’ keluh Sudirman, Minggu (14/7).

Kelangkaan pupuk seperti ini disebutnya selalu terjadi setiap tahunnya. Bukan hanya dia, tapi petani lainnya juga merasakan hal yang sama. Persoalan yang terjadi ini terjadi dicurigai karena adanya permainan dari oknum pengusaha baik itu distributor maupun pengecer yang ingin mencari keuntungan. Padahal jatah pupuk yang akan mereka terima sudah ditentukan dalam RDKK.  ‘’Kemungkinan ini dimainka oleh pengusaha. Kalau seperti ini caranya kita petani yang dirugikan,‘’ ujarnya.

BACA JUGA: Petani Tembakau Harus Siap Terima Risiko

Mereka pun telah berupaya untuk menanyakan langsung keberadaan pupuk untuk di  beli ke para pengecer bahkan sampai ke distributor. Namun tak kunjung didapatkan dengan dalih karena belum datang. Kalaupun ada, itu pun  dibawa dan dijual oleh distributor dari Lombok Tengah. Namun pupuk itu dijual dengan harga yang sangat mahal yang sampai Rp 230 ribu perkwintal. Para petani yang sangat membutuhkan, dengan terpaksa terkadang harus membelinya meskipun dengan harga selangit. ‘’Padahal harga yang sebenarnya yaitu hanya Rp 210 ribu. Tapi kalau kita beli dari luar sampai Rp 230 ribu untuk urea. Makanya kita heran, kok dari Lombok Tengah pupuknya ada dijual ke sini,‘’ sebut dia.

Jika kondisi ini terus terjadinya, tentunya para petani yang akan merasakan dampaknya. karenanya, pemerintah dan pihak terkait lainnya harus segera besrikap menyikapi perrsoalan ini. Mereka harus mengawal penuh proses pendistribusian pupuk yang disalurkan oleh pihak distributor maupun pengecer ke para petani agar sesuai dengan peruntukkannya. Sehingga kedepan tidak ada lagi oknum-oknum yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari keuntungan. ‘’Yang kita persoalkan hanya pupuk saja. Soalnya selama ini tidak ada keterbukaan dalam pendistribusian pupuk ini sesalnya. Soalnya dari Lombok Tengah ada bawa pupuk ke sini. Sementara yang disisi kita sulit mencari,‘’ sebut dia.

BACA JUGA: Over Produksi, Petani Tembakau Terancam Merugi

Sebagian petani tembakau rajang di Lombok Timur kini sudah mulai panen. Termasuk sebagian dari tanaman tembakau miliknya telah mulai dipanen. Untuk satuan harga, diakuinya cukup baik. Di mana tembakau yang basah perkilogramnya dijual dengan harga Rp 3.700 perkilogram sedangkan yang sudah jadi disebutnya masih belum ditentukan standar harganya. ‘’Kalau kita bandingkan dengan tahun lalu ketika mulai pembukaan. Harganya lebih mahal tahun ini untuk tembakau basah. Kita tidak mitra dengan perusahaan melainkan langsung kita jual ke pengusaha dari Lampung,‘’ tutup dia.

Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur H Abadi  ketika dikofrimasi via telepon belum bisa memberikan keterangan. (lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid