Petani Kedelai Beralih Menanam Komoditi Lain

Harga Kedelai
KEDELAI MAHAL: Salah seorang pedagang kedelai di Pasar Mandalika.

MATARAM – Komoditi kedelai harganya semakin naik, bahkan sudah terjadi sejak 2020 lalu, baik kedelai impor maupun lokal. Untuk kedelai lokal sendiri pasokan berkurang lantaran banyak petani beralih menanam komoditi selain kedelai.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Edi Purwo menerangkan Dompu dan Bima yang menanam kedelai kini beralih menanam komoditi lain, sehingga harga kedelai semakin tinggi. Padahal kedelai sangat dibutuhkan oleh para perajin tahu dan tempe.

“Sudah sangat jarang petani menanam kedelai. Bahkan kedelai harganya hampir mendekati Rp 20 per kilogram (kg) untuk konsumsi,” ujar Edi Purwo, kepada Radar Lombok, Minggu (21/3).

Dikatakannya, petani yang beralih menanam komoditi ini banyak menanam padi. Karena musim tanam padi setiap hujan tetap menanam, lain halnya dengan kedelai. Meskipun waktunya sedikit mundur menanam padi karena kondisi cuaca. Karena petani itu masih bergantung pada program bantuan pemerintah, ada yang belum menggunakan swadaya untuk membeli sendiri benih kedelai.

Edi mengaku jika kendala saat ini sudah ada aturan dari pemerintah pusat dan harus ditaati. Sebenarnya petani membutuhkan bibit, hanya saja pihaknya terkendala aturan tidak dapat memberikan petani bantuan dalam kurun waktu 2 tahun berturut-turut.

“Kami tidak boleh memberikan bantuan 2 tahun berturut-turut itu-itu saja. Tapi NTB tidak ada petani yang mendapatkan bantuan itu,” ujarnya.

Bahkan lahan tanamannya hanya segitu-segitu saja dan tidak ada penambahan. Hal tersebut yang menjadi kendala dalam meningkatkan produksi kedelai.

“Bagaimana solusinya, petani tidak mendapat bantuan, program tidak jalan. Bagaimana lumbung pangan dilanjutkan,” paparnya.

Sebelumnya, perajin tahu dan tempe di NTB terpaksa menipiskan ukuran produksi mereka di tengah kondisi harga kedelai yang semakin tinggi. Daripada harus berhenti produksi, lantaran harga kedelai menembus Rp 1.060.000 per kwintalnya, beberapa hari lalu masih berada di posisi Rp 1.030.000 per kwintalnya.

“Kedelai tetap naik, bingung orang jual. Harganya sampai Rp  1 jutaan, sekarang saja sudah Rp 1.060.000 perkwintalnya,” Kata salah seorang perajin tahu tempe di Kekalik, Sahrudin.

Sebelum mengalami kenaikan ang cukup tinggi, harga kedela berada dikisaran Rp 700-800 ribu per kwintal. Namun kini mencapai jutaan rupiah, membuat perajin tahu tempe kebingunan harus tetap produksi dengan menanggung rugi atau menutup usaha mereka.

“Di Kekalik banyak yang menutup produksi. Tapi kita kalau mau nutup bagaimana sama nasib karyawan,” imbuhnya. (dev)