Petani Belajar Pupuk Berimbang pada Temu Lapang IFSCA

Petani Belajar Pupuk Berimbang pada Temu Lapang IFSCA
TEMU LAPANG : Temu Lapang diadakan IFSCA di Kelompok Tani Tulen Dusun Sambik Rindang Desa Salut Kecamatan Kayangan, Kamis (2/8). (IFSCA KLU FOR RADAR LOMBOK)

TANJUNG – Program East Indonesia Innovative Farming Systems & Capability for Agribusiness Activity (IFSCA) atau Inovasi Sistem Pertanian dan Kemampuan untuk Kegiatan Agribisnis Indonesia Timur semakin membantu masyarakat petani Kabupaten Lombok Utara (KLU) dalam meningkatkan kemampuannya.

IFSCA pada Kamis (2/8) kemarin mengadakan temu lapang bersama Kelompok Tani “Tulen” Dusun Sambik Rindang Desa Salut Kecamatan Kayangan. Jumlah peserta yang mengikuti sebanyak 57 orang dengan dihadiri sejumlah SKPD terkait lingkup Pemerintah KLU, terdiri pihak Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Dinas Perindustrian Perdagangan Usaha Kecil dan Menengah (Disperindag UKM). Selain itu hadir pula Petugas Penyuluh Lapangan (PPL), Field Officer, Project Leades IFSCA, Manajer IFSCA, dan Tenaga Ahli Program IFSCA.  “Temu lapang yang kita laksanakan ini belajar bagaimana pupuk berimbang kepada tanaman hortikultura,” ucap Manajer IFSCA KLU Lukman Taufik kepada Radar Lombok.

BACA JUGA: IFSCA Latih Petani Jaga Kesehatan dan Keselamatan dalam Bekerja

Dikatakan Lukman, dalam upaya pembelajaran peningkatan kapasitas dan keterampilan petani dalam budi daya hortikultura telah dikembangkan demplot untuk sistem pemupukan berimbang pada tanaman cabai, sehingga pembelajaran berlangsung lebih efektif. Untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran melalui demplot serta upaya sosialisai agar hasil pembelajaran bisa direplikasi lebih luas, maka dilakukan kegiatan temu lapang (field day). “Temu lapang ini peserta mengungkapkan kasus lapangan dalam permasalahan proses pemupukan. Kasus lapangan ini menjadi bahan diskusi,” jelasnya.

Temu lapang ini diharapkan agar peserta yang terdiri dari petani dan PPL bisa mendapatkan pengetahuan terkait proses pemupukan berimbang. Yaitu peserta memiliki wawasan mengenai teknik dan cara pemupukan dengan dosis yang sesuai menurut kubutuhan tanaman, peserta dapat melakukan tukar pengalaman mengenai teknik dan cara pemupukan yang diterapkan berdasarkan pengalaman lapangan, dan peserta memiliki gambaran tentang potensi, permasalahan dan rumusan rencana aksi dalam pengelolaan nutrisi tanaman dan penggunaan pupuk menurut kebutuhan tanaman.

Pemupukan berimbang bisa menghasilkan tanaman berkualitas yang dibutuhkan hotel-hotel di KLU. Terlebih program hortikultura yang berjalan tiga tahun ini mampu mendukung kegiatan pariwisata di KLU.

Dalam kesempatan yang sama, Project Leader IFSCA Prof. Ir. M Taufik Fauzi, MSc, Phd menegaskan kembali bahwa Program IFSCA merupakan program yang bertujuan meningkatkan pendapatan petani. Disampaikan pula bahwa telah terjadi peningkatan pendapatan petani binaan menjadi 61,04 persen pada tahun 2016 dan 44,64 persen pada tahun 2017.

BACA JUGA: Melalui IFSCA, Produk Hortikultura KLU Bisa Masuk Pasar Modern dan Perhotelan

Dukungan program lebih kuat untuk pemberdayaan masyarakat yang diharapkan akan banyak mewarnai kegiatan usaha tani horti yang dikembangkan selama ini dan dapat berubah menjadi usaha yang dikelola dengan pendekatan bisnis.

Digambarkan juga oleh Prof Taufik, bahwa pemasaran produk untuk segmen hotel di KLU dapat meraih keuntungan sampai dengan 25 persen. Di sisi lain, untuk menjaga agar posisi tawar petani tetap terpelihara, telah dikembangkan pemasaran satu pintu. Untuk ini IFSCA telah mendukung pembangunan empat unit gudang hort di seputaran sentra produksi yang akan dijadikan sebagai tempat sortasi, grading dan packing produk yang dihasilkan. Kaitan dengan agenda temu lapang, disampaikan bahwa setidaknya petani akan memiliki sejumlah referensi yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam menjalankan kegiatan usaha tani yang direncanakan.

Sementara itu Kepala DKPP KLU Ir. H. Melta mengatakan, pengembangan hortikultura sudah memasuki tiga tahun pembinaan oleh Program IFSCA. Sudah tentu banyak pembelajaran yang  diperoleh baik oleh petani maupun para PPL/Pendamping. Sehubungan dengan hal tersebut diharapkan PPL dapat segera melakukan percepatan pengembangan hortikultura dengan berbekal best practise yang diperoleh selama pembinaan serta mendayagunakan Tenaga Ahli Program IFSCA. DKPP akan mendukung hal yang menjadi kebutuhan percepatan dimaksud.

Terkait dengan persoalan ketersediaan bibit, agar petani merencanakan kebutuhan dengan tepat dan merumuskan menjadi usulan kegiatan SAPRODI yang ditujukan ke DKPP untuk pembiayaan Tahun Anggaran 2019. “Promosi tentang produk hortikultura Lombok Utara akan menjadi bagian yang tidak akan berhenti dilakukan guna mempercepat proses pemasaran produk yang dihasilkan oleh kelompok tani yang ada,” tegasnya.

Dalam diskusi tentang sistem pemupukan, Tenaga Ahli Program IFSCA Dr. Ir. Lolita Endang Susilowati, MP menyampaikan, demplot pemupukan mencerminkan hasil telah mampu meredusir penggunaan pupuk yang biasa dikembangkan petani dari 1,5 ton menjadi sekitar 800 kg/Ha dengan kapasitas produksi per Ha sekitar 4 ton untuk tanaman cabai rawit (dewasa). Diakui narasumber, bahwa kapasitas produksi yang didapat nyatanya di bawah kebiasaan petani.

BACA JUGA: Ajarkan Sistem Tumpang Sari & Plastic Tunnel Melalui IFSCA

Namun demikian, dalam mengembangkan keselamatan dan keamanan lingkungan sistem pemupukan berimbang, demplot dapat menjadi rujukan berharga. Di sisi lain, kebiasaan pemupukan petani akan berdampak pada kondisi tanah atau ingkungan yang tidak bagus dengan biaya yang lebih tinggi serta kebutuhan pupuk akan menjadi lebih besar dan sudah tentu dapat mengganggu aktivitas dalam usaha tani pada umumnya. (flo/adv)