Perusahaan Diminta Naikkan Harga Tembakau

SELONG—Perusahaan tembakau di Lombok Timur (Lotim) diingatkan agar menaikkan harga pembelian tembakau virginia dari petani binaan mereka. Ini menyikapi keluhan para petani tembakau yang selama ini harga jual tembakaunya masih jauh dari harapan (murah).

Hal ini disampaikan langsung Wakil Bupati Lotim, H. Khairul Warisin dalam pertemuan dengan sejumlah perusahaan, perwakilan kelompok petani tembakau,  termasuk juga  LSM, Kamis kemarin (18/7 ). Kesempatan itu, hadir juga pihak dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dishutbun) Lotim. “Perusahaan harus memperhatikan petani. Beli tembakau mereka dengan harga yang lebih tinggi dari sebelumnya. Jangan mereka dirugikan,” pinta Warisin.

Selama ini lanjutnya, perusahaan hanya  membeli tembakau petani dengan kwalitas dan grade tertentu saja. Sementara jika kwalitas tembakau tersebut dianggap tidak begitu bagus, perusahaan sama sekali tidak mau membeli. Harusnya perusahaan tidak boleh bersikap seperti itu. Karena jelas itu akan merugikan petani itu sendiri. “Semua kelas tembakau itu harus dibeli. Dari daun bawah sampai daun terakhir, harus dibeli. Jangan yang bagus saja dibeli. Petani harus dapat untung,” tegasnya.

Persoalan lainnya, tak sedikit dari petani terpaksa harus menjual tembakaunnya ke para tengkulak. Hal itu dilakukan lantaran tangkulak tersebut berani membeli dengan harga yang lebih mahal ketimbang perusahaan itu sendiri.

Dikatakan, ancaman iklim El- Nino yang melanda daerah ini tahun 2015 lalu,  berdampak terhadap hasil pertanian. Tak sedikit dari petani harus merasakan bencana kekeringan yang menyebabkan petani gagal panen. Itu terjadi di sejumlah kecamatan seperti Sambelia, Suela, Pringgabaya, Sakra, Keruak, dan Jerowaru, serta beberapa kecamatan lainnya. “Akibat perubahan iklim ini jelas dampaknya merugikan petani. Karena ratusan hektar lahan pertanian gagal panen,” jelasnya.

Selain perhatian untuk petani binaan, perusahaan juga diingatkan untuk memperhatikan petani swadaya. Karena selama ini keberadaan petani swadaya tidak pernah direkrut oleh perusahaan. “Petani swadaya ini sering kali terbentur modal. Sehigga mereka terpaksa harus minjam modal ke bank dan lainnya. Ini yang harus diperhatikan perusahaan,” harap Wabup.

Keluhan senada dilontarkan Sahabuddin, salah seorang petani tembakau. Selama ini perusahaan seringkali mengibuli petani. Mereka ini selalu melontarkan alasan yang sama. Namun nyatanya selama ini perusahaan tersebut tidak pernah memberikan solusi mengatasi satuan harga yang dikeluhkan petani. “Perusahaan membeli tembakau selalu melihat kwalitasnnya. Sementara biaya tanam dan produksi tembakau semakin tinggi,” keluhnya.

Sementara Kuswandi, pihak dari perusahaan PT. Sadhana mengakui bahwa kwalitas dan grade tembakau itu sendiri dinilai langsung oleh tim dari perusahaan. Sehingga penetapam grade itu dianggap sudah sesuai dengan standar nasional. (lie)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid