Pertumbuhan Ekonomi Lotim Terbaik di NTB

RAKOR : Rapat koordinasi Sekda Lotim bersama pihak BPS Lotim di ruang rapat Sekda kemarin.(Gazali/radarlombok.co.id)

SELONG– Pertumbuhan ekonomi Lombok Timur di 2020 terbaik atau paling tinggi dibandingkan dengan 10 kabupaten/kota lainnya di NTB, bahkan di atas provinsi.

Hal tersebut mengacu pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tanpa sektor tambang atau biji logam yang dirilis oleh BPS tertanggal 26 Januari 2021. Namun laju pertumbuhan ekonomi di 2020 mengalami perlambatan atau minus disebabkan karena dampak pandemi Covid-19. Perlambatan atau kontraksi ekonomi tersebut dialami oleh semua kabupaten/kota di NTB termasuk provinsi dan Indonesia secara umum.

Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi kepala BPS Lotim dan Sekda HM Juaini Taufik, Selasa (9/3). “Keunggulan sektor pertanian di Lotim menjadi suatu keuntungan karena sifatnya relatif konsisten. Berbeda dengan sektor pariwisata yang mengalami penurunan cukup signifikan selama pandemi Covid-19,” kata Juaini Taufik.

Karenanya untuk memperbaiki laju pertumbuhan ekonomi di tahun ini dan waktu mendatang, Taufik berharap sektor pertanian harus bisa dimaksimalkan dengan sebaik mungkin. Begitu juga dengan sektor potensial lainnya juga penting untuk digarap maksimal. Salah satunya tambang galian C yang berkontribusi untuk mendorong pertumbuhan sektor pertambangan.”Tapi sekarang ini tambang galian C tersebut hingga saat ini masih dimanfaatkan oleh pembangunan sektor pariwisata Lombok Tengah yang berfokus di kawasan wisata Mandalika,” tandasnya.

Sementara itu Kepala BPS Lotim, Lalu Putradi menambahkan, ancaman pandemi Covid-19 menjadi penyebab utama lambannya pertumbuhan ekonomi di seluruh Indonesia. Bahkan di tahun 2020 pertumbuhan ekonomi NTB minus sebesar -5,19 persen.” Angka kontraksi ekonomi provinsi tersebut merupakan rata-rata kontraksi ekonomi seluruh kabupaten/kota di NTB,” ungkapnya.

Untuk tingkat kabupaten/kota di NTB, Lombok Utara dan Lombok Barat angka kontraksi tertinggi yaitu masing-masing -7,44 persen dan -7,04 persen. Sedangkan kontraksi pertumbuhan ekonomi Lombok Timur hanya -3,10 persen. Itu artinya Lotim merupakan daerah dengan kontraksi ekonomi terendah dari seluruh kabupaten/kota di NTB.” Kontraksi ekonomi di Lotim disebabkan karena menurunnya pertumbuhan di tiga sektor yang memiliki kontribusi paling besar dalam perekonomian daerah yaitu sektor pertanian yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar -0,30 persen, sektor perdagangan -3,65 persen, dan sektor kontruksi sebesar -14,83 persen,” bebernya.

Sektor pertanian mengalami pertumbuhan minus dikarenakan beberapa komoditas dominan mengalami penurunan produksi. Padi menurun akibat adanya pergeseran waktu tanam. Sedangkan jagung menurun 35 persen , cabe rawit 45 persen dan tembakau virginia 24 persen. Menurunnya produksi tembakau virginia disebabkan berkurangnya luas lahan dan menurun hampir 50 persen dibandingkan dengan tahun 2019 lalu.”Sedangkan untuk sektor perdagangan, nilai tambah yang muncul dipengaruhi nilai jual yang dihasilkan sektor-sektor lain. Sementara itu, sektor konstruksi menurun karena aktivitas konstruksi pemerintah, baik APBD maupun APBN 2020 turun hingga 44 persen akibat pemangkasan anggaran,” tutupnya.

Terpisah, Kabag Protokol dan Komunikasi Setda Lotim, Iswan Rakhmadi, mengatakan hal sama. Ia menambahkan pertumbuhan ekonomi di 2020, Lotim paling terbaik dibandingkan dengan 10 kabupaten/kota lainnya di NTB meski angka laju pertumbuhan minus.” Pertumbuhan ekonomi kita yaitu berada di posisi -3,10 persen. Sehingga hingga kita dianggap paling terbaik termasuk juga di atas provinsi,” tambahnya.

Di tengah kondisi daerah yang sekarang ini menghadapi pandemi Covid 19 terang Iswan, kemandirian dan daya tahan masyarakat menjadi kunci utama sehingga perekonomian Lotim tidak terjun bebas seperti kabupaten/kota lainnya. Terutama sektor pertanian yang memiliki kontribusi besar dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi.” Begitu hanya juga dengan sektor pertambangan dan konstruksi yang tetap berjalan dengan baik. Di sektor konstruksi misalnya, meski di tengah pandemi masyarakat masih tetap bisa membangun entah itu bangun rumah , masjid dan lainnya. Artinya Lotim bisa unggul di tiga sektor itu karena tidak bergantung ke pihak lain. Sedangkan sektor lainnya anjlok. Misalnya pariwisata disebabkan karena tamu dari luar tidak bisa datang,” tutupnya.(lie/adv)