Pertanian NTB Dikucur Rp 319 Miliar

PRAYA-Direktorat Jenderal Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian RI, Hasil Sambiring mengaku bangga dengan kemajuan pertanian NTB saat ini.

Pujian ini dilayangkan Sambiring saat menghadiri acara Gebyar Perbenihan Ketahanan Pangan Nasional IV di Desa Puyung Kecamatan Jonggat Lombok Tengah, kemarin (19/7). Dikatakannya, NTB ini sebagai lumbungnya pertanian yang setiap tahun terus mengalami peningkatan. Tentunya, ini merupakan kebanggaan bagi pemerintah NTB pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. ‘’Dengan kemajuan di bidang pertanian yang mampu dikelola oleh masyarakat NTB, bisa dirasakan oleh rakyat Indonesia, yang ada di luar NTB,’’ katanya.

Untuk meningkatkan, sambung dia, hasil pertanian, baik padi, jagung, ataupun kedelai. Pemerintah setiap tahunnya terus menggelontorkan bantuan, baik berupa benih ataupun dana. Dimana untuk benih sendiri, saat ini sudah lebih dari 303 varitas yang sudah disiapkan pemerintah.

Setiap varitas tersebut disesuaikan dengan suhu atau cuaca di sekitarnya. Sehingga para petani tidak akan merasa kewalahan atau rugi ketika bercocok tanam. “Pemerintah telah menyiapkan ratusan jenis varitas yang bisa disesuai dengan kondisi lingkungan,” katanya.

Sebut saja di NTB ini, yang memiliki kelabilan tanah yang berbeda-beda. Para petani bisa memilih mana saja varitas yang sesuai dengan lingkungan setempat. Tentunya, persoalan ini dimengerti oleh para penyuluh pertanian lapangan (PPL).

Mereka diminta untuk lebh rajin turun ke lapangan memberikan sosialisasi dan pembinaan kepada petani. Dengan demikian, para petani paham dengan jenis varitas yang harus ditanam sehingga bisa menghasilkan laba lebih bisa terpenuhi. “Peran PPL harus dimaksimalkan. Semakin rajin PPL memberikan sosiliasi kepada para petani, maka varitas yang sudah disiapkan pemerintah bisa dipakai dengan sebaik-baiknya,” lanjutnya.

Lebih jauh Sambiring menyiggung soal anggaran. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mempersiapkan triliunan rupiah untuk mensukseskan pertanian. Di NTB sendiri, pemerintah telah mengucurkan anggaran sebesar  Rp 319 miliar. Besarnya anggaran ini diharapkan bisa dimanfaatkan instansi terkait di daerah. “Jika dilihat dari angka, itu sangat besar. Namun setelah di bagi ke masing-masing daerah, ternyata anggaran triliunan itu sangat sedikit, termasuk di NTB mendapatkan Rp 319 M,” sebutnya.

BACA JUGA :  Ekspor Produk NTB Masih Lewat Luar Daerah

Anggaran tersebut, lanjut Sambiring, diarahkan khusus untuk pertanian. Sehingga diharapkan harga benih jangan sampai mencekik petani. Pemerintah juga dalam menjaga kesetabilan harga di lpangan telah bekerjasama dengan aparat keamanan. ‘’Jika ditemukan ada para penjual yang menjual benih di atas ketentuan. Segera dilaporkan dan bila perlu izinnya segera dicabut,’’ seru Sembiring.

Sementara Gubernur NTB, TGH M Zaenul Majdi mengatakan, keberhasilan yang diraih NTB di bidang pertanian tidak terlepas dari ikhtiar, doa dan perjuangan petani. Tanpa adanya dukungan dan perjuangan para petani, tentunya apa yang menjadi keberhasilan pemerintah di bidang pertanian tidak akan terpenuhi.

Untuk diketahui lanjutnya, pemerintah secara kasat mata memang tidak berbuat turun langsung melakukan aktivitas di lapangan. ‘’Namun, pemerintah terus memantau dan mencarikan terobosan baru guna suksesnya pertanian,’’ katanya.

Dikatakan, jasa para petani dan pengusaha benih pertanian memiliki peran penting dalam membangun daerah ini. Sehingga sinergisitas antara petani dengan pemerintah harus benar-benar tercipta. Antara petani dengan pemerintah harus saling mengisi. “Alhamdulilah, kita di NTB ini tidak pernah kekurangan pangan. Bahkan jika pemerintah pusat terus menggenjot pertanian, kami yakin infor beras masuk ke Indonesia itu bisa ditekan,” ungkapnya.

Gubernur menjelaskan, ada tiga penyebab terjadinya konflik peradaban dunia. Diantaranya terjadinya perebutan sumber daya energi, seperti di Timur Tengah. Kedua, perebutan sumber air yang merupakan satu kebutuhan yang tidak bisa dipisahkan dengan manusia. Dan, yang terakhir adalah pangan. ‘’ Jika petani sudah gagal panen, maka itu akan berimbas kepada semua lini. Untuk itulah pemerintah daerah terus mengupayakan agar sektor pertanian sebagai sektor utama yang harus dibenahi tanpa meninggalkan sektor lain,’’ imbuhnya. (cr-ap)