Pertanian Menjadi Sektor Utama Pertumbuhan Ekonomi Provinsi NTB

Deputi Kepala Perwakilan BI NTB Winda Putri Listya pose Bersama dengan narasumber dan tamu undangan.

MATARAM – Pertanian menjadi salah satu sektor utama dalam pertumbuhan ekonomi di Provinsi NTB, tercermin dari pangsanya pada struktur ekonomi NTB. Di mana jumlah lapangan pekerjaan di sektor pertanian ini yang dominan dibandingkan sektor lainnya, dan daerah NTB menjadi salah satu daerah lumbung pangan Nasional.

“Sebagai salah satu sektor yang memiliki pangsa lapangan pekerjaan tertinggi, sektor pertanian dapat menjadi sektor utama dalam menjaga keselarasan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi NTB,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB Winda Putri Listya dalam keynote speech-nya pada kegiatan Disesminasi Laporan Perekonomian Provinsi NTB tahun 2024 di Gedung Sergabuna BI NTB, Rabu (43/7).

Hadir pada pertemuan tersebut sebagai narasumber, Kepala Bappenda NTB H Iswandi secara virtual memberikan pemaparan, Direktur Internasional Trade Analysis and Policy Studies FEM IPB University Dr Sahara dan Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN Dr. Yudhistira Nugraha. Hadir pula puluhan undangan dari unsur kepala OPD, pimpinan perbankan, dan unsur dari berbagai pihak terkait dan pelaku usaha.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTB Winda Putri Listya menyatakan bahwa prospek perekonomian global lebih tinggi dari prakiraan awal, seiring dengan membaiknya kinerja perekonomian India, Tiongkok dan Amerika Serikat. Di Tengah masih tingginya ketidakpastian global, perekonomian Indonesia tetap kuat dan mampu tumbuh 5,11% (yoy) pada triwulan I 2024. Demikian pula halnya dengan kondisi regional, stabilitas perekonomian NTB turut didukung oleh meredanya tekanan inflasi serta pertumbuhan ekonomi NTB yang mencapai 4,75% (yoy) pada triwulan I-2024.

Di sisi lain, kata Winda, kondisi PDRB per kapita Provinsi NTB menempati urutan ketiga terendah setelah Provinsi NTT dan Maluku. Ketergantungan yang cukup tinggi terhadap sektor pertambangan menyebabkan pertumbuhan ekonomi NTB cenderung belum inklusif. Tentunya, lanjut Winda, berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah untuk mengoptimalkan produksi pertanian. Mulai dari optimalisasi lahan, percepatan tanam, penggunaan bibit unggul, hingga penambahan alokasi pupuk subsidi. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Kepala Perwaklian Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry Arifsyah Harahap, bahwa Provinsi NTB tidak cukup ditopang oleh salah satu sektor saja, namun harus dilakukan diversifikasi sektor untuk menopang perekonomian daerah.

Winda berharap acara diseminasi dapat menjadi sarana menebar rasa optimis dan membangun persepsi positif kepada seluruh stakeholders dan masyarakat, sehingga kolaborasi dan kerja sama terus terjaga dalam mendukung pemulihan ekonomi, serta mencapai pertumbuhan yang lebih kuat dan berkelanjutan. 

“Oleh karena itu, Diseminasi Laporan Perekonomian di Provinsi NTB tahun ini mengangkat tema “Mewujudkan Stabilitas Pangan Masa Depan dengan Pertanian Berkelanjutan,” kata Winda. 

Kepala Bappeda Provinsi NTB H Iswandi menyatakan bahwa salah satu misi Provinsi NTB adalah menjaga kesinambungan pembangunan berkelanjutan. Hal ini bisa diraih dengan mendorong sektor pertanian di Provinsi NTB. Selain itu, melalui RKPD Provinsi NTB 2025, Pemerintah Provinsi menggalakkan berbagai program prioritas daerah pada sektor pertanian melalui sinergi antar OPD. Upaya dalam mendorong sektor pertanian berkelanjutan ini salah satunya dilakukan melalui program IPDMIP (Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program) yang bertujuan untuk mencapai keberlanjutan sistem irigasi kewenangan Pusat, Provinsi, serta Kabupaten dan telah dilaksanakan pada 4 Kabupaten, yakni Lombok Tengah, Lombok Timur, Dompu dan Kabupaten Bima.

Direktur Internasional Trade Analysis and Policy Studies FEM IPB University Dr Sahara memaparkan kondisi pangan secara global. Di mana pada negara berkembang sektor pertanian masih menjadi sektor utama yang menyumbangkan pertumbuhan ekonomi. Dari sisi domestik, Pemerintah terus mendorong sektor pertanian dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 sebagai landasan melalui peningkatan produktivitas sektor pertanian serta mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan.

“Ini diwujudkan dengan mengimplementasikan program pertanian ramah lingkungan dan pertanian rendah karbon,” ujarnya. 

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN Dr. Yudhistira Nugraha memaparkan tantangan dan peluang dalam mewujudkan pembangunan pada sektor pertanian. Adapun berbagai riset dan pengembangan teknologi terus diupayakan, utamanya di Provinsi NTB, seperti inovasi sistem pengairan presisi budidaya jagung di lahan kering, teknologi budidaya bawang merah dan bawang putih ramah lingkungan.

“Termasuk potensi rumput laut sebagai pakan, serta penyusunan dokumen Rancangan Peraturan Gubernur terkait Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI),” katanya. (luk) 

Komentar Anda