Pertamina Abaikan Keberadaan Pertamini

pertamini
BAHAN BAKAR : Salah satu Pertamini di Karang Genteng saat mengisi BBM ke kendaraan bermotor. (DEVI HANDAYANI/RADAR LOMBOK)

MATARAM – Maraknya penjual bahan bakar minyak (BBM) dengan branding nama Pertamini dan menggunakan cat warna brand Pertamina semakin menjamur. Penjualan BBM dengan branding Pertamini tidak hanya di pinggir jalan utama, melainkan sudah marak di jalan dalam perkampungan. Kondisi ini tentu saja sangat membahayakan masyarakat yang ada di tengah perkampungan. Hanya saja, pihak Pertamina dan pemerintah daerah justru mengabaikan dampak bahaya yang setiap saat bisa ditimbulkan dari keberadaan Pertamini tersebut.

Menurut salah satu masyarakat Dhini mengatakan keberadaan Pertamini tidak memiliki izin untuk berjualan dengan menggunakan perlengkapan seperti di Pertamina. Mengingat yang menjual juga tidak memiliki kemapuan untuk mengisi BBM, berbeda dengan di Pertamina. Ia juga tak menyetujui dengan banyaknya Pertamini masih membuka lapaknya di tengah-tengah permukiman masyarakat, karena hal ini sangat membahayakan.

BACA JUGA: Penjualan BBM di Pertamini Rugikan Pertamina ?

“Kalau saya ngga setuju sebenarnya ada Pertamini di dalam perkampunga. Tapi karena perkembangan zaman, aslinya sama saja dengan penjual bensin eceran, cuma  lebih berderajat, karena menggunakan mesin yang sama seperti di Pertamina,” kata Dhini kepada Radar Lombok, Sabtu (15/6).

Dini mengaku khawatir dengan keberadaan Pertamini di tengah permukiman masyarakat. Jika dilihat dari segi penggunaan mesin, Pertamini ini akan lebih rentan terjadi kecelakaan, mulai dari kebakaran hingga ledakan, baik bagi para pembeli maupun pedagangnya, sehingga perlu ada tindakan dan langkah nyata dari dari pemerintah daerah termasuk Pertamina terkait hal itu, agar mencegah kemungkinan tidak diinginkan oleh masyarakat.

“Apalagi kita tidak tau yang jual Pertamini ini punya skill apa ngga, dan menurut info mesin dipakai bukan dari Pertamina, sebenarnya lebih mengerikan,” ucapnya.

Senada dengan Dhini, Ika salah seorang masyarakat mengatakan dirinya lebih memilih mengisi BBM di Pertamina dibandingkan dengan Pertamini. Mengingat harganya pun tidak jauh berbeda, bahkan di Pertamina jauh lebih murah dan terjamin. Terlebih lagi mereka (Pertamini) juga tidak memiliki izin, untuk menjual dengan menggunakan alat yang mirip dengan di Pertamina.

“Kalau pikiran saya engga aman nanti bahaya. Kalau eceran yang pakai botol kan tidak tersimpan dalam mesin jadi mungkin lebih aman. Tapi kalau pakai mesin kalau meledak kena imbas kepada masyarakat,” katanya.

BACA JUGA: Pertamina Sebut Penjualan BBM Pertamini Illegal

Sementara itu, Sales Executive Retail Wilayah NTB PT Pertamina Sigit Wicaksono mengakui jika sekarang ini keberadaan Pertamini yang menjual BBM eceran, baik itu jenis, Premium, Pertamax dan Pertalite semakin banyak dan bahkan di dalam perkampungan permukiman warga. Hanya saja, Sigit mengaku tidak bisa menindak para penjual BBM dengan member branding Pertamini, meski secara ketentuan mereka menjual dan menggunakan branding Pertamina secara ilegal.

Sigit mengatakan jika keberadaan Pertamini ini merugikan Pertamina. Pasalnya, outlet penjual bensin eceran tersebut memakai atribut ala SPBU resmi Pertamina. Hal ini merugikan Pertamina dengan penggunaan brand dan dianggap illegal, meski produsen BBM plat merah ini menilai Pertamini melakukan plagiat atas merk penjualan BBM Pertamina.

“Posisi merugi secara langsung tidak, kalau soal brand dari sisi kami itu jelas ilegal,” tegas Sigit.

Menurut Sigit, pihaknya tidak dapat menindak tegas para pelaku usaha BBM eceran tersebut untuk tidak berjualan, karena sudah menjadi ranah pemerintah daerah yang menertibkannya. Hal ini juga perlu dukungan dari pemerintah daerah, mengingat banyak Pertamini berjualan di tengah tengah masyarakat, tidak hanya di kota Mataram saja tetapi beberapa kabupaten/kota di NTB.

Bahkan sebagain dari mereka menggunakan merk Pertamina, kendati hal ini merugikan bagi pihaknya. Karena khawatir jika konsumen mengasosiasikan kualitas di pertamini sama dengan di SPBU. Mengingat hal ini tidak dapat menjaminkan bagaimana kualitas dari BBB yang dijual pengecer.

“Akibatnya, terjadi kerancuan. Kios pengecer BBM pinggir jalan dianggap milik Pertamina. Padahal itu bukan lembaga penyalur resmi dari kami,” ujarnya. (cr-dev)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid