Pertama di NTB, Murid Diajarkan Jujur

Industri keuangan dalam hal ini lembaga perbankan dituntut oleh otoritas dalam hal ini Bank Indonesia untuk memperluas jaringan layanan transaksi non tunai. Sebagaimana diterapkan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 19 Mataram bagi seluruh murid dan guru di sekolah tersebut.

 


LUKMANUL HAKIM – MATARAM


 

Sejak tahun ajaran baru 2016/2017, SD Negeri 19 Mataram mulai menerapkan belanja secara non tunai bagi seluruh murid dan guru tanpa kecuali. Berawal dari banyaknya laporan dari murid yang mengalami kehilangan uang belanja yang diberikan oleh orang tua mereka, membuat pihak SDN 19 Mataram mencarikan solusi.

Di bawah pimpinan Henny Leonita selaku Kepala SDN 19 Mataram lalu membuat kotak yang ditaruh di pintu masuk kantin  sekolah. Langkah ini  sebagai awal permulaan melakukan uji  coba kantin kejujuran.

Dalam penerapan kantin kejujuran tersebut setelah berjalan sekian lama, ternyata jumlah uang yang terkumpul di kotak tersebut semakin banyak.  Melihat antusias murid, akhirnya Henny Leonita menjalin kerja sama kemitraan dengan salah satu perbankan untuk menerapkan belanja secara non tunai.  "Selain memberikan edukasi kepada murid  tentang  belanja non tunai, juga mengajarkan murid tentang kejujuran," kata Henny Leonita saat ditemui di ruang kerjanya Sabtu lalu  (8/10).

Sebanyak 521 murid mulai dari kelas I hingga kelas VI memanfaatkan layanan uang non tunai untuk belanja jajan dan makanan di kantin sekolah yang dikelola oleh koperasi sekolah.

Dalam membelanjakan uang non tunai, orang tua murid  memberikan jatah selama enam hari sesuai dengan keinginan wali murid. Wali murid memasukan uang ke dalam kartu dengan cara diserahkan ke sekolah dan selanjutnya sekolah yang menyetor ke lembaga perbankan atau tempat yang sudah ada jalinan kerja sama antara perbankan tersebut.

Murid mendapatkan kartu yang mirip kartu ATM dari bank yang bermitra dengan sekolah.  Setiap belanja, maka murid tinggal menggesekkan kartu tadi.  Untuk membantu murid bertransaksi, di kantin sekolah ini sudah dilengkapi alat transaksi.  Praktis, di kantin ini tidak perlu ada petugas setiap saat mengecek barang-barang yang diambil murid. 

Dengan menerapkan belanja jajan  menggunakan layanan non tunai, wali murid merasakan langsung dampak positifnya. Ternyata selain lebih efisien. Jika dalam 6hari murid  harus menghabis Rp 60 ribu, namun ketika menerapkan uang non tunai, justru hanya habis dibelanjakan  kurang dari Rp 50 ribu.

Selain lebih efisien, jajanan  yang dibeli terjamin higienis, sehat dan bergizi. Pasalnya jika berbelanja di luar kawasan sekolah tidak bisa dijamin kesehatan dan higienitasnya. Termasuk  juga dari kandungan zat pewarna berbahaya yang merugikan kesehatan anak didik.

"Alhamdulillah selain mendidik anak jujur, pemanfaatan layanan uang non tunai ini juga untuk mengajarkan anak sejak usia dini lebih kenal dengan transaksi non tunai," ujarnya.(*)