Persiapkan Diri 8 Bulan, Berharap Bisa Kembali jadi Juara

Keterbatasan fisik tak menjadi penghalang untuk berprestasi. Terpenting, ada tekad, kemauan dan kesungguhan. Fitri Jumiati  membuktikan itu.

————————

AHMAD YANI — MATARAM

————————-

Penampilan Fitri Jumiati peserta lomba MTQ tingkat Nasional ke-26 cabang tilawah banyak menarik perhatian penonton. Selain, karena Fitri-sapaan akrabnya– merupakan kontingen tuan rumah NTB,dia  memiliki suara  merdu dan khas.  Penonton pun seolah – seolah  larut  dengan tilawah gadis  berusia 20 tahun itu.

Fitri pun menjadi peserta andalan kontingen NTB untuk bisa menjuarai cabang tilawah tuna netra. Bukan tanpa alasan, Fitri menjadi andalan kontingen NTB. Pasalnya, pada MTQ ke- 25 tahun 2014 yang dilangsungkan di  Batam, Kepulauan Riau, Fitri berhasil keluar sebagai pemenang tilawah tuna netra.

Pada MTQ tingkat nasional ke-26, menjadi penampilan Fitri yang kedua kalinya. Dengan modal tersebut serta dukungan penuh dari penonton sebagai tuan rumah, Fitri makin menunjukkan kemahiran dan kepawaian dalam tilawah Alqur'an. Dengan kepercayaan diri dan optimisme, Fitri  yakin bisa mengunguli peserta lainnya serta mengulang kembali prestasi diraih dalam MTQ ke-25 di tahun 2014 lalu. " Apalagi ada langsung dukungan orang tua dan keluarga besar menjadi spirit dan semangat bagi Fitri untuk tampil terbaik lagi. Insya Allah optimis bisa menang,'' katanya kepada Radar Lombok Rabu kemarin (3/8).

Berstatus sebagai juara pada MTQ sebelumnya,  Fitri  tidak jumawa. Bahkan dia semakin tertantang mempertahakan status juara itu. Dia termotivasi  mempersiapkan diri  lebih  baik dengan   terus berlatih untuk bisa meningkatkan kemampuan tilawahnya. Dia mempersiapkan diri selama 8 bulan. ''Tiap hari selalu berlatih,'' tuturnya.

Fitri bertekad,  keterbatasan fisik yang dimilikinya tidak menjadi penghalang  untuk bisa berprestasi dan mengharumkan NTB di pentas nasional. Gadis asal Bima menuturkan, dirinya mulai belajar Tilawah Alqur'an sejak usia 6 tahun.  Karena memiliki keterbatasan penglihatan, Fitri lebih banyak belajar tilawah dengan metode mendengarkan. Hampir tiap hari Fitri selalu mendengarkan dan mengulang tilawah Alqur'an yang didengarkan melalui rekaman kaset.  Metode lain yang  digunakan belajar dengan menghafal. Tak hanya didengarkan, Fitri pun berusaha menghafal Alqur'an.Alhasil, dengan perjuangan tak kenal lelah, pantang putus asa, istiqomah, bersungguh – sungguh dan berkemauan keras, Fitri mampu menghafal Alqur'an. " Alhamdullilah, saya hafal Alqur'an 20 juz," ungkapnya didampingi ibu dan keluargnya yang  turut langsung menyaksikan penampilan gadis tersebut.

Dia mengatakan, di lomba tilawah Alqur'an yang menjadi penilaian dari para dewan hakim adalah suara, tajwid, fasih, hafalan dan lainnya. Karena itu, untuk bisa tetap menjaga intonasi suara dirinya memiliki sejumlah pantangan. Misalnya, jangan makan makanan berminyak, pedas serta jangan sering makan mie instan dan lainnya. Terutama, beberapa hari sebelum perlombaan digelar. Dirinya pun harus banyak istirahat, serta tidak melakuka  aktivitas berat. "Termasuk kita harus sering mengulang hafalan yang ada," tuturnya.

 Pemprov NTB menjanjikan bonus bagi juara yakni uang Rp 100 juta dan umroh. Sementara Pemkab Bima menjanjikan Rp 25 juta. Fitri berharap bisa menjadi juara dan mendapatkan hadiah yang dijanjikan pemprov itu.  Fitri mengatakan, jika menang akan menggunakan  bonus tersebut untuk membahagikan ibunya dengan memberangkatkannya naik haji. " Kalau menang, ingin pergi berhaji bersama ibu dengan uang bonus itu," ucap lirihnya.

Fitri berharap, Pemprov NTB tidak memberikan janji semata. Karena pada MTQ ke- 25 di Batam, kontingen NTB yang keluar sebagai juara dijanjikan bonus Rp 75 juta. Fitri pun keluar sebagai juara tilawah tuna netra. Namun, bonus diberikan pemprov hanya sebesar Rp 15 juta.

" Kecewa juga sih mas, tidak sesuai janji," pungkasnya.(*)