Pernikahan Dini, Saat Pacaran di Sayang Setelah Menikah di Tendang

Ilustrasi Pernikahan Dini
Ilustrasi

PENAMPILAN memukaui disuguhkan oleh  para siswa SMA 4 Praya yang berjumlah empat orang dalam mengkampanyakan bahaya pernikahan dini, bagaikan seorang yang sudah bersuami isteri perlahan mereka tampilkan puluhan atraksi sehingga ribuan masyarakat sontak kagum dengan cerita yang mereka bawa.


M.Haeruddin-Praya


PRAYA—Menikah di usia dini membuat hubungan pasangan suami isteri (Pasutri) ini retak,aksi kekerasan sering diterima oleh bunga dari suaminya yang bernama jamal, mereka baru satu bulan melangsungkan pernikahan namun setiap harinya selalu bertengkar.

“Coba pas kita pacaran kamu selalu mesra dan menyayangi saya, tapi sekarang engkau jadikan saya bagai babu dan semua kesalahan engkau lemparkan kepada saya, bahkan kamu tidak saying lagi sama saya lebih baik sekarang kita bercerai,”ujar bunga sembari disambut gelak tawa dari para tamu undangan dalam acara Pencanangan bulan bhakti gotong royong masyarakat ke 14, Jambore kader Posyandu dan hari keluarga berencana nasional ke-24  di tingkat kabupaten Lombok Tengah, Sabtu kemarim (29/7)

TREATRIKAL BAHAYA PERNIKAHAN DINI SISWA SMAN 4 PRAYA
TEATRIKAL:Siswa SMA 4 Praya saat menampilkan teatrikal yang memukau para penonton dalam acara yang di gelar di Lapangan Alun- alun Praya, Sabtu kemarin (29/7) (M.Haeruddin/RadarLombok)

Sikap bunga lantas membuat jamal menjadi marah dan tidak di hargai sebagai seorang suami, tamparan keras dan kata- kata kasar terlontar di mulut jamal sehingga membuat bunga menangis dan berulang kali meminta untuk bercerai. “Kamu tidak berbakti sama suami dan tidak menghargai saya dan kamu juga tidak mesra,”ungkap Jamal.

Percekcokan pasangan suami isteri yang belum dikaruniai anak tersebut lantas di mediasi oleh ketua RT setempat, namun ego jamal tetap tidak pada menghargai orang yang lebih tua.”Dia ikut campur saja dengan toak ney masalah keluarga kita,”ujar jamal.

Pak RT kemudian menjelaskan jika permasalahan rumah tangga yang terjadi kepada pasutri tersebut karena mereka melakukan pernikahan di usia dini, dimana dalam usia yang masih 15 tahun tersebut mereka belum memiliki kesiapan mental. “Makanya jangan menikah usia dini jadi begini permasalahanya, semua mau diselesaikan dengan kekerasan,”ungkap Pak RT.

Oleh pak RT, Pasangan suami isteri tersebut kemudian dijelaskan terkait pernikahan yang sudah diatur dalam Undang-undang No 1 tahun 1974  tentang Perkawinan Bab 2 pasal 7 ayat 1 berbunyi jika Perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur  16  tahun.

Selanjutnya dalam  Peraturan Menteri Agama No.11 tahun 2007 Tentang Pencatatan Nikah Bab IV pasal 8 berbunyi Apabila seorang calon sumi belum mencapai umur 19 tahun dan seorang calon isteri belum mencapai umur 16  tahun, harus mendapat dispensasi dari pengadilan. ”Now agek endek mek pagah doing becat- becat mele merarik,”ujarnya dibarengi gelak tawa dari penonton.

Kedua pasutri tersebut kemudian disarankan agar tidak memiliki anak terlebih dahulu, pasalnya diusia dini jika ibu melahirkan tersebut sangat rentan dengan kematian ibu melahirkan.”Mumpung kalian masih umur muda jadi kalau bisa untuk momongan di pending dulu agar tidak berbahaya,”ujarnya.

Setelah mendengar nasehat tersebut, pasutri yang sebelumnya bertengkar hebat dan ingin bercerai itu langsung kembali harmonis, keduanya kembali menjalin hubungan suami isteri yang aman dan damai. “Amun meno the te ulek arik solah,”tuturnya mengakiri aksi teatrikal tersebut.

Aksi tersebut menceritakan bagaimana danfak negative yang sering terjadi di tengah masyarakat yang disebabkan oleh pernikahan dini, masyarakat disarankan agar sebelum memantapkan hubungan ke pernikahan agar tetap mengacu kepada aturan yang berlaku sehingga tidak terjadi kasus kekeasan terhadap keluarga (KDRT) maupun angka kematian ibu melahirkan yang lebih banyak di Lombok Tengah. (*)

BACA JUGA :  Mengintip Usaha Ternak Kambing Jelang Hari Raya Kurban