Permintaan Oksigen Meningkat

TABUNG OKSIGEN: Tampak salah satu karyawan di Depo Pengisian Oksigen di Mataram sedang merapikan tabung-tabung oksigen yang terus mengalami peningkatan permintaan layanan pengisian oksigen. (FAISAL HARIS/RADAR LOMBOK)

MATARAM — Oksigen menjadi salah satu kubutuhan yang sangat fital di Rumah Sakit sebagai alat bantu pernapasan bagi pasien. Terlebih pada masa pandemi Covid-19 saat ini, jumlah permintaan oksigen mengalami peningkatan di Indonesia, tak terkecuali di NTB.

Salah satu pelaku industri tabung oksigen di Kota Mataram, CV. Bayu Bangun Sakti (BBS OXYGEN) mengakui dampak terjadinya pandemi Covid-19, membuat jumlah permintaan oksigen mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya.

“O ya ada perningkatan. Dari kapasitas stok oksigen yang terpasang itu 220 ton perbulan, maka pada saat kondisi normal serapan total (permintaan) hanya mencapai 80 sampai 100 ton saja perbulan. Tapi sekarang ini sudah mencapain 120-130 ton perbulan,” kata Direktur CV. Bayu Bangun Sakti (BBS OXYGEN), Max Dewa, saat ditemui Radar Lombok diruang kerjanya.

Melonjaknya permintaan tersebut, masih dinominasi dari rumah sakit di NTB. Hanya beberapa persen saja untuk kebutuhan industri. Berbeda hal dengan di Jawa, serapan permintaan oksigen didominasi oleh industri dan kontruksi yang mencapai 70 persen setiap bulan. Sedangkan untuk kebutuhan kesehatan hanya 30 persen saja.

“Kita di daerah ini tidak ada kontruksi, atau industri besar. Makanya terbalik, permintaan rumah sakit yang paling besar. Kalau permintaan diluar rumah sakit hanya beberapa saja. Pasokan kita di rumah sakit mencapai 60 sampai 70 persen jika kita lihat dari daya serap pasar, baru sisanya yang lain,” ungkapnya.

Meski saat ini permintaan mengalami peningkatan, sambungnya, namun dari sisi ketersediaan stok oksigen setiap bulan masih aman. “Kalau kita di NTB, karena wilayah kerja kita mencakup wilayah NTB saja, maka untuk stok oksigen masih aman dan tidak ada masalah sampai saat ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut Max Dewa menegaskan bahwa ketersediaan stok oksigen ditempatnya setiap bulan tetap ready sebanyak 220 ton. “Kalau standar oksigen kita disini cair liquid oksigen. Karena liquid oksigen, maka satuan yang kita pakai kilogram. Dan stok kita setiap bulan terpasang sebanyak 220 ton,” tegasnya.

BACA JUGA :  Ratusan Ribu Siswa Tidak Miliki NISN

Dari jumlah stok 220 ton tersebut, tidak semua habis terserap, meski permintaan mengalami perningkatan. “Makanya tadi saya bilang, meski sekarang ini sudah mencapai 120-130 ton perbulan dari kapasitas kita 220 ton. Tetapi kita masih saving sebanyak 80 ton. Itu makanya saya bilang kita disini (NTB) nggak apa-apa, masih normal saja,” tegas Max Dewa.

Kalaupun nanti terjadi lonjakan kasus positif Covid-19 di NTB, maka untuk ketersediaan stok oksigen dipastikan masih bisa dapat dikendalikan. “Taruh sekarang kita naik sampai 150-180 ton, kan masih ada 60 ton stok kita perbulan. Itu makanya saya katakan disini nyaris aman untuk oksigen cair,” tegasnya.

Disamping itu, pihaknya juga masih bisa melakukan penambahan kapasitas stok dari jumlah stok yang ada saat ini. Ketika nanti sangat dibutuhkan, bisa digenjot mencapai 300 ton perbulan. “Saya masih bisa optimalkan. Karena saya juga masih bisa menambah kapasitas. Kalau sekarang stok kita masih aman, ngapain kita tambah. Pada prinsipnya amanlah di NTB ini,” tegasnya.

Disebutkan, sejauh ini rumah sakit di NTB yang paling banyak melakukan permintaan oksigen yakni RSUD Provinsi NTB dan RSUD Kota Mataram. “Paling banyak masih di Mataram, RSUD Provinsi dan RSUD Kota Mataram. rumah sakit lain ada yang minta, tapi tak sebesar dua rumah sakit tersebut,” sebutnya.

Untuk rumah sakit milik pemerintah di NTB, sebagian besar memang disuplai pihaknya, termasuk untuk tangki dan tabungnya, difasilitasi sepenuhnya. “Jadi kita yang backup dengan tangki. Sekarang sudah tidak menggunakan tabung lagi. Kalau ada permintaan, kita akan bawakan oksigennya menggunakan mobil tangki ke tangki penampungan,” jelasnya.

“Semua RSUD sudah saya berikan fasilitas tangki oksigen. Jadi sudah tidak pakai tabung lagi. Hanya kebutuhan-kebutuhan lain yang masih menggunakan tabung. Paling sekitar 1 persen saja yang masih menggunakan tabung oksigen,” sambungnya.

BACA JUGA :  Puncak Gerhana Bulan Total di NTB Pukul 19.18 Wita

Untuk harga, pihaknya juga sudah melakukan MoU dengan semua rumah sakit. “Jadi harga oksigen untuk semua rumah sakit pemerintah harganya tetap sama. Baik itu rumah sakit di pulau Lombok maupun di pulau Sumbawa. Mungkin yang agak berbeda hanya biaya transportasinya saja. Karena kita ini kan daerah kecil, tidak seperti di Jawa,” ungkapnya.

Untuk harga, bagi masyarakat umum diluar rumah sakit yang telah melakukan kerjasama, harganya juga relative murah. “Tabung ukuran kecil untuk isi ulang yang 1 meter kubik harganya Rp 30 ribu. Sementara kalau untuk harga tabung ukuran kecil isi 1 meter kubik hanya Rp 900 ribu,” jelasnya.

Disampaikan, saat ini tabung oksigen di perusahaannya masih dijual bebas. Tidak seperti di Jawa, untuk bisa membeli tabung oksigen, warga harus mengantongi surat sakit dari dokter. “Tapi di sini enggak, masih dijual bebas. Dan kita di sini masih cukup kok jika ada permintaan,” terang Max Dewa.

Tepisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Provinsi NTB, dr. HL. Hamzi Fikri juga menegaskan bahwa sampai saat ini untuk ketersediaan oksigen di NTB masih normal disemua Faskes. Bahkan di Indonesia, soal kesiapan oksigen masih bisa terpenuhi.

“Tapi pada intinya untuk kebutuhan oksigen di NTB kita masih bisa backup-lah. Apalagi dirumah sakit kita rata-rata sudah menggunakan oksigen sentral. Artinya semua merata sudah menggunakan oksigen liquid. Karena kalau sentral itu bisa diatur,” ungkapnya.

Meski di NTB masih aman, namun pihaknya tetap mengikuti instruksi Presiden, antisipasi kalau ada peningkatan kasus. “Sekarang ini kita dorong pihak rumah sakit untuk meningkatkan kapasitas ketersediaan tempat tidur hingga 50 persen. Meski tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) pasien Covid di NTB masih dibawa 50 persen. Namun intinya kalau soal oksigen amanlah,” tutupnya. (sal)