Perlahan Tumbuh, Bahan Baku Melimpah

Sejumlah desa di Lombok Barat mengembangkan camilan dodol. Usaha ini perlahan tumbuh meski masih berskala rumahan.

 


Rasinah Abdul Igit- Giri Menang


 

Beberapa perempuan paruh baya tengah sibuk mengeringkan buah nangka menggunakan nampan besar. Di Desa Suranadi Kecamatan Narmada, Nangka tidak mengenal musim. Nangka juga menjadi tanaman hampir sebagian besar warga yang mengelola hutan sekitar. Mahsun (45) adalah pengusaha menengah yang menekuni bisnis dodol nangka sejak sekitar 5 tahun yang lalu. Ia sengaja memilih bahan nangka karena memang bahan bakunya cepat didapat. Selain itu, ia juga ingin memberikan jaminan rasa dari buah asli terhadap setiap pembeli yang datang ke rumah sederhananya. Mahsun kini memiliki 5 karyawan yang rata-rata anggota keluarganya. Omset mencapai jutaan rupiah meski baru dipasarkan di pasar-pasar tradisional sekitar, “ Wisatawan yang kebetulan berkunjung ke Taman Suranadi juga kadang mampir ke sini. Mereka borong dodol untuk oleh-oleh. Mereka mengaku ketagihan,” ungkap Mahsun ketika ditemui Radar Lombok belum lama ini.

Mahsun bersemangat sekali dengan usahanya ini. Suranadi adalah kawasan wisata yang selalu ramai dikunjungi wisatawan baik lokal, nasional maupun mancanegara. Jualan pariwisata setempat adalah alam. Selain indah, Suranadi dan sebagian besar wilayah Desa Sesaot dikenal sebagai penghasil buah. Kedua desa ini terletak di pinggiran hutan. Ada berbagai macam buah di pasar lokal saat ini, sebagian besar dari kedua desa seperti rambutan, manggis, pisang, pepaya dan nangka. Bahan baku buah yang melimpah inilah yang menyebabkan bisnis dodol buah berkembang. “ Saya hanye heran saja, kok kita senang memburu dodol luar yang sebenarnya secara rasanya tidak terlalu istimewa. Kami membuat berbagai macam dodol dan laku keras,” ungkap laki-laki satu anak ini.

Menjauh dari Suranadi, tepatnya di Desa Langko Kecamatan Lingsar, juga merupakan desa yang dulunya dikenal sebagai pusat dodol buah. Meski kini tidak seramai dulu, aktivitas membuat dodol masih dilakukan.Tidak hanya dodol, mereka juga membuat manisan berbahan dasar durian yang menjadi kekayaan alam hutan mereka. “ Sebenarnya tinggal dihidupkan lagi oleh pemerintah. Warga juga kan ingin dibina. Kan sayang potensi kampung seperti ini tidak dihidupkan lagi,” ungkap Sah (40), warga setempat beberapa waktu lalu.

Ini baru di wilayah utara yang akrab dengan bahan baku buah. Perkembangan usaha dodol  menggunakan bahan rumput laut juga terlihat bagus di selatan terutama di Kecamatan Lembar.“ Saya beli rumput laut langsung ke petani di Sekotong,” Ungkap Hartini (45), perempuan pembuat dodol yang rumahnya tidak jauh dari Pelabuhan Lembar.

Hartini bersama beberapa anggota keluarganya memproduksi dodol rumput laut.  Ia bercerita banyak tentang usahanya yang sukses setelah mendapat pelatihan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (DKP) beberapa tahun lalu. Sepulang pelatihan, ia mengaku langsung action. Ia manfaatkan potensi rumput laut yang banyak tersebar di Lembar, Sekotong dan sekitarnya. Pada hari-hari normal, Hartini bisa menghasilkan puluhan kilogram dodol rumput laut dengan omzet yang menggiurkan. “ Kalau dodol rumput laut produksi perusahaan lain biasanya hanya mengambil sari rumput lautnya saja, kemudian dicampur dengan bahan-bahan lain. Kami malah memakai semuanya termasuk ampas rumput laut. Jadi kami lebih kaya dalam hal serat dan kandungan gizi,” ungkapnya.

Dodol rumput lautnya semakin hari semakin dikenal. Saat ini saja, ia banyak mendapat tawaran pengiriman dodol ke Bali. Hanya karena volume produksi yang dinilai masih rendah serta tidak terlalu pede dengan kemasan sederhana, ia belum bisa menyanggupi permintaan itu. Ia juga memproduksi manisan tomat dan krupuk rumput laut serta berbagai macam olahan lainnya. Saat bulan puasa ini, ia mengaku nilai penjualannya meningkat.(*)

BACA JUGA :  KTP dan akta Kelahiran Diserahkan Langsung