Perkuat Posisi, Petarung NTB Deklarasi Bergabung dengan PPN

Petarung NTB
DEKLARASI : Pengurus Petarung Rakyat NTB mendeklarasikan untuk bergabung dengan PPN, dihadiri Kepala Badan Pangan Nasional RI Arief Prasetyo, Ketua Presidium PPN Yudianto Yosgiarso dan Kepala BKP NTB Abdul Aziz, Sabtu (25/6).

PRAYA –  Asosiasi Perhimpunan Peternak Unggas (Petarung) Rakyat NTB mendeklarasikan diri untuk bergabung dengan Pinsar Petelur Nasional (PPN), Sabtu (25/6) di Hotel Raja, Kuta, Mandalika, Lombok Tengah. Deklarasi penggabungan Petarung Rakyat NTB dengan PPN dihadir langsung Kepala Badan Pangan Nasional RI Arief Prasetyo Adi, Ketua Presidium PPN Yudianto Yosgiarso, Kepala Dinas Ketahanan Pangan (DKP) NTB Abdul Aziz, Ketua Wilayah PPN NTB Christoper dan pengurus lainnya.

Kepala Badan Pangan Nasional RI Arief Prasetyo Adi mendukung dan menyambut baik dengan bergabungnya Petarung NTB dengan organisasi lebih besar secara nasional, yakni ke Pinsar PPN. Bergabungnya Petarung NTB ke Pinsar PPN, bisa memiliki satu informasi, terkait dengan kebutuhan telur ayam, daging, DOC bagi peternak unggas yang ada di NTB. Selain itu, juga ketika ada persoalan mengenai harga dan lainnya, Pinsar PPN bisa bersama pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah.

“Badan Pangan Nasional bersama Pinsar PPN dan pihak terkait lainnya sekarang ini lagi menyusun Harga Pokok Produksi (HPP) telur. Harga telur ayam ini akan disesuaikan dengan mengkuti kenaikan harga pakan. Sekarang lagi dihitung ulang HPP telur apakah di angka Rp 22 ribu- Rp 24 ribu per kg di produsen dan di tingkat konsumen di angka Rp 26 ribu – Rp 28 ribu per kg sudah cukup ideal,” kata Arief Prasetyo.

Ketua Presidium PPN Yudianto Yosgiarso mengatakan peternah itu mempunyai tugas mulia, tidak hanya sebagai pengusaha saja, tapi juga menjadi pahlawan pangan. Hanya saja, terkadang peternak ini terkadang kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Termasuk ketika, harga pangan tinggi, dan saat bersamaan harga telur ayam hancur, menyebabkan peternak rugi besar. Ini terjadi hampir satu tahunan di 2021 lalu.

“Kami ingin kondisi peternak di NTB tetap bisa berlangsung dengan baik, maka harus kompak, dengan bergabung dengan PPN. Kita tidak perlu melawan integrator (pabrik), karena percuma melawan mereka, karena mereka menguasai semua lini. Tapi dengan secara bersama-sama dan kompak melalui PPN, peternak bisa eksis bertahan,” kata Yudianto Yosgiarso.

Dikatakannya, kalau integrator membuat skema perusahaan vertikal, mereka memiliki semua usaha dari hulu ke hilir, bahkan punya gerai –gerai di daerah, dan itu tidak bisa dilarang. Namun, sebagai peternak kecil dan lokal, harus bersama-sama bangkit dan kompak dengan membangun usaha secara horizontal, sehingga bisa memiliki posisi tawar di pemerintah dan juga produsen pakan yang menjadi integrator tersebut.

“Kita di PPN ini ingin membangkitkan perusahaan integrasi horizontal sesama peternak rakyat, dengan bersatu. Selain itu, peternak di NTB yang tergabung dengan PPN ini harus membentuk lembaga koperasi, agar integrator tidak bisa bermain-main untuk menaikkan harga pakan sesukanya,” ucap Yudianto.

Sementara itu, Ketua Petarung Rakyat NTB dan Ketua DPW PPN NTB Christoper mengatakan tantangan peternak unggas di NTB ke depannya semakin besar, seperti kenaikan harga pakan yang terus melambung tinggi, tidak sebanding dengan harga telur yang justru turun. Seperti yang terjadi dan dialami peternak unggas pada tahun 2021 lalu, peternak ayam petelur merugi besar.

“Tantangan peternak petelur ayam kedepanya semakin besar, maka dengan bergabungnya Petarung Rakyat NTB ke PPN bisa sebagai penyambung informasi sesama peternak, baik itu mengenai kebijakan pemeritah, mengenai harga dan lainnya,” kata Christoper. (luk)