Perjuangan Sumirah, Warga Miskin Mengalirkan Air dari Gunung untuk Warga (2)

Niat tulus Samirah alias Amaq Isah untuk membantu warga guna mendapatkan air berbuah manis, meski perjuangan selama dua tahun masih belum rampung. Pipa baru terpasang sekitar 6,5 km.

 


Jalaludin–Lombok Timur


 

Hutan di kawasan Gunung Malang Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur tidak ada lagi pepohonan besar.  Yang ada hanya rumput dan ilalang kering di lahan tandus yang hanya disiram air hujan.  Hutan ini kini menjadi hutan kemasyarakatan (HKm) dan digarap oleh  360 KK warga Desa Gunung Malang.

Kawasan HKm seluas 360 ha yang diapit lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Gerhan ini dulunya merupakan lahan yang rapat dengan pepohonan.  Belakangan pepohonan banyak ditebang.  Lantaran hampir seluruh masyarakat setempat menggantungkan kehidupan mereka pada kayu bakar. Tak heran bila sepanjang mata memandang nampak hamparan rumput kering tandus dan bahkan berdebu. Warga kesulitan mendapatkan air bersih maupun untuk mengairi lahan pertanian mereka.

Inilah yang membuat hati Sumirah  miris dan berinisiatif untuk memperjuangkan air bisa dialirkan  dari kaki Gunung Rinjani. Kelak bisa menghijaukan lahan yang kini tandus tersebut, disamping juga untuk kebutuhan air bersih warga kampung dan desanya.

Hasil penjualan ladang lalu dibelikan pipa air yang kualitasnya bagus dan hanya dipergunakan untuk perusahaan pengeboran. Tak heran bila guna mendapatkan pipa ini ia keliling Lombok tetapi tidak ditemukan. Sumirah lalu memutuskan ke pabrik pipa di Surabaya, Jawa Timur. Pertama ia membeli pipa 4 inch sepanjang 1 km dengan harga Rp  400 ribu per buah dimana satu buah sepanjang  6 meter. Sehingga untuk membeli pipa ini dibutuhkan biaya lebih dari Rp 66 juta.

Tahap kedua, dia  membeli pipa karet 1 inch dengan harga Rp  22,5 ribu per meter sepanjang 3 km dengan harga Rp 67,5 juta. Sampai disini, uangnya habis lantaran juga diperguanakan untuk membiayai pemasangan dengan biaya mencapai Rp 50 juta.

Meski sudah banyak dana yang dikeluarkannya, air yang dialirkan baru sampai di  pemakaman Sakra atau 4 km dari sumber air di atas Gunung Sakra. Sampai disini, ia tak lagi memiliki biaya. Dua bulan lamanya, tidak ada aktivitas pemasangan pipa.  Sumirah dan istrinya hanya mampu membeli selang ukuran seperempat inci sepanjang 300 meter. Setelah itu tak lagi mampu membeli pipa atau selang untuk membawa air sampai ladang garapannya yang masih sekitar 1 km lagi.

Sumirah  harus rela berjalan kitar 1 km lebih  demi  mengambil air  untuk kebutuhan sehari-hari ataupun  mengairi tanamannya di ladang garapannya. “ Sekitar satu tahun lebih saya tepaksa ambil air ke atas sekitar 1 km  dengan berjalan kaki,” katanya.

Ratusan juta uang telah dihabiskan namun air hanya terbuang percuma, lantaran pipa belum cukup guna dapat mengalirkan air sampai ke pemukiman dan lahan garapan warga. Di saat kesulitan itu,  datang aktivits dari Lembaga Alam Nusantra sebuah lembaga yang selama ini konsen untuk memperjuangkan kelestarian hutan dan alam. “Awalnya saya ditawari untuk dibelikan selang atau pipa tetapi saya tolak, lantaran saya belum kenal. Saya takut akan merugikan mereka serta tidak mau ada tendensi di belakang nantinya,” tuturnya. 

Namun karena terus didesak, ia terpaksa menerima bantuan dari Lembaga Alam Nusantara yang dibawakan oleh ketuanya Syaiful Gawah, berupa selang ukuran seperempat inci sepanjang 300 meter.  Air pun bisa dialirkan dari pemakaman Sakra  sampai di bawah Gunung Malang.

Lokasinya bisa dijangkau dengan kendaraan atau motor. Banyak warga memanfaatkannya  untuk mengambil air baik bagi kebutuhan hidup maupun untuk menyiram tanaman mereka.

Meski hanya menggunakan selang seperempat inci, namun air yang mengalir cukup keras lantaran dialirkan dari ketinggian ratusan meter. Beberapa bulan kemudian, Lembaga Alam Nusantara kembali datang memberikan pinjaman sebesar Rp 22,5 juta untuk membeli 500 meter pipa 1 inci guna menggantikan selang seperempat inci yang diberikan sebelumnya.  Sekitar 4 bulan kemudian kembali ia dapat mengusahakan pembelian pipa ukuran 1 inc sepanjang 2 km  dan ukuran ¼ inch sepanjang 1 km dan 2 unit tandon air plastik yang dapat menampung air sebanyak 5.500 liter. “Dua bak ini saya beli dengan harga Rp 8,6 juta,” ungkapnya. Dua bak ini kemudian dipasang sebagai bak pembagi. Nantinya dari Gunung Malang, air dibagi ke warga di HKm dan pemukiman di Gubuk Baru di Permatan dan Kampung Empat Are.

Selama dua tahun lebih Sumirah berjuang untuk menurunkan air dari atas Gunung Sakra, upayanya ini belum sepenuhnya berhasil, lantaran air belum menjangkau semua lahan HKn yang dihajatkan dan juga warga pemukiman di Gubuk Baru dan Empat Are dan Dusun Leper seperti direncanakan. Masih dibutuhkan sekitar 5 km lagi pipa untuk bisa menjangkau Gubuk Baru dan Empat Are.  Ia berharap kelak ada pihak yang bersedia membantu  pengadaan pipa k baik dari kalangan swasta maupun pemerintah. Jika ia seorang diri saja mampu mengusahakan pipa sepanjang sekitar 6,5 km dengan biaya ratusan juta, maka ia yakin bahwa masih banyak orang dan lembaga yang lebih mampu darinya untuk membantu dalam pengadaan pipa bagi kebutuhan warga setempat.  (bersambung)