Perjuangan M Naufal Gifary Effendi Peraih Medali Emas IFAC di Jepang

Perjuangan M Naufal Gifary Effendi Peraih Medali Emas IFAC di Jepang
PRESTASI: M Naufal Gifary Effendi (kiri) foto bersama di dekat poster yang didesainnya di International Festival of Art and Culture di Jepang. Naufal meraih medali emas pada ajang ini. (Naufal For Radar Lombok)

Satu lagi, pelajar NTB membanggakan daerah bahkan negara. Dialah Muhammad Naufal Gifary Effendi  siswa SMAN 1 Mataram yang berhasil unjuk prestasi di Jepang.


NASRI BOEDJANA—MATARAM


Kebahagiaan terpancar dari wajah Muhammad Naufal Gifary Effendi. Rasa syukur terus dilontarkannya. Bagaimana tidak, menjelang HUT Kemerdekaan RI, dia berhasil mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional. Naufal sapaan akrabnya,  membawa pulang medali emas pada ajang International  Festival of Art and Culture di Jepang yang berlangsung  pada tanggal 8 Agustus sampai 12 Agustus 2017 lalu.  Dia menjadi terbaik pada lomba  desain poster digital.

Naufal menjadi wakil Indonesia setelah mengikuti   Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2016 lalu di Manado. Naufal kala itu yang merupakan perwakilan  NTB berhasil meraih medali emas.  “ Jadi sebelum ikut lomba di Tokyo itu, ikut di FLS2N dulu,” katanya  kepada Radar Lombok Kamis kemarin (24/8).

Tidak mudah menjadi yang terbaik  pada ajang International Festival of Art and Culture di Jepang ini. Dia harus bersaing dengan perwakilan 20 negara. Lawan-lawannya adalah menjadi yang terbaik di negaranya.

Bagi Naufal, ikut lomba di luar negeri dan  bersaing dengan peserta dari banyak negara butuh perjuangan keras. Dia harus mampu beradaptasi segera di lingkungan sekitarnya agar bisa berkonsentrasi menghadapi lomba.

Naufal mengaku konsentrasinya sempat terganggu. Gara-gara dia kesusahan mencari tempat makan hala dan mencari tempat salat di Tokyo. Naufal sempat gelisah. Namun karena ingat tengah membawa nama baik bangsa, Naufal berusaha fokus.  “Kesulitan saya selama saya  di Tokyo itu pertama, sulitnya mencari makanan halal dan mencari tempat salat,” kenangnya.

Kesulitan yang dihadapinya, segera diatasi. Misalnya, saat  makan, dia   selalu hanya memilih ikan untuk dikonsumsi. Begitu juga saat salat, selalu diupayakan agar bisa menunaikannya. Saat dalam perjalanan, dia salat di bus. “Tapi saya juga bersyukur karena bisa mengatasi kesulitan  saya dengan baik, sehingga tidak berpengaruh pada lomba yang saya jalani,” katanya.

Saat lomba, Naufal memilih tema “Kita Butuh Keluarga Hebat, Bukan Gadget Hebat”.

Tema yang diangkatnya tersebut, dianggap memiliki makna yang mendalam terhadap generasi sepertinya. Kegigihannya dan perjuangannya selama empat hari di Tokyo tidak sia-sia, desian poster dari tema yang diangkat dinilai tim juri sebagai yang terbaik.

Naufal tidak menyangka dia akan terpilih menjadi pemenang. Bahkan saat pengumuman pemenang, dia sempat gemetaran. Begitu namanya disebut sebagai pemenang, Naufal seperti tidak percaya. Naufal baru benar-benar tersadar sebagai pemenang setelah pejabat dari  Kedutaan Besar RI untuk Jepang mendatanginya dan mengucapkan selamat. Ucapan selamat itu langsung disambutnya dengan gembira. “Saya  sangat bangga setelah saya dinyatakan berhak  mendapat medali emas, ”  kisah siswa   kelas XII jurusan MIPA ini.

Menurut Naufal, dirinya tidak mengalami kesulitan berarti dalam mendesian poster lomba itu. Desain menjadi hobinya. Teman-temannya di sekolah mengetahui kemampuan Naufal ini. Saat aktif di OSIS, oleh teman-temannya dia dipercaya mendesain berbagai  baliho dan poster kegiatan akan diselenggarakan  di sekolah maupun di luar sekolah.(*)