Perjuangan Guru Honorer Mengabdi Di Pulau Terpencil

Sehari Digaji Rp 10 Ribu, Nyambi Jualan Sayur

Perjuangan Guru Honorer Mengabdi Di Pulau Terpencil
GURU HONORER: Susi dan Rumakyah, dua guru honorer di SDN 5 Pemongkong, melintasi dermaga di wilayah Jerowaru saat pulang dari tempatnya mengajar di Gili Beleq. (IRWAN/RADAR LOMBOK)

Dunia pendidikan di Indonesia seperti tak henti-hentinya dirundung berbagai permasalahan. Jaman semaju ini, ternyata masih ada guru, walaupun guru honorer yang mendapatkan gaji jauh dari kata layak. Padahal, lokasi guru honorer ini mengabdi juga tidak main-main, di pulau terpencil.


JANWARI IRWAN – LOTIM


HARI itu, kumandang suara adzan dzuhur baru usai dari sebuah masjid yang terletak di tengah-tengah sebuah pulau kecil, Gili Beleq, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Pada waktu bersamaan, para murid SDN 5 Pemongkong di pulau itu juga lebih awal pulang. Demikian para guru yang mengajar di sekolah ini.

Hanya saja, para guru tidak bisa langsung pulang ke rumah masing-masing, yang rata-rata berada di daratan Pulau Lombok. Mereka harus menunggu jemputan perahu yang biasa digunakan setiap hari oleh guru-guru untuk menyeberang dan mengajar di sekolah-sekolah yang ada di Gili Beleq.

Jumlah guru yang mengajar di Gili Beleq ada sebanyak 18 guru, tersebar di SDN 5 Pemongkong, dan sekolah satu atap (Satap)-nya, dengan jumlah murid sekitar 100 orang.

Dari jumlah guru sebanyak itu, beberapa diantaranya adalah guru honorer. Seperti Susi Susfaili, asal Labuhan Haji, yang kini mengajar di SDN 5 Pemongkong. “Saya memilih Gili Beleq sebagai tempat mengajar, karena di sekitar rumah kami sudah tidak ada sekolah yang kosong. Sehingga kami putuskan ke sini,” katanya mengawali percakapan dengan Radar Lombok.

Untuk menuju tempatnya mengabdi, Susi mengaku dia harus menunggu perahu jemputan para guru, atau mencari tumpangan perahu milik nelayan yang kebetulan hendak menyeberang ke Gili Beleq. “Kami setiap hari melalui dermaga ini, dan harus menunggu jemputan perahu. Kalau tidak ada jemputan, ya kami menggunakan perahu nelayan,” kata Susi.

Dia menjadi guru honorer di SDN 5 Pemongkog sejak tahun 2013 lalu. Kala itu dia baru lulus kuliah, dan sedang membutuhkan pekerjaan. Sehingga meskipun lokasinya mengajari cukup jauh dari rumahnya di Labuhan Haji. Namun itu harus dilakukan demi mendapatkan pekerjaan, sekaligus untuk mengabdikan ilmunya yang didapat dari perguruan tinggi.

Karena itu, setiap hari Susi harus rela berangkat pagi-pagi sekali, agar sampai di SDN 5 Pemongkong tepat waktu. Hanya saja, perjuangan berat yang dilaluinya itu ternyata tidak sebanding dengan hasil (gaji) yang didapatkan. “Sejak tahun 2013 saya mengajar, saya hanya mendapat honor sebesar Rp 10 ribu perhari. Jelas uang sebanyak ini tidak sesuai dengan pengeluaran saya sehari-hari,” ujarnya pasrah.

Karena itu, untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia dan guru-guru honorer lainnya terpaksa harus memutar otak, membawa barang dagangan, untuk kemudian dijual kembali kepada masyarakat di Gili Beleq. Dagangan yang dibawa seperti kue, buah-buahan, dan sayur-sayuran.

”Karena di Gili Beleq ini kan jauh dari pasar. Tentu masyarakat setempat akan senang kalau dibawakan barang dagangan seperti buah-buahan dan sayur- sayuran. Jadi kadang saya berpikir juga, saya ini guru atau penjual sayuran,” ujarnya seraya tertawa pahit.

Sejak memilih profesi menjadi guru, dan mengajar di tengah-tengah pulau terpencil seperti Gili Beleq, banyak kendala atau halangan yang dia temui. Namun itu semua dia jalani dengan penuh kesabaran, dengan harapan pemerintah suatu saat akan melihat perjuangannya bersama guru-guru honorer lainnya.

“Kalau berbicara kendala, tentu banyak sekali. Apalagi pada saat sudah di tengah laut, tiba-tiba turun hujan bercampur angin. Kita hanya bisa pasrah, dan menyerahkan nasib kepada Tuhan,” paparnya.

Kisah serupa juga dituturkan Rumakyah, rekannya sesama guru honorer, juga asal Labuhan Haji, yang telah mengajar selama 4 tahun di SDN 5 Pemongkong. Dia juga mengaku tidak mendapatkan upah layak seperti guru-guru honorer lain di daratan Lombok.

“Padahal, jarak tempuh yang kita lalui setiap hari cukup jauh. Honor yang kita terima sejak mengajar hanya Rp 10 ribu perhari. Tapi Alhamdulillah, honor kita sekarang sudah naik menjadi Rp 13 ribu perhari,” ucapnya senang.

Kedepan, Susi dan Rumakyah berharap kepada pemangku kebijakan, untuk memperjuangkan nasib para guru honorer seperti mereka yang mengabdi di pulau terpencil ini dengan upah yang layak, dan manusiawi.

“Biar bagaimanapun, guru honorer tugasnya lebih berat dari pada PNS. Sehingga saya berharap ada kebijakan yang lebih menguntungkan kepada para guru honorer,” harap Rumakyah. (*)