Perjuangan Dibalik Prestasi Juara Nasional Bumdes Lendang Nangka

Desa Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) berhasil membanggakan NTB, khsusunya Kabupaten Lotim di kancah nasional. Dimana belum lama ini Desa Lendang Nangka dinobatkan sebagai desa terbaik untuk pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diselenggarakan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transimigrasi (KemenDes PDTT).

 


M.GAZALI – LOTIM


 

MESKI berada di daerah pinggiran utara, dan jauh dari pusat Ibukota Kabupaten Lotim, Kota Selong, namun suasana dan panorama Desa Lendang Nangka begitu bersih dan asri, dengan lingkungan yang terkelola baik. Memasuki desa ini, para pengunjung dijamin bakal betah berlama-lama. Bagaimana tidak, bentang alam yang masih alami dan belum tercemar polusi udara seperti di perkotaan, dengan sekelilingnya adalah hamparan persawahan, pegunungan dan pohon-pohon yang rindang, menjadikan hawa desa sejuk dan segar.

Namun siapa bakal menyangka, kalau Desa Lendang Nangka sekarang menjadi pembicaraan masyarakat se Indonesia. Semua itu tak lepas dari prestasi yang telah dicapai, berhasil menjuarai Lomba BUMDes tingkat nasional. Prestasi ini didapatkan Desa Lendang Nangka, atas upaya Pemerintahan Desa-nya yang mampu mengelola potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di desa itu.

Dibalik prestasi nasional yang ditoreh desa ini, tentu tak lepas dari sosok Kepala Desa Lendang Nangka, Lalu M. Isnaini. Kades satu ini mungkin patut untuk ditiru para Kades yang ada di lotim. Dikenal kalem, dan tak banyak bicara, namun dibalik itu ternyata banyak memiliki ide cermerlang, terobosan, inovasi dan berbagai gagasan.

Sadar akan potensi SDA dan SDM yang ada di desanya, Isnaini selama tiga tahun menjabat Kades Lendang Nangka berhasil membuat sejumlah inovasi, untuk memberikan perubahan bagi desanya, dan buktinya kini juga telah diakui pemerintah pusat.

Dikisahkan, keberadaaan BUMDes peninggalan Kades Lendang Nangka periode sebelumnya, dijadikan sebagai motor penggerak untuk mengelola potensi yang dimilik Desa Lendang Nangka. Melalui BUMDes ini, berbagai program pun dicetuskan, seperti  mengelola sampah menjadi pupuk, pengelolaan sumber mata air menjadi PAMDes, koperasi simpan pinjam, dan penyewaaan Hand Tractor. “Dari beberapa unit usaha yang kita kelola di BUMBes itu dinilai pusat  telah berhasil, khususnya terkait manejemen dan pengelolaanya,” ungkap Isnaini.

Dikatakan, BUMDes Lendang nangka berhasil terpilih sebagai  juara satu tingkat nasional untuk kategori inovasi. Proses penilaian dilihat dari perjalanan BUMDes,  dan sejumlah inovasi yang dikelola.

Berbagai unit yang dikelola BUMDes lanjutnya, kini terus berkembang sejak dia menjabat sebagai Kades. Misalnya pengelolaan sampah. Untuk pengelolaan sampah, pemerintah desa menyiapkan lahan seluas 5 are yang dimanfaatkan sebagai tempat mengolah sampah.

Kesuksesan program pengelolaan sampah ini, tak lepas peran dan tingkat kesadaran masyarakat yang cukup tinggi. Dalam membangun kesadaran masyarakat itu, tentu tidak mudah kalau tanpa ada keinginan dan tekad yang kuat dari aparat desa. Untuk itu, mereka tidak pernah patah semangat dalam memberikan sosialiasi ke masyarakat, agar tidak membuang sampah sembarangan. “Kita berdayakan masyarakat, tapi semua itu butuh proses,” terangnya.

Selain usaha pengelolaan sampah, unit usaha lain yang dikelola BUMDes Lendang Nangka adalah pengelolaan sumber mata air. Dimana untuk memenuhi kebutuhan air bersih secara merata kepada ratusan kepala keluarga yang ada di Desa Lendang Nangka, sumber mata air yang ada di desanya itu dijadikan unit usaha PAMDes.

Pengelolaan PAMDes ini, masyarakat selanjutnya dikenakan tarif Rp. 200  perkubik. Pendapatan dari PAMDes ini sebagian dimasukkan ke kas desa, diserahkan ke masjid, biaya operasional, dan sebagian disisihkan juga ke BUMDes. “Air ini sumber kehidupan. Keberadaanya tidak hanya dimanfaatkan untuk manusia saja, tapi juga mahluk yang lain. Sekarang  bagaimana semua pihak bisa mengelola air ini,” ujar Isnaini.

Unit usaha lain yang dikelola BUMDEs, yakni usaha simpan pinjam dan penyewaan hand tractor. Dimana untuk penglolaan unit usaha simpan pinjam memang dihajatkan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan permodalan, terutama kelompok unit usaha yang ada di desa itu. Bahkan saat ini unit simpang pinjam yang awalnya bermodalkan Rp 80 juta ini telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. “Masyarakat merasa terbantu dengan keberadaan unit usaha simpan pinjam yang dikelola BUMDes Lendang Nangka ini,” tuturnya.

Kesimpulannya, berbagai jenis program yang dikelola BUMDes Lendang nangka, sebagian besar manfaatnya sudah bisa dirasakan masyarakat. Manfaat  terbesar yang dirasakan yakni keberadaan PAMDEs. Dimana sebelum sumber air ini dikelola oleh BUMDes, kebutuhan air ini seringkali menimbulkan masalah. Namun pesoalan itu sekarang tidak terjadi lagi, karena kebutuhan air bersih sebagian besar sudah merata  dirasakan masyarakat.

“Semua memang harus lewat proses dulu. Kami memulai dengan melibatkan semua elemen, mulai dari lembaga desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama kita libatkan untuk berembuk,” sebutnya.

Diakui, tidak semua  inovasi yang dicetuskan bisa berjalan mulus. Dibalik itu pasti ada saja kendala. Namun bagaimana menjadikan kendala itu sebagai penyemangat untuk melewati bantu sandungan. “Semua kita saling berbagi, dan saling tukar pikiran. Alhamdulillah, kita bisa berhasil menjadi  juara nasional BUMDes kategori inovasi,” tutupnya. (*)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid