Peredaran Buku “Porno”, Dinas Dikbud Harus Bertanggungjawab

Peredaran Buku Porno
DITARIK : Seorang warga Lombok Timur memperlihatkan buku Mulok berisi pantun porno dan pelecehan terhadap perempuan yang beredar di sekolah-sekolah kemarin. (Janwari Irwan/Radar Lombok)

SELONG – Kalangan DPRD Kabupaten Lombok Timur mengecam keras keteledoran Dinas Pendidikan dan Kabudayaan Lombok Timur atas beredarnya buku muatan lokal yang mengandung unsur porno dan pelecehan terhadap perempuan di sekolah-sekolah Lombok Timur.

BACA : Buku Mulok Lecehkan Perempuan Bikin Marah Warga

Ketua Komisi 4 DPRD Lombok Timur Lalu Hasan Rahman mengatakan, beredarnya buku yang mengandung unsur porno dan pelecehan terhadap perempuan ini membuat dunia pendidikan tercoreng. Buku ini belum melewati kajian namun bisa beredar dengan bebas.” Saya minta secepatnya buku-buku ini ditarik. Jangan sampai ada buku seperti ini lagi,” katanya kepada Radar Lombok kemarin (8/10).

Sebelum diedarkan, seharusnya buku muatan lokal dikaji dan dietelaah oleh Dinas Pendidikan. “ Jadi buku ini dikaji dulu oleh para pemerhati dan komponen pendidikan lainnya. Ini kan buku yang dibaca anak-anak,” tegasnya.

Ia menyayangkan isi buku berupa pantun namun isinya kalimat-kalimat cabul dan merendahkan martabat perempuan. Seharusnya untuk pelajar, isi buku berupa hal-hal baik yang menjadi pembelajaran hidup. “ Sekali lagi saya minta ini dievaluasi. Jangan sampai ini terulang lagi,” tegasnya.

Ketua Komisi 2 DPRD Lombok Timur, Murnan, mengatakan hal yang sama. Ia meminta buku secepatnya ditarik dari sekolah. Dampak buku sangat besar sekali.” Jika buku ini sangat penting untuk digunakan, sebaiknya direvisi dulu. Tapi kalau tidak sebaiknya ditarik dan ini harus menjadi pelajaran bagi dinas,” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur Lalu Suandi mengatakan, buku kontroversial ini sebetulnya belum beredar luas. “Pada saat buku ini baru sampai ke sekolah, dari sekolah melapor langsung ke kita. Kemudian saya langsung meminta untuk ditarik, jadi belum sempat dibaca oleh anak-anak, dan jumlahnya tidak banyak,” katanya.

Buku terlebih dahulu harus diverifikasi oleh dinas untuk mencegah adanya konten seperti yang ada saat ini. “Jadi kalau ada buku yang masuk ke sekolah harus lolos verifikasi, tetapi buku ini tidak lolos, makanya kita minta segera ditarik,” jelasnya.

Sebagaimana pemberitaan sebelumnya, buku muatan lokal berupa kumpulan pantun Sasak yang dianggap berkonten porno tengah menjadi perbincangan warga Lombok Timur. Lebih miris lagi, buku ini sudah menyebar di sekolah-sekolah dan menjadi bacaan siswa. Kecaman datang dari berbagai pihak dan menuntut pihak terkait menarik peredaran buku yang tidak mendidik ini.

Di media sosial, sampul buku berikut isinya diunggah pertama kali oleh seorang pemerhati budaya, Lalu Safarudin Aldy. Buku muatan lokal pantun Sasak ini berisi sejumlah pantun yang dianggap jorok dan tidak sesuai dengan bacaan siswa. Misalnya salah satu pantun berbunyi “ Timaqne roah niniq datu, tolangne doang kandoqte ngandang. Timaqne solah jari bebalu, loang taine jaq wah leang”. Ada juga pantun serupa di lembar-lembar yang lain yang bernada melecehkan perempuan. Apenk marah dengan beredarnya buku ini. “ Ini budayawan otak porno. Para aktivis perempuan segera melaporkan. Ini jelas-jelas pelecehan terhadap kaum perempuan,” ungkapnya.

Akun “Muhammad Ridwan” bereaksi keras. Buku ini dianggap keterlaluan. “ Ini keterlaluan. Mau mendidik anak bangsa jadi porno,” tulisnya.

Pengurus Korps Alumni HMI Lombok Timur Suhirman Assugiani justru menyorot kenapa buku ini bisa beredar di sekolah tanpa diperhatikan kontennya. “ Kalau benar ini beredar di sekolah-sekolah, kita pidanakan Kadis dan Kabidnya,” ungkapnya marah.

Safarudin yang juga pimpinan Jaringan Aktivis Publik Daerah (Japda) ini menilai  buku muatan lokal ini ditulis oleh tiga orang masing-masing Lalu Sudirman, Bahri dan Lalu Ratmaja. Di dalamnya tertulis secara terang alat vital perempuan dan dinilai merendahkan martabat perempuan.

BACA JUGA: Waduh, Ribuan Pelamar CPNS tak Penuhi Syarat

“Kalau saya lihat buku ini sangat jauh dari nilai-nilai kearifan lokal. Pengarang buku ini tidak mengerti tentang sastra Sasak,” ungkapnya.

Isi buku tidak elok dan tidak mendidik. Ia juga meminta pejabat Dinas Pendidikan bertanggungjwab atas beredarnya buku ini. Seharusnya sebelum buku ini diedarkan, buku ini harus ditelaah oleh pihak yang ahli. “Pendidikan karakter yang menjadi tren dalam dunia pendidikan dan menjadi pondasi pembangunan serta mencerdaskan kehidupan bangsa adalah menjadi keharusan dalam menanamkan nilai – nilai luhur dan budi pekerti. Semua elemen berperan dengan kapasitas masing-masing, termasuk sastrawan atau para penulis,” tandasnya.(wan)

Bagaimana reaksi anda ?
  • Suka
  • Terhibur
  • Sedih
  • Marah
  • Bosan
  • Takut