Belajar di Teras, Perbaikan SDN 6 Pohgading Diusulkan ke Pusat

BELAJAR : Siswa SDN 6 Pohgading terpaksa belajar di teras sekolah karena  sekolah belum diperbaiki setelah rusak akibat gempa tahun 2018 lalu. (M. Gazali/Radar Lombok)

SELONG–Pemkab Lombok Timur memberi perhatian terhadap sejumlah sekolah yang rusak akibat gempa tahun 2018 yang sampai saat ini belum tersentuh program perbaikan. Di antaranya SDN 6 Pohgading Kecamatan Pringgabaya. Diberitakan sebelumnya, murid di sekolah ini masih belajar di teras sekolah karena ruang kelas mereka masih belum diperbaiki.

Untuk perbaikan sendiri Pemkab Lotim telah mengajukan data jumlah sekolah yang rusak ke pemerintah pusat untuk mendapatkan anggaran perbaikan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kadis Dikbud Lotim, Izzuddin, Kamis (21/4). “Setelah kita pelajari, dan tanyakan langsung ke bidang terkait di Dikbud, semua sekolah baik itu di jenjang SD maupun SMP yang rusak berat sudah diajukan proposalnya ke pemerintah pusat,” ungkap Izzuddin.

Anggaran perbaikan sekolah yang telah diusulkan ke pusat ini terangnya, nantinya akan masuk melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

BACA JUGA :  Jabatan Lowong di Pemkab Lotim Diisi Melalui Seleksi Terbuka

Bahkan pemerintah pusat telah melakukan survei. Selain itu pihaknya juga akan tetap intens mengawal agar usulan perbaikannya bisa segera terealisasi. “Insyaallah setelah lebaran kita akan silaturahmi kembali ke kementerian terkait dengan membawa arsip proposal yang ada,” imbuhnya.

Ketika ditanya apakah perbaikannya itu bisa dilakukan di tahun ini, Izzuddin mengatakan untuk sementara ini masih belum bisa dipastikan. Yang pasti pihaknya akan berupaya semaksimal mungkin.” Mudahan setelah kita tanyakan nanti kita bisa mendapatkan kepastian,” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala SDN 6 Pohgading Lalu Sudi mengatakan kerusakan sekolahnya mengharuskan murid belajar di teras sekolah. Ruang kelas rusak parah bahkan rata dengan tanah dan belum dilakukan perbaikan.

BACA JUGA :  Direktur PDAM Lotim Dituntut Mundur

Sekolahnya itu memiliki enam ruang kelas dan satu ruang guru. Setelah diguncang gempa, tersisa tiga ruangan. Dari tiga ruang tersisa, satu ruangan dimanfaatkan untuk guru, dan dua ruang lainnya digunakan belajar siswa kelas lima dan enam.”Sedangkan untuk siswa kelas 2, 3 dan dan 4 mereka terpaksa harus belajar di teras sekolah secara berdampingan. Dan mereka belajar tanpa menggunakan pembatas. Dengan kondisi tersebut jelas sangat tidak nyaman,” jelas Sudi.

Kerusakan ruang kelas ini sangat mempengaruhi keberlanjutan aktivitas belajar-mengajar di sekolah tersebut. Tidak sedikit orang tua yang enngan menyekolahkan anaknya di sekolah ini.” Karena dilihat kondisi kita tidak memiliki ruang belajar, wali murid memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah lain,” tutupnya.(lie)