Perbaikan Rumah Korban Banjir di Gunung Sari dan Batulayar belum Jelas


GIRI MENANG – Perbaikan rumah warga yang menjadi korban banjir bandang di Kecamatan Gunung Sari dan Batulayar, Lombok Barat tahun lalu hingga kini belum jelas.

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat belum mendapatkan kepastian dari pusat terkait dana perbaikan rumah korban banjir yang dijanjikan. Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid, menyebut dari hasil koordinasi dengan pemerintah pusat terhadap usulan perbaikan rumah korban banjir bandang, hingga saat ini pemerintah pusat belum memberikan kepastian anggaran. “Belum ada jawaban pasti dari pusat, dari anggaran prioritas yang diajukan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),” kata bupati.

Terakhir pihaknya berkomunikasi dengan pemerintah pusat bersama beberapa anggota DPR-RI beberapa pekan yang lalu. Namun pemerintah pusat belum juga memberikan kepastian anggaran.” Kalau anggaran dari saya, pasti saya bangun. Tapi ini kita masih berjuang,” tegasnya.

Banjir akhir tahun lalu mengakibatkan 95 unit rumah rusak. Ada juga Rumah Tahan Gempa (RTG) yang rusak. Diperkirakan nominal bantuan yang akan diterima masing-masing pemilik rumah sama dengan nominal pembangunan RTG disesuikan dengan kategori kerusakan. Hanya saja pihaknya akan mengusulkan dulu itu kepada pemerintah pusat apakah disetujui atau tidak.“Kita sesuai dengan ini (kategori) yang kita akan usulkan, seperti yang dulu walaupun uang perbaikanya bukan untuk RTG tetapi untuk perbaikan akibat banjir,” jelasnya.

Kabid Kedaruratan BPBD Lobar, Hartono Ahmad, para korban menolak untuk direlokasi ke tempat yang lebih aman. “Relokasi tetap diusahakan, tapi kan ini keinginannya masih bermacam-macam. Ada yang maunya di dekat rumah mereka yang dulu, jadi nggak bisa kita tentukan,” ungkapnya belum lama ini.

Upaya membujuk warga supaya mau direlokasi tengah dilakukan. Mereka menolak dipindah ke tempat yang jauh dari tempat rumah mereka saat ini. “Ya targetnya, kalau bisa tahun 2022 ini sudah selesai (relokasi). Tapi tergantung sikon besok,” ungkapnya.
Karena untuk kesekian kalinya, kata dia, BPBD telah mengusulkan proposal perbaikan tersebut ke pusat. Di mana data yang dimiliki pihaknya, total rumah yang rusak berat akibat bencana itu kurang lebih berjumlah 95 unit. Termasuk juga Rumah Tahan Gempa (RTG) yang juga banyak terdampak. “Ada yang tinggal di Huntara, ada beberapa itu yang belum punya rumah,” ungkapnya.

Namun, dari data yang telah dikirimkan oleh BPBD tersebut akan kembali diverifikasi ulang oleh pemerintah pusat. Pihak BNPB telah turun untuk verifikasi sebanyak dua kali.””Memang yang dulu kita usulkan itu, untuk satu rumah yang rusak berat itu normalnya Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Kalau perbaikan itu ada teegantung kerusakannya. Jadi nanti pusat yang menominalkan lagi dari data laporan kami,” terangnya. (ami)

Fahmy/Radar Lombok
F-RUSAK: Rumah rusak akibat bencana banjir bandang di Kecamatan Batulayar awal bulan Desember tahun lalu.

Baca Juga :  Pemda Menangkan Dua Sengketa Aset