Peras Para Pemilik Toko, Preman Ini Dibekuk

DIAMANKAN: W (46), preman pemeras toko di seputar Jalan Brawijaya, Cakranegara, Kota Mataram saat diamankan di Polresta Mataram. (IST/RADAR LOMBOK)

MATARAM–Tim Puma Polresta Mataram mengamankan pria berinisial W (46) karena diduga kerap memeras pemilik toko di seputar jalan Brawijaya, Cakranegara, Kota Mataram.

W diamankan usai dilaporkan oleh salah seorang pemilik bengkel bernama Wilson (29). Korban terpaksa melaporkan pelaku karena sudah tidak tahan dimintai uang dengan berbagai alasan. Jika tidak diberikan pelaku mengancam akan merusak bengkel korban. “Pemerasan ini berlangsung selama tiga tahun terakhir. Pelaku datang sekali seminggu. Karena merasa takut dan terancam korban terpaksa memberikan uang ke pelaku. Kisarannya Rp 50 ribu,” kata Kasat Reskrim Polresta Mataram Kompol Kadek Adi Budi Astawa yang dikonfirmasi, Sabtu (10/7).

BACA JUGA :  Polres Lotim Klaim Kasus Narkoba Menurun 

Selain korban Wilson, beberapa toko  lainnya juga kerap dimintai uang oleh pelaku. Kisarannya Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Dalam melakukan aksinya, pelaku juga terkadang membawa senjata tajam. Jika tidak langsung diberikan, maka senjata tajam tersebut digunakan untuk mengancam korban. “Saat kami tanyakan ke para pemilik toko awalnya mereka agak tertutup karena merasa takut tetapi pada akhirnya mereka mengaku kerap dimintai uang oleh pelaku,” ujarnya.

Polisi yang mendapatkan keluhan dari beberapa pemilik toko  kemudian melakukan pengintaian. “Kemarin pada saat meminta uang di  BRD Motor seketika itu langsung diamankan,” ujar Kadek Adi.

BACA JUGA :  Polda Periksa 9 Saksi Pelapor Kasus Penghinaan Terhadap TGB

Dari sana turut diamankan barang bukti berupa uang Rp 50 ribu dan sebuah senjata tajam berupa pahat. “Pelaku ini tercatat sebagai residivis. Pernah tersandung kasus narkotika, pencurian kendaraan bermotor dan kali ini pemerasan,” bebernya.

Atas perbuatannya, pelaku kini diamankan di Polresta Mataram. Terkait apakah uang hasil memeras ini pelaku gunakan membeli narkoba, Kadek Adi belum bisa memastikan. “Masih kita dalami. Kalau pengakuannya untuk kebutuhan sehari-hari,” tutupnya. (der)